Biosolar Jawa Timur Ditambah Jadi 2,7 Juta Kiloliter

|

1 Views
Biosolar Jawa Timur Ditambah Jadi 2,7 Juta Kiloliter

FinanSaya.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyebut pasokan biosolar Jawa Timur telah ditambah untuk mengatasi antrean dan kelangkaan yang terjadi di sejumlah wilayah. PT Pertamina disebut menaikkan pasokan BBM bersubsidi jenis biosolar hingga mencapai 2,7 juta kiloliter.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan penguatan pasokan dilakukan bersamaan dengan percepatan distribusi dari depo menuju SPBU. Menurut dia, antrean yang terjadi tidak otomatis menunjukkan stok di depo habis.

“Jadi, ada peningkatan pembelian di luar dari pola yang sewajarnya. Ingat, terdapat prosesnya untuk penyaluran BBM dari depo sampai ke pom bensin. Jadi, jangan kemudian kita berasumsi kalau stok di pom bensin habis karena di depo juga habis, tidak seperti itu,” ungkap Emil di Surabaya, Selasa (30/6/2026).

Emil menyebut lonjakan pembelian di luar pola normal menjadi salah satu penyebab tekanan di lapangan. Karena itu, penanganan tidak hanya dilakukan dengan menambah kuota, tetapi juga mempercepat rantai distribusi.

Jumlah Pasokan Biosolar Jawa Timur Naik

Menurut Emil, Pertamina menambah pasokan biosolar Jawa Timur sekitar 6–8 persen dari kondisi normal. Sebelumnya, kuota biosolar untuk provinsi tersebut berada di kisaran 2,4 juta kiloliter.

“Kuota BBM jenis biosolar Jawa Timur sudah dinaikkan oleh PT Pertamina (Persero) antara 6 sampai 8%. Jadi, pasokan yang ditambah saat ini mencapai 2,7 juta kiloliter untuk BBM bersubsidi jenis biosolar,” katanya.

Penambahan pasokan biosolar Jawa Timur itu diarahkan untuk meredakan antrean di SPBU, terutama pada titik yang mengalami permintaan lebih tinggi dari pola pembelian sebelumnya. Pemprov Jatim juga menyoroti pentingnya armada pengangkut dalam mempercepat suplai dari depo.

Emil mengatakan kendala distribusi muncul pada proses pengangkutan dari depo ke SPBU. Ketika pembelian biosolar berlangsung lebih cepat dari biasanya, kebutuhan mobil tangki ikut meningkat.

“Kendalan yang dihadapi adalah mengangkut dari depo ke pom bensin ini. Kalau misalnya biosolar itu lebih cepat dibelinya dibandingkan biasanya, itu pasti butuh armada tambahan. Sudah ada tambahan-tambahan armada yang dimobilisasi untuk mengatasi hal tersebut,” ucapnya.

Jalur Logistik Jadi Prioritas

Dengan jumlah armada pengangkut yang terbatas, Pertamina disebut menerapkan skala prioritas dalam distribusi biosolar. SPBU di sekitar pelabuhan dan pintu tol menjadi perhatian karena berkaitan dengan arus logistik.

Emil mengatakan prioritas itu diperlukan agar distribusi bahan pangan dan kebutuhan penting lain tidak terganggu. Jalur logistik menjadi titik yang harus dijaga agar dampak antrean biosolar tidak meluas ke pasokan barang.

“Dengan kuantitas armada pengangkut yang terbatas, PT Pertamina (Persero) kemudian menetapkan tempat-tempat yang vital, seperti akses jalan di kawasan pelabuhan dan pintu tol karena hal ini berkaitan dengan masalah logistik agar penyaluran bahan pangan tidak terganggu,” tuturnya.

Baca Juga: 3 BBM Non-Subsidi Pertamina Turun per 1 Juli

Berdasarkan informasi dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jawa Timur, terdapat 12 unit mobil tangki khusus biosolar yang disiagakan di titik vital. Armada biosolar Jawa Timur tersebut difokuskan untuk mengatasi lonjakan permintaan, terutama di wilayah aglomerasi Surabaya Raya.

“Terdapat 12 unit mobil tangki khusus biosolar yang difokuskan di jalur logistik akses pelabuhan dan pintu tol sejak 23 Juni lalu. Distribusi dipercepat untuk mengejar lonjakan permintaan karena antrian biosolar terutama di Surabaya Raya, di mana terjadi antrian yang bersamaan melebihi dari pola pembelian yang pernah ada sebelumnya,” paparnya.

BPH Migas dan Pertamina Diminta Evaluasi

Emil menyatakan penambahan kuota dan armada seharusnya dapat membantu mengurai persoalan biosolar Jawa Timur. Menurut dia, pasokan yang tersedia sudah melampaui kebutuhan energi yang diperlukan masyarakat di provinsi tersebut.

Namun, ia meminta otoritas terkait melakukan evaluasi jika antrean atau kelangkaan masih terjadi. Evaluasi itu ditujukan kepada Kementerian ESDM melalui BPH Migas serta Pertamina.

“Pertanyaannya, apakah pasti cukup atau tidak? Kita pakai logika dulu saja. Logikanya, kouta biosolar sudah ditambah dari 2,4 juta kiloliter jadi 2,7 kiloliter. Kuotanya ada, pembelian bersamaan, dan armadanya ditambah. Apabila ternyata masih belum mengatasi, tentu ini harus disikapi oleh Kementerian ESDM melalui BPH Migas serta PT Pertamina (Persero),” bebernya. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya