FinanSaya.com – Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian atau DKPP mengadakan Gerakan Pasar Murah di Kantor Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Rabu pagi, 20 Mei 2026.
Kepala Bidang Pangan DKPP Kota Surabaya, Muhammad Khusnul Amin, mengatakan Gerakan Pasar Murah atau GPM merupakan kegiatan rutin Pemkot Surabaya.
Kegiatan ini digelar setiap bulan.
Tujuannya bukan hanya menjual barang lebih murah. Lebih jauh, GPM di Lidah Wetan menjadi salah satu upaya pemerintah kota untuk mengendalikan inflasi dan menekan harga bahan kebutuhan pokok di Surabaya.
Masalahnya, inflasi pangan sering paling cepat dirasakan masyarakat.
Saat harga bahan pokok naik, warga harus menyesuaikan belanja harian. Ada yang mengurangi jumlah belanja. Ada yang mengganti menu. Ada juga yang menunda kebutuhan lain demi tetap bisa membeli beras dan minyak.
Karena itu, pasar murah di Lidah Wetan merupakan contoh intervensi langsung yang terasa bagi warga.
Harga di Bawah Pasaran
Dalam GPM di Lidah Wetan, Pemkot Surabaya menyediakan berbagai kebutuhan pokok.
Mulai dari minyak goreng, beras, bawang putih, bawang merah, cabai rawit merah, gula, daging sapi, daging ayam, dan sejumlah komoditas lainnya.
Khusnul menjelaskan, beberapa harga dijual lebih murah dibanding pasaran.
Contohnya Minyakita dijual di kisaran Rp15.700 hingga Rp15.000 per liter. Harga ini disebut berada di bawah harga pasar.
Beras premium juga dijual lebih miring.
Untuk beras premium kemasan 3 kilogram, harga pasaran disebut mencapai Rp77 ribu. Namun di GPM, Pemkot Surabaya menjualnya Rp74 ribu.
Beras SPHP juga dijual di bawah harga pasar.

Beras Jadi Stok Utama di GPM Lidah Wetan
Pemkot Surabaya membawa stok beras dalam jumlah besar. Khusnul menyebut, beras yang disiapkan mencapai satu mobil pickup. Jenisnya terdiri dari beras premium dan medium dengan ukuran 3 kilogram dan 5 kilogram.
Beras memang menjadi kebutuhan pokok utama.
Karena itu, stoknya dibawa lebih banyak dan dijual sampai habis di Lidah Wetan. Pembelian beras tidak dibatasi karena ketersediaannya cukup besar.
Namun, untuk Minyakita ada pembatasan.
Setiap warga hanya bisa membeli maksimal 2 liter. Kebijakan ini penting agar stok minyak goreng bisa terbagi lebih merata kepada warga yang datang.
Di sinilah pasar murah tidak hanya bicara harga, tetapi juga pemerataan akses.
Baca Juga: Kadin Surabaya Siapkan UMKM Tembus Pasar Global
Warga Merasa Terbantu
Warga Lidah Wetan pun menyambut positif kegiatan ini.
Wartini Asih, warga Lembah Harapan, mengaku sangat terbantu dengan adanya GPM. Ia membeli sejumlah bahan pokok seperti beras dan minyak goreng.
“Harganya lebih murah, mumpung ada pasar murah beli beras dan lainnya. Terbantu sekali, buat kami rakyat kecil,” katanya.
Hal serupa disampaikan Nuraini.
Ia juga memanfaatkan pasar murah untuk membeli beras, minyak goreng, dan cabai. Menurutnya, kegiatan seperti ini sangat membantu masyarakat dan sebaiknya lebih sering digelar.
“Sering-sering diadakan seperti ini, kami sangat senang sekali karena sangat membantu,” ujarnya.

Pasar Murah Jadi Penahan Inflasi
Gerakan Pasar Murah memang bukan solusi permanen untuk masalah harga pangan.
Namun, kegiatan seperti ini bisa menjadi bantalan sementara bagi masyarakat. Saat harga pasar tinggi, warga mendapat alternatif membeli kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Bagi pemerintah daerah, GPM juga menjadi cara membaca kondisi langsung di lapangan.
Komoditas apa yang paling dicari warga. Harga mana yang paling terasa berat. Wilayah mana yang membutuhkan intervensi lebih sering.
Di sinilah kebijakan pangan menjadi lebih dekat dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Jika pasar murah digelar rutin dan stoknya tepat sasaran, dampaknya bisa membantu menahan tekanan harga di tingkat konsumen.
Tantangan Harga Pangan Masih Ada
Namun, tantangan tetap ada.
Harga pangan tidak hanya dipengaruhi pasar lokal. Ada faktor distribusi, panen, cuaca, pasokan antarwilayah, biaya transportasi, dan permintaan masyarakat.
Karena itu, pasar murah perlu berjalan bersama kebijakan lain.
Pemkot perlu menjaga pasokan, memperkuat distribusi, memantau harga di pasar, dan memastikan komoditas penting tidak langka.
Untuk warga, kegiatan seperti GPM di Lidah Wetan ini memberi ruang bernapas.
Setidaknya, kebutuhan dapur bisa dibeli dengan harga yang lebih ringan. Bagi keluarga kecil, itu bisa membantu menjaga anggaran bulanan tetap terkendali. (Sol)




