FinanSaya.com – Pasar Bitcoin kembali berada di bawah tekanan setelah indikator on-chain menunjukkan hampir separuh pasokan BTC berada dalam posisi rugi. Analis pasar Joao Wedson menilai kondisi ini membuat posisi Bitcoin merugi saat ini termasuk salah satu yang paling berat dalam sejarah aset kripto tersebut.
Dalam grafik Bitcoin Percent Supply in Loss, sekitar 47 persen pasokan BTC disebut berada di bawah harga perolehannya. Artinya, hampir separuh Bitcoin yang beredar saat ini dipegang investor pada posisi rugi yang belum direalisasikan.
Kondisi Bitcoin merugi itu terjadi ketika harga BTC berada di kisaran US$63.470. Posisi tersebut jauh lebih rendah dibandingkan level tertinggi yang sempat dicapai Bitcoin pada siklus sebelumnya.

Bitcoin Merugi Dekati Kondisi 2022
Menurut Joao Wedson, persentase pasokan yang berada dalam kondisi rugi saat ini mendekati situasi pada November 2022. Pada periode tersebut, pasar Bitcoin juga berada dalam tekanan besar setelah koreksi panjang.
Perbedaannya terletak pada jumlah pasokan beredar. Pada November 2022, pasokan Bitcoin diperkirakan sekitar 19,2 juta BTC. Saat ini, jumlah tersebut meningkat menjadi sekitar 20,05 juta BTC.
Dengan persentase kerugian yang mendekati 47 persen, jumlah Bitcoin yang berada di bawah harga beli pemiliknya kini lebih besar secara absolut dibandingkan 2022. Secara kasar, lebih dari 9 juta BTC berpotensi berada dalam posisi rugi.
Angka itu menggambarkan tekanan yang dialami pemegang saat Bitcoin merugi. Meski kerugian tersebut belum terealisasi selama investor tidak menjual, posisi harga saat ini membuat banyak pemegang berada di bawah modal pembelian.
Apa Itu Percent Supply in Loss
Percent Supply in Loss adalah indikator on-chain yang mengukur bagian dari total pasokan Bitcoin yang harga belinya lebih tinggi daripada harga pasar saat ini. Ketika indikator ini naik, jumlah investor yang memegang BTC dalam kondisi rugi juga bertambah.
Indikator tersebut sering digunakan untuk membaca tingkat tekanan pasar. Kenaikan tajam biasanya muncul ketika harga turun dalam, investor panik, atau pasar memasuki fase kapitulasi.
Namun, indikator ini tidak bisa dipakai sendirian untuk memastikan titik dasar harga Bitcoin. Pasokan Bitcoin merugi dapat bertahan tinggi dalam waktu lama sebelum pasar benar-benar membentuk dasar dan memulai pemulihan.
Dengan kata lain, data Bitcoin merugi menunjukkan besarnya tekanan, tetapi belum otomatis menjadi sinyal bahwa koreksi sudah selesai.
Baca Juga: Polymarket Digugat Trader soal Penjualan Bitcoin Strategy
Reli Bitcoin Tidak Dinikmati Semua Investor
Wedson juga menyoroti bahwa bull market Bitcoin sebelumnya tidak memberi keuntungan merata kepada seluruh investor. Meski BTC sempat mencetak rekor tertinggi baru, banyak pelaku pasar masuk ketika harga sudah tinggi.
Masuknya investor institusi dan pertumbuhan produk ETF Bitcoin sebelumnya dianggap memperkuat struktur pasar. Namun, ketika harga berbalik turun, investor yang membeli di dekat puncak justru menjadi kelompok yang paling terdampak sat Bitcoin merugi.
Menurut Wedson, kondisi ini memperlihatkan bahwa reli Bitcoin tidak selalu berarti semua investor memperoleh keuntungan. Pemegang lama kemungkinan sudah menikmati kenaikan besar, sementara pembeli baru menanggung kerugian belum terealisasi.
Fenomena ini juga menjelaskan mengapa indikator Percent Supply in Loss dapat naik meski Bitcoin pernah mencetak harga tertinggi baru. Masalahnya bukan hanya harga turun, tetapi juga banyaknya pembelian yang terjadi di area harga tinggi.
Adopsi Institusi Tidak Menghapus Risiko
Ekspansi ETF Bitcoin dan masuknya investor institusional memang membawa permintaan baru ke pasar. Namun, kenaikan pasokan rugi menunjukkan adopsi institusi tidak otomatis melindungi investor dari koreksi harga.
Permintaan baru dapat membantu mendorong harga pada fase kenaikan. Tetapi, investor tetap menghadapi risiko apabila membeli setelah reli besar atau ketika valuasi sudah berada di level tinggi.
Kondisi Bitcoin merugi ini menjadi pengingat bahwa harga masuk tetap penting. Popularitas suatu aset, termasuk Bitcoin, tidak menjamin pembeli akan langsung memperoleh keuntungan dalam jangka pendek.
Manajemen risiko juga menjadi faktor penting. Investor yang masuk tanpa memperhatikan volatilitas, pembagian modal, dan potensi koreksi dapat menghadapi tekanan besar ketika harga berbalik turun.
Dasar Harga Belum Bisa Dipastikan
Tingginya pasokan Bitcoin yang merugi sering muncul pada fase tekanan ekstrem. Dalam beberapa siklus, kondisi seperti ini dapat terjadi mendekati periode kapitulasi, ketika investor yang tidak kuat menahan kerugian mulai menjual kepemilikannya.
Meski demikian, tingginya kerugian belum memastikan harga Bitcoin sudah mencapai titik terendah. Pasar masih dapat bergerak volatil apabila tekanan jual meningkat atau kondisi ekonomi global memburuk.
Menurut analisis Wedson, bear market Bitcoin saat ini tidak hanya terlihat dari penurunan harga. Tekanan juga tercermin dari besarnya jumlah koin yang berada di bawah harga perolehan pemiliknya.
Pada data yang dikutip, sekitar 47 persen pasokan BTC berada dalam posisi rugi, pasokan beredar mencapai sekitar 20,05 juta BTC, dan harga Bitcoin berada di kisaran US$63.470. (Sol)




