FinanSaya.com – Presiden RI Prabowo Subianto memberi peringatan keras soal arah ekonomi Indonesia, terutama pada dolar dan BBM.
Dalam pidatonya pada Rapat Paripurna DPR RI di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu, 20 Mei 2026, Prabowo mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi bangsa yang lemah dan selalu dihantui ketakutan.
Masalahnya, ketakutan ekonomi bisa menjadi tanda bahwa sistem nasional belum cukup kuat.
Takut dolar naik. Takut BBM tidak cukup. Takut tekanan global. Takut pasar bergerak. Takut mengambil keputusan besar.
Di sinilah Prabowo menilai Indonesia harus berani melihat fakta.
Prabowo Minta Indonesia Lihat Fakta
Prabowo mengatakan persoalan ekonomi nasional tidak boleh seperti dolar dan BBM ditutup-tutupi.
Menurutnya, Indonesia harus berani membaca kondisi secara jernih. Jika sistem yang berjalan saat ini terus dipertahankan tanpa perubahan besar, ia ragu Indonesia bisa menjadi bangsa makmur.
“Kita harus lihat fakta. Fakta kalau kita teruskan yang seperti ini, kalau kita teruskan sistem seperti ini untuk sekian tahun lagi, saya yakin bahwa tidak mungkin kita jadi bangsa yang makmur,” kata Prabowo.
Pernyataan ini bukan sekadar kritik biasa.
Prabowo sedang menempatkan kemakmuran sebagai syarat penting bagi kekuatan bangsa. Tanpa ekonomi yang kuat, negara akan sulit berdiri tegak di tengah tekanan global.
Kemakmuran dan Kedaulatan Saling Terhubung
Menurut Prabowo, bangsa yang tidak makmur akan sulit menjaga kedaulatannya.
Kedaulatan bukan hanya soal wilayah dan bendera. Kedaulatan juga soal kemampuan negara menyediakan energi, menjaga nilai mata uang, mengendalikan sumber daya, dan memastikan rakyat tidak hidup dalam tekanan ekonomi terus-menerus.
Jika kebutuhan dasar selalu bergantung pada tekanan luar seperti dolar dan BBM, posisi negara menjadi rentan.
Prabowo bahkan memperingatkan bahwa Indonesia bisa menjadi bangsa lemah jika tidak mampu memperbaiki sistem ekonomi nasional.
“Kita tidak mungkin bisa menjaga kedaulatan kita. Kemungkinan besar kita akan menjadi bangsa yang lemah, bangsa yang selalu takut,” ujarnya.
Jangan Terus Takut Dolar dan BBM
Presiden RI ke-8 tersebut kemudian menyinggung ketakutan yang sering muncul dalam ekonomi nasional.
Ia menyebut Indonesia tidak boleh terus-menerus takut terhadap kurs dolar, ketersediaan bahan bakar minyak, dan berbagai tekanan ekonomi lainnya.
“Takut kurs dolar, takut BBM enggak cukup, takut ini, takut itu. Bangsa yang takut, bangsa yang elitnya takut,” ucap Prabowo.
Kalimat ini terasa tajam karena menyentuh psikologi ekonomi nasional.
Saat dolar naik, publik khawatir. Saat harga energi bergerak, pasar cemas. Saat impor terganggu, harga barang bisa ikut naik.
Masalahnya, ketakutan semacam ini sering muncul karena struktur ekonomi belum cukup mandiri.
Baca Juga: MBG Tetap Jalan Tapi Lebih Hemat, Menkeu Buka Suara
Kekayaan Besar, Tapi Tidak Sepenuhnya Tinggal
Dalam pidatonya, Prabowo menilai Indonesia sebenarnya punya sumber daya dan karunia yang besar.
Namun, persoalan utama muncul ketika kekayaan nasional tidak sepenuhnya tinggal dan dimanfaatkan di dalam negeri.
Ia menyebut terjadi aliran keluar kekayaan nasional dalam jumlah besar selama bertahun-tahun. Berdasarkan data yang ia sampaikan, selama 22 tahun Indonesia memperoleh keuntungan sebesar 436 miliar dolar AS.
Namun dari jumlah itu, 343 miliar dolar AS disebut keluar dari Indonesia.
Angka ini menjadi sorotan besar.
Jika keuntungan ekonomi banyak keluar, maka manfaatnya bagi rakyat menjadi terbatas. Negara terlihat menghasilkan, tetapi ruang untuk membangun kesejahteraan tidak sebesar yang seharusnya.
Dampaknya ke Gaji Guru dan Aparat
Prabowo juga mengaitkan persoalan kebocoran kekayaan nasional dengan rendahnya gaji kelompok penting seperti guru dan aparat penegak hukum.
Menurutnya, ketika kekayaan nasional tidak optimal tinggal di dalam negeri, kemampuan negara meningkatkan kesejahteraan rakyat ikut terbatas.
Di sinilah isu ekonomi menjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, khususnya menyoal dolar dan BBM.
Bukan hanya soal neraca perdagangan, ekspor, impor, atau kurs dolar. Tetapi juga soal berapa gaji guru, bagaimana kualitas pendidikan, seberapa kuat penegakan hukum, dan sejauh mana negara mampu memberi penghargaan layak kepada pelayan publik.
Sistem Ekonomi Harus Dibenahi
Prabowo menekankan keberanian membenahi sistem ekonomi sebagai kunci, bukan ketakutan soal dolar dan BBM.
Indonesia tidak boleh hanya bangga sebagai bangsa kaya sumber daya, tetapi hidup dalam kekhawatiran setiap kali ekonomi global bergerak.
Pasalnya, sumber daya besar tidak otomatis membuat rakyat makmur.
Jika tata kelola lemah, nilai tambah rendah, kekayaan keluar, dan ketergantungan impor tinggi, maka negara tetap mudah tertekan apalagi terhadap dolar dan BBM.
Contohnya sederhana.
Sebuah negara bisa mengekspor komoditas besar. Namun jika bahan baku strategis, teknologi, energi, atau pembiayaan masih sangat bergantung pada luar negeri, tekanan dolar tetap terasa kuat.
Artinya, kekayaan alam perlu diubah menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. (Sol)




