FinanSaya.com – Hujan kritik terhadap kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 membuat FIFA kembali memberikan pembelaan terkait sistem penjualan yang dipakai untuk turnamen tersebut.
Federasi sepak bola dunia itu menilai penyesuaian harga diperlukan untuk menjaga nilai pasar, mengoptimalkan pendapatan, dan memastikan transaksi tiket tetap berada di kanal resmi.
Kontroversi muncul karena sistem penjualan tiket dinilai membuat biaya menonton pertandingan semakin mahal bagi suporter. FIFA beralasan kebijakan harga tidak dapat dilepaskan dari tingginya permintaan, ketersediaan kursi, serta kebutuhan menjaga pasar tiket tetap aman.
Dalam penjelasan resminya, FIFA menyebut pendekatan harga tiket Piala Dunia 2026 sejalan dengan tren industri olahraga dan hiburan. FIFA memakai variable pricing, yakni harga dapat disesuaikan sepanjang fase penjualan berdasarkan tinjauan permintaan dan ketersediaan untuk setiap pertandingan.
Meski begitu, FIFA membedakan sistem tersebut dari dynamic pricing otomatis. Dalam laman bantuan tiket resminya, FIFA menyatakan tidak menerapkan dynamic pricing karena harga tidak berubah secara otomatis.
Penyesuaian disebut dilakukan untuk mengoptimalkan penjualan, memaksimalkan kehadiran penonton, dan menjaga nilai pasar yang dianggap wajar.
Selain itu di tengah hujan kritik, FIFA juga menegaskan posisinya sebagai organisasi nirlaba. Menurut FIFA, 90 persen dari seluruh pendapatan yang dihasilkan organisasi tersebut didistribusikan kembali untuk mendukung perkembangan sepak bola global.
Hujan Kritik Datang dari Suporter dan Konsumen
Pembelaan itu belum menghentikan hujan kritik dari kelompok suporter dan organisasi konsumen. Football Supporters Europe dan Euroconsumers mengajukan keluhan resmi ke Komisi Eropa pada 24 Maret 2026.
Keduanya menuduh FIFA menyalahgunakan posisi monopolinya dalam penjualan tiket Piala Dunia 2026. Keluhan tersebut menyoroti harga yang dianggap berlebihan, proses pembelian yang tidak transparan, serta kondisi pembelian yang dinilai tidak adil bagi suporter Eropa.
Sejumlah media luar negeri melaporkan keluhan itu juga menyinggung harga tiket final di MetLife Stadium yang disebut mulai 4.185 dolar AS, jauh lebih mahal dibandingkan harga tiket final Piala Dunia 2022 di Qatar. Kelompok suporter juga menyoroti sulitnya mengakses tiket murah yang sebelumnya dipromosikan mulai 60 dolar AS.
Salah satu dari hujan kritik tersebut yang paling disoroti, yakni pada marketplace resmi FIFA. Euroconsumers menyebut pembeli diarahkan ke kanal resmi FIFA, sementara pembeli dan penjual sama-sama dikenakan biaya 15 persen.
Di sisi FIFA, marketplace resmi diposisikan sebagai cara membuat transaksi tiket lebih aman. FIFA memperingatkan tiket yang dibeli dari kanal selain FIFA.com/tickets berisiko tidak valid, terkena scam, atau dibatalkan tanpa pemberitahuan.
Baca Juga: Benarkah Sentimen Pasar Bisa Kalahkan Logika?
Resale Resmi Tetap Jadi Sumber Polemik
FIFA membuka Resale/Exchange Marketplace sebagai kanal resmi bagi pemegang tiket yang ingin menjual atau menukar tiket Piala Dunia 2026. Platform tersebut disebut dapat dipakai hingga satu jam sebelum pertandingan dimulai.
Namun, biaya resale resmi FIFA tetap menjadi polemik. Dalam laman bantuan tiketnya, FIFA menyatakan biaya untuk menjual atau menukar tiket melalui marketplace resmi sebesar 15 persen dari total harga termasuk pajak. Biaya akhir akan ditampilkan saat pembelian dilakukan.
Untuk warga Meksiko dan tiket pertandingan di Ontario, Kanada, FIFA menerapkan pembatasan harga resale. Tiket hanya dapat dijual kembali pada harga awal yang dibayarkan kepada FIFA Ticketing atau lebih rendah.
Sorotan terhadap kebijakan tiket juga masuk ke ranah hukum di Amerika Serikat. Kantor Jaksa Agung New York menyatakan Jaksa Agung New York dan New Jersey mengeluarkan subpoena terhadap FIFA pada 27 Mei 2026 untuk menyelidiki praktik tiket Piala Dunia 2026.
Penyelidikan itu mencakup dugaan kebingungan lokasi kursi, lonjakan harga, dan penggunaan variable pricing. Otoritas tersebut juga menyoroti laporan bahwa harga tiket untuk lebih dari 90 dari 104 pertandingan naik antara Oktober 2025 hingga April 2026.
Di tengah hujan kritik, FIFA tetap melanjutkan fase penjualan tiket. FIFA mengumumkan fase penjualan last-minute mulai 1 April 2026 dengan sistem first-come, first-served, subject to availability, sementara marketplace resmi resale/exchange kembali dibuka pada 2 April 2026.
Hujan kritik ini menunjukkan bahwa masalah tiket tidak berhenti pada nominal harga. Perdebatan juga menyangkut transparansi, biaya resale, perlindungan konsumen, dan akses suporter biasa terhadap pertandingan. (Sol)




