Bagaimana Sebenarnya Cara The Fed Tekan Rupiah?

|

7 Views
Bagaimana Sebenarnya Cara The Fed Tekan Rupiah?

FinanSaya.com – Federal Reserve atau disingkat The Fed tekan rupiah ketika arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat membuat aset dolar AS terlihat lebih menarik dibandingkan aset negara berkembang.

Saat suku bunga The Federal bertahan tinggi, investor global cenderung lebih hati-hati menaruh dana di pasar seperti Indonesia karena mereka harus menghitung imbal hasil, risiko kurs, dan stabilitas ekonomi sekaligus.

Bagi masyarakat umum, hubungan antara The Fed dan rupiah sering terasa jauh. Padahal dampaknya bisa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kurs rupiah memengaruhi harga barang impor, biaya bahan baku industri, harga energi, beban utang valuta asing, sampai sentimen pasar saham dan obligasi.

Karena itu, saat rupiah melemah, penyebabnya tidak selalu hanya berasal dari dalam negeri. Faktor global seperti suku bunga AS, yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, perang, harga minyak, dan arus modal asing juga bisa memberi tekanan besar.

Kenapa The Fed Bisa Tekan Rupiah?

The Fed adalah bank sentral Amerika Serikat. Kebijakan suku bunganya menjadi perhatian dunia karena dolar AS adalah mata uang utama dalam perdagangan dan keuangan global.

Ketika The Fed tekan rupiah, mereka biasanya mempertahankan suku bunga tinggi, aset berbasis dolar AS ikut menjadi lebih menarik. Investor global bisa membeli instrumen seperti US Treasury yang dianggap relatif aman, likuid, dan memberikan imbal hasil cukup tinggi.

Pada 28 Januari 2026, Federal Open Market Committee mempertahankan target Fed Funds Rate di kisaran 3,50%–3,75%. The Fed juga menyatakan akan terus menilai data ekonomi, prospek inflasi, dan keseimbangan risiko, sambil tetap berkomitmen mengembalikan inflasi ke target 2%.

Kondisi seperti ini membuat ruang penguatan rupiah menjadi lebih terbatas. Sebab, agar investor tetap tertarik pada aset rupiah, Indonesia harus menawarkan kombinasi yang menarik, yakni imbal hasil yang cukup tinggi, risiko yang terkendali, dan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi.

Cara Kerja The Fed Tekan Rupiah

Cara The Fed tekan rupiah pun bisa dijelaskan lewat arus modal asing.

Saat investor asing masuk ke Indonesia, mereka perlu menukar dolar AS menjadi rupiah. Rupiah kemudian dipakai untuk membeli aset domestik seperti saham, Surat Berharga Negara atau SBN, dan instrumen pasar uang. Proses ini menambah permintaan terhadap rupiah.

Sebaliknya, saat investor asing keluar dari Indonesia, mereka menjual aset rupiah, lalu menukar rupiah kembali menjadi dolar AS. The Fed tekan rupiah saat permintaan dolar naik, sedangkan rupiah tertekan.

Memang secara tidak langsung, namun langkah tersebut merupakan salah satu cara bagi The Fed tekan rupiah dan mata uang negara berkembang lain.

Hal ini juga dijelaskan oleh salah satu Youtuber keuangan bernama Ardy Setia. Berdasarkan kutipan dalam videonya, ia merangkum mekanisme ini dengan kalimat sederhana: “Rupiah melemah membuat investor asing keluar. Asing keluar membuat rupiah makin melemah.”

Kalimat itu menggambarkan lingkaran tekanan yang sering terjadi di pasar keuangan, salah satunya saat The Fed tekan rupiah. Ketika rupiah melemah, investor asing khawatir keuntungan investasinya tergerus oleh rugi kurs. Mereka lalu keluar. Ketika dana asing keluar, tekanan terhadap rupiah bertambah.

The Fed tekan rupiah bukan secara langsung seperti menekan tombol kurs, tetapi melalui mekanisme pasar keuangan global.

Kenapa Yield US Treasury Jadi Pembanding Penting?

Investor global tidak hanya melihat suku bunga acuan The Fed. Mereka juga melihat yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury.

US Treasury sering dianggap sebagai aset aman karena diterbitkan oleh pemerintah Amerika Serikat dan sangat likuid. Jika yield US Treasury tinggi, investor global punya pilihan untuk mendapatkan imbal hasil menarik tanpa harus mengambil risiko sebesar aset negara berkembang.

Data FRED St. Louis Fed menunjukkan yield Treasury AS tenor 10 tahun berada di 4,47% pada 4 Juni 2026. Data yang sama mencatat yield Treasury AS tenor 30 tahun sebesar 4,97% pada 4 Juni 2026. Keduanya bersumber dari Board of Governors of the Federal Reserve System.

Angka ini penting karena menjadi pembanding bagi aset Indonesia. Jika investor bisa mendapat yield hampir 5 persen dari obligasi pemerintah AS tenor panjang, maka aset Indonesia harus memberi kompensasi yang cukup menarik untuk menutup risiko tambahan.

Risiko tambahan itu meliputi risiko nilai tukar, risiko likuiditas, risiko kebijakan, dan persepsi terhadap kondisi fiskal maupun politik.

SBN Indonesia, Risiko Kurs, dan Arus Modal Asing

SBN Indonesia umumnya menawarkan yield lebih tinggi dibandingkan US Treasury. Namun, selisih yield saja belum tentu cukup untuk menarik investor asing.

Misalnya investor asing membeli SBN Indonesia karena yield-nya lebih tinggi. Jika rupiah stabil atau menguat, investor bisa mendapat keuntungan dari kupon dan kurs. Tetapi jika rupiah melemah dalam, keuntungan kupon bisa habis ketika dikonversi kembali ke dolar AS.

Contoh sederhana:

Investor asing masuk membawa 1 juta dolar AS. Dana itu ditukar menjadi rupiah untuk membeli SBN. Jika selama masa investasi rupiah melemah tajam, nilai rupiah yang diterima investor saat keluar bisa menjadi lebih kecil dalam dolar AS. Akibatnya, yield tinggi di Indonesia tidak otomatis berarti keuntungan bersih lebih tinggi.

Inilah alasan The Fed tekan rupiah secara tidak langsung. Ketika aset dolar AS menawarkan imbal hasil tinggi, investor menjadi lebih selektif. Mereka tidak hanya bertanya, “Berapa yield SBN?” tetapi juga, “Apakah rupiah akan stabil?”

Baca Juga: SBN di Indonesia: Jenis, Contoh, Manfaat, dan Cara Kerjanya

Respons Bank Indonesia terhadap Tekanan Rupiah

Bank Indonesia merespons tekanan rupiah melalui kombinasi kebijakan suku bunga, operasi moneter, dan intervensi valuta asing.

Dalam Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga Deposit Facility naik menjadi 4,25%, sedangkan Lending Facility naik menjadi 6,00%. BI menyebut kebijakan ini sebagai langkah untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global akibat perang di Timur Tengah, sekaligus menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap dalam sasaran.

BI juga menyatakan akan meningkatkan struktur suku bunga instrumen moneter pro-market agar tetap menarik aliran masuk investasi portofolio asing ke aset keuangan domestik. Selain itu, BI memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar NDF luar negeri, serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.

Pada 19 Mei 2026, BI mencatat rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS, melemah 2,20% dibandingkan akhir April 2026. Dalam siaran pers yang sama, BI menyebut posisi SRBI per 18 Mei 2026 mencapai Rp921,88 triliun, dengan kepemilikan nonresiden sebesar Rp221,59 triliun atau 24,04% dari total outstanding.

Kenapa BI Tidak Bisa Terus Naikkan Bunga?

Menaikkan suku bunga bisa membantu saat The Fed tekan rupiah, karena mata uang Garuda menjadi lebih menarik. Namun, kebijakan ini punya efek samping.

Jika bunga domestik naik terlalu agresif, biaya pinjaman perbankan bisa meningkat. Kredit usaha, kredit konsumsi, dan KPR dapat menjadi lebih mahal. Perusahaan bisa menunda ekspansi, masyarakat bisa menahan konsumsi, dan pertumbuhan ekonomi dapat ikut tertekan.

Karena itu, bank sentral harus menjaga keseimbangan. Di satu sisi, rupiah perlu distabilkan. Di sisi lain, ekonomi domestik tetap perlu ruang untuk tumbuh.

Kondisi The Fed tekan rupiah juga membuat Bank Indonesia harus menjaga daya tarik aset rupiah.

BI sendiri dalam siaran pers Mei 2026 menekankan bauran kebijakan, yakni moneter diarahkan untuk stabilitas, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap mendukung pertumbuhan.

Dengan kata lain, respons terhadap tekanan, terutama saat The Fed tekan rupiah tidak bisa hanya mengandalkan suku bunga. Perlu kombinasi antara stabilitas nilai tukar, inflasi terkendali, likuiditas perbankan, dan kepercayaan pasar. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya