FinanSaya.com – IHSG melemah di awal pekan pada perdagangan Senin pagi, 29 Juni 2026. Berdasarkan data pasar intraday di Google Finance, Indeks Harga Saham Gabungan bergerak di sekitar level 5.864 sampai 5.869, atau turun sekitar 0,45 persen hingga 0,54 persen pada awal perdagangan.
Pelemahan terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat, tetapi gagal mempertahankan posisi di zona hijau. Tekanan jual kemudian membuat IHSG berbalik arah dan bergerak di bawah level penutupan sebelumnya.
Tekanan di pasar saham Indonesia juga terjadi di tengah perhatian investor terhadap evaluasi MSCI. Sebagai informasi, MSCI memperpanjang peninjauan klasifikasi Indonesia hingga November 2026 dan menyoroti kekhawatiran investor internasional terkait transparansi struktur kepemilikan saham serta potensi praktik perdagangan terkoordinasi.
MSCI juga membuka kemungkinan penurunan klasifikasi Indonesia dari emerging market menjadi frontier market apabila perbaikan yang diminta belum memadai.
Di tengah IHSG melemah di awal pekan, lima saham perbankan besar ikut masuk zona merah. Saham yang melemah adalah BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BBTN.
Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA turun 2,02 persen ke level Rp6.050 per saham. BBCA sempat dibuka di Rp6.175, menyentuh level tertinggi Rp6.200, dan terendah sementara Rp6.025.
IHSG Melemah di Awal Pekan, Bank Besar Tertekan
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI melemah 0,70 persen ke posisi Rp2.850 per saham. Pada perdagangan pagi, BBRI dibuka di Rp2.880, dengan level tertinggi Rp2.890 dan terendah Rp2.830.
Salah satu saham lain yang turun saat IHSG melemah di awal pekan, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI yang turun 0,50 persen ke level Rp3.970 per saham. BMRI dibuka di Rp3.990, sempat menyentuh Rp4.010, lalu bergerak ke level terendah sementara Rp3.940.
Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI ikut melemah 0,60 persen ke posisi Rp3.300 per saham. BBNI dibuka di Rp3.340, dengan rentang perdagangan sementara di Rp3.270 sampai Rp3.350.
Sementara itu, saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BBTN turun 0,90 persen ke level Rp1.100 per saham. BBTN dibuka di Rp1.125, sempat bertahan di level tertinggi yang sama, sebelum turun ke level terendah sementara Rp1.095.
Bergeraknya lima saham bank ke zona merah menunjukkan IHSG melemah di awal pekan, terutama pada sektor perbankan. Meski begitu, pelemahan saham bank tidak membuat seluruh saham di Bursa Efek Indonesia bergerak negatif.
Selain itu, pergerakan rupiah masih menjadi faktor yang dipantau pasar. Data JISDOR Bank Indonesia menunjukkan kurs referensi rupiah berada di Rp17.868 per dolar AS pada 23 Juni 2026, melemah dibanding Rp17.819 per dolar AS pada 22 Juni 2026.
Sebelumnya, Bank Indonesia juga menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen pada 18 Juni 2026 sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi.
Baca Juga: IHSG Jatuh Lagi Setelah Gagal Tahan 6.200
Top Gainers Masih Bergerak Tajam
Di tengah kondisi IHSG melemah di awal pekan, sejumlah saham lain justru menguat cukup signifikan. Berdasarkan daftar Top Gainers Investing.com, beberapa saham yang masuk jajaran penguatan tertinggi antara lain Trust Finance Indonesia, Indo Oil Perkasa, Paramita Bangun Sarana, Multi Medika Internasional, dan Ever Shine Textile.
Saat IHSG melemah di awal pekan, saham Trust Finance Indonesia atau TRUS justru tercatat di Rp436 dengan kenaikan 24,57 persen. Indo Oil Perkasa atau OILS berada di Rp199 dengan kenaikan 19,88 persen. Paramita Bangun Sarana atau PBSA menguat 15,75 persen ke Rp845.
Multi Medika Internasional atau MMIX tercatat naik 12,77 persen ke Rp795. Sementara itu, Ever Shine Textile atau ESTI berada di Rp125 dengan penguatan 8,70 persen.
Perdagangan Senin pagi ini memperlihatkan dua arah pergerakan yang berbeda. Di satu sisi, IHSG dan saham bank besar masih berada dalam tekanan. Di sisi lain, sejumlah saham lapis kedua dan saham berkapitalisasi lebih kecil masih mampu mencatatkan penguatan tajam.
Data tersebut masih bersifat intraday, sehingga posisi IHSG melemah di awal pekan maupun pergerakan saham-saham tersebut masih dapat berubah hingga penutupan perdagangan. (Sol)




