FinanSaya.com – Harga ayam kampung di Jawa Timur masih terasa berat.
Berdasarkan data Siskaperbapo Jatim, harga rata-rata daging ayam kampung di tingkat konsumen berada di kisaran Rp70.000 per ekor pada Selasa, 12 Mei 2026.
Angka ini memang turun tipis.
Sebelumnya, harga ayam kampung tercatat Rp70.731 per ekor. Namun, penurunan menjadi Rp70.000 belum cukup membuat komoditas ini terasa murah bagi banyak rumah tangga.
Masalahnya, ayam kampung bukan kebutuhan protein yang paling murah.
Di tengah harga pangan yang terus dipantau masyarakat, angka Rp70 ribu per ekor tetap bisa menekan anggaran belanja dapur.
Harga Ayam Kampung Jatim Turun Tipis
Data Siskaperbapo Jatim per pukul 06.33 WIB menunjukkan adanya sedikit pelonggaran harga.
Namun, penurunannya masih terbatas.
Turun sekitar Rp731 per ekor belum banyak mengubah beban konsumen. Bagi rumah tangga yang harus mengatur belanja harian, selisih itu belum cukup besar untuk membuat ayam kampung kembali menjadi pilihan rutin.
Kondisi ini membuat sebagian konsumen kemungkinan tetap selektif.
Ayam kampung bisa saja dibeli untuk kebutuhan tertentu, bukan konsumsi harian. Misalnya untuk masakan keluarga, acara khusus, atau kebutuhan kuliner tertentu.
Baca Juga: Kenapa Ada Pekerja UMK yang Tidak Kena Pajak dan Ada yang Tetap Dipotong?
Kenapa Ayam Kampung Lebih Mahal?
Tingginya harga ayam kampung tidak lepas dari karakteristik produksinya.
Berbeda dengan ayam ras atau ayam potong, ayam kampung umumnya membutuhkan masa pemeliharaan lebih lama. Proses ini membuat biaya produksi lebih tinggi.
Biaya pakan, perawatan, distribusi, hingga pasokan juga ikut memengaruhi harga akhir di pasar.
Namun, permintaan tetap ada.
Sebagian masyarakat masih memilih ayam kampung karena tekstur dagingnya lebih padat dan rasanya dianggap berbeda. Permintaan dari rumah tangga, warung makan, hingga pelaku usaha kuliner ikut menjaga harga tetap tinggi.
Di sinilah posisi ayam kampung menjadi unik.
Harganya mahal, tetapi pasarnya tetap hidup.
Konsumen Bisa Cari Alternatif Protein
Dengan harga yang masih tinggi, konsumen perlu lebih cermat mengatur belanja protein hewani.
Jika anggaran dapur terbatas, alternatif seperti ayam ras, telur, ikan, tahu, atau tempe bisa menjadi pilihan sementara.
Contohnya sederhana.
Dengan uang Rp70 ribu, satu rumah tangga bisa membeli satu ekor ayam kampung. Namun jika dialihkan, dana yang sama bisa dipakai untuk membeli telur, ikan, atau lauk lain dalam jumlah lebih banyak.
Pilihan ini penting agar kebutuhan protein tetap terpenuhi tanpa membuat pengeluaran membengkak. (Sol)




