FinanSaya.com – Kota Surabaya mencatat inflasi tahunan 3,62 persen pada Agustus 2026. Berdasarkan data BPS Jawa Timur, angka tersebut menjadi yang tertinggi kedua dari 11 kabupaten/kota penghitungan Indeks Harga Konsumen di provinsi tersebut.
Inflasi tahunan Surabaya hanya berada di bawah Kabupaten Sumenep yang mencatat inflasi 3,99 persen.
Setelah Surabaya, Kota Madiun mencatat inflasi 3,41 persen. Berikutnya Kota Malang 3,31 persen dan Kota Kediri 3,28 persen.
Data itu tercantum dalam Berita Resmi Statistik BPS Jawa Timur yang dirilis pada 1 September 2026.
BPS Jawa Timur Catat Surabaya Tertinggi Kedua
Inflasi year on year Surabaya pada Agustus 2026 juga berada di atas rata-rata Jawa Timur.
Dari data BPS Jawa Timur, inflasi tahunan Jawa Timur tercatat 3,32 persen. IHK Jawa Timur berada di level 112,26, naik dari 108,65 pada Agustus 2025.
Dengan inflasi 3,62 persen, kenaikan harga konsumen di Surabaya dalam satu tahun terakhir lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi.
Namun, tekanan harga Surabaya tidak sama jika dilihat secara bulanan. Dalam perhitungan month to month, Surabaya hanya mencatat inflasi 0,09 persen pada Agustus 2026 dibandingkan Juli 2026.
Angka tersebut justru menjadi yang paling rendah di antara 11 wilayah IHK di Jawa Timur.
Inflasi Bulanan Surabaya Paling Rendah
Perbedaan antara inflasi tahunan dan bulanan menunjukkan dinamika harga di Surabaya bergerak tidak seragam.
Secara tahunan, Surabaya masuk kelompok daerah dengan kenaikan harga relatif tinggi. Namun, secara bulanan, tekanan harga pada Agustus 2026 jauh lebih rendah dibandingkan wilayah lain.
Sebagai perbandingan, Banyuwangi mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,86 persen. Kabupaten Gresik menyusul dengan inflasi 0,66 persen.
Dari data BPS Jawa Timur juga, Kabupaten Tulungagung dan Bojonegoro masing-masing mencatat inflasi bulanan 0,54 persen.
Sementara itu, inflasi bulanan Jawa Timur secara keseluruhan tercatat 0,34 persen. Dengan angka 0,09 persen, Surabaya berada jauh di bawah rata-rata provinsi untuk pergerakan harga bulanan.
Inflasi Jatim 3,32 Persen
Secara keseluruhan, seluruh 11 kabupaten/kota IHK di Jawa Timur mengalami inflasi tahunan pada Agustus 2026.
Sumenep menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi sebesar 3,99 persen. Sementara Banyuwangi menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 2,69 persen.
Inflasi sepanjang Januari hingga Agustus 2026 atau year to date di Jawa Timur tercatat 1,82 persen.
Data BPS Jawa Timur ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih berlangsung, meski intensitasnya berbeda antarwilayah dan antarperiode pengukuran.
Dalam jangka pendek, tekanan harga di Surabaya relatif kecil. Namun, dalam rentang satu tahun, kenaikan harga konsumen di kota tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Timur.
Kelompok Pengeluaran Pendorong Inflasi
Di tingkat provinsi, tekanan inflasi tahunan terutama berasal dari sejumlah kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 4,36 persen secara tahunan. Kelompok ini memberi andil terbesar terhadap inflasi Jawa Timur, yakni 1,20 persen.
Baca Juga: Penegakan Hukum Berlanjut, OJK Sanksi 23 Emiten Tahun Ini
BPS Jawa Timur juga mencatat kelompok transportasi juga naik 4,65 persen. Sementara kenaikan paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, dengan inflasi 9,09 persen secara tahunan.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya memberikan andil 0,64 persen terhadap inflasi Jawa Timur.
Dengan kontribusi tersebut, tekanan inflasi tidak hanya berasal dari pangan, tetapi juga dari biaya transportasi dan kebutuhan jasa pribadi.
Emas dan Daging Ayam Jadi Pendorong
Beberapa komoditas tercatat dominan memberi sumbangan terhadap inflasi tahunan Jawa Timur.
BPS mencatat emas perhiasan, daging ayam ras, bensin, angkutan udara, daging sapi, cabai rawit, minyak goreng, dan beras sebagai komoditas yang mendorong kenaikan harga selama setahun terakhir.
Komoditas tersebut berasal dari kelompok pengeluaran berbeda. Artinya, tekanan inflasi terjadi pada beberapa kebutuhan rumah tangga sekaligus.
Emas perhiasan mencerminkan tekanan dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Sementara daging ayam ras, daging sapi, cabai rawit, minyak goreng, dan beras berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan.
Bensin dan angkutan udara mewakili tekanan dari kelompok transportasi.
Beberapa Komoditas Menahan Inflasi
Di sisi lain, sejumlah komoditas membantu menahan inflasi agar tidak naik lebih tinggi.
Bawang merah, telur ayam ras, kelapa, dan tomat tercatat memberikan andil terhadap deflasi secara tahunan.
Penurunan harga pada komoditas tersebut membantu mengimbangi kenaikan harga barang dan jasa lainnya.
Secara bulanan, tekanan harga Jawa Timur pada Agustus 2026 terutama berasal dari daging ayam ras, cabai rawit, emas perhiasan, biaya akademi atau perguruan tinggi, beras, udang basah, dan daging sapi.
Daging ayam ras menjadi salah satu pendorong terbesar inflasi bulanan dengan kontribusi 0,28 persen.
Sementara itu, BPS Jawa Timur juga mencatat penurunan harga atau tarif angkutan udara, bawang merah, tomat, bawang putih, dan bensin membantu menahan kenaikan harga bulanan Jawa Timur.
Surabaya Perlu Cermati Harga Tahunan
Data inflasi Surabaya menunjukkan dua sisi yang berbeda. Tekanan harga bulanan pada Agustus 2026 relatif rendah, tetapi inflasi tahunan masih tinggi dibandingkan banyak daerah lain di Jawa Timur.
Kondisi ini membuat pemantauan harga kebutuhan pokok, transportasi, dan komoditas pendorong inflasi tetap penting.
Perubahan harga pangan dan transportasi dapat cepat memengaruhi pengeluaran rumah tangga, terutama bagi kelompok masyarakat berpendapatan tetap.
Berdasarkan data BPS Jawa Timur, inflasi tahunan Surabaya pada Agustus 2026 mencapai 3,62 persen, sedangkan inflasi bulanan hanya 0,09 persen dan menjadi yang terendah di antara 11 wilayah IHK Jawa Timur. (Sol)




