FinanSaya.com – Asing kembali masuk ke SBN pada kuartal II 2026 setelah pasar obligasi pemerintah Indonesia sempat tertekan pada awal tahun. Data Kementerian Keuangan menunjukkan aliran modal asing ke Surat Berharga Negara mencatat inflow Rp14,4 triliun hingga 3 Juni 2026.
Meski begitu, secara akumulasi sepanjang tahun berjalan, pasar SBN masih mencatat outflow Rp10,8 triliun. Kondisi ini menunjukkan minat investor asing mulai pulih, tetapi belum sepenuhnya menutup arus keluar yang terjadi pada periode sebelumnya.
Dalam paparan APBN KiTa Juni 2026, pemerintah menyebut aliran modal asing membaik pada triwulan II. Perbaikan terutama terlihat pada instrumen SBN dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI.
Secara keseluruhan, arus modal asing kembali masuk ke SBN Indonesia mencatat net inflow Rp32,8 triliun sepanjang 2026. Khusus triwulan II hingga 3 Juni 2026, total inflow asing mencapai Rp60,9 triliun.
Namun, aliran dana tersebut tidak merata ke semua instrumen. SRBI mencatat inflow Rp99,9 triliun sepanjang 2026, sementara pasar saham masih mengalami outflow Rp56,4 triliun.
Asing Kembali Masuk ke SBN, Namun Belum Sepenuhnya
Data Kementerian Keuangan memang menunjukkan asing kembali masuk ke SBN pada kuartal II. Namun, data ini juga perlu dibaca hati-hati karena secara tahun berjalan dana asing di SBN masih mencatat arus keluar bersih.
Dari sisi posisi kepemilikan, data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mencatat kepemilikan investor nonresiden di SBN domestik yang dapat diperdagangkan sebesar Rp863,219 triliun per Mei 2026.
Angka tersebut turun dibandingkan Januari 2026 yang mencapai Rp878,751 triliun. Namun, posisinya sudah lebih tinggi dibanding Maret 2026 yang sebesar Rp853,558 triliun.
Pergerakan itu memperlihatkan adanya pemulihan bertahap saat asing kembali masuk ke SBN. Investor nonresiden belum kembali ke posisi awal tahun, tetapi mulai meningkatkan kembali eksposur pada obligasi pemerintah Indonesia setelah tekanan pada kuartal sebelumnya.
Jika dilihat berdasarkan tenor, kepemilikan asing paling besar berada pada SBN tenor menengah-panjang. Per Mei 2026, asing menggenggam SBN tenor lebih dari 5 tahun hingga 10 tahun sebesar Rp318,782 triliun.
Sementara itu, kepemilikan pada tenor lebih dari 2 tahun hingga 5 tahun mencapai Rp317,782 triliun. Besarnya porsi pada tenor 2 tahun hingga 10 tahun menunjukkan investor asing masih mencari imbal hasil dari obligasi pemerintah berjangka menengah-panjang.
Instrumen tersebut biasanya dipantau investor global karena menawarkan kombinasi antara kupon, potensi capital gain, dan eksposur terhadap stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca Juga: SBN di Indonesia: Jenis, Contoh, Manfaat, dan Cara Kerjanya
BI-Rate Ikut Dorong Daya Tarik Portofolio
Asing kembali masuk ke SBN juga tidak lepas dari arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Pada 9 Juni 2026, BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.
Kenaikan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. Kebijakan ini juga diarahkan untuk meningkatkan daya tarik imbal hasil bagi masuknya investasi portofolio asing.
Bank Indonesia menyatakan koordinasi fiskal dan moneter diarahkan untuk meningkatkan daya tarik investasi portofolio asing, khususnya pada SRBI dan SBN. Kebijakan tersebut dilakukan sesuai mekanisme pasar, dengan tetap menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan.
Bagi pasar keuangan domestik, asing kembali masuk ke SBN menjadi sinyal penting. Aliran modal asing dapat membantu menjaga stabilitas pasar obligasi, menahan kenaikan yield, dan memberi dukungan terhadap rupiah.
Dukungan terhadap rupiah mulai terlihat di pasar spot. Mengutip dari Reuters, rupiah menguat ke sekitar Rp18.000 per dolar AS pada Rabu pagi, setelah sebelumnya menyentuh rekor lemah Rp18.190 per dolar AS pada Senin.
Di pasar domestik, rupiah juga dilaporkan ditutup menguat ke Rp17.944 per dolar AS pada Rabu, 10 Juni 2026. Sementara itu, kurs tengah pasar Wise menunjukkan USD/IDR berada di sekitar Rp18.089,50 per dolar AS.
Namun, pasar masih perlu mencermati risiko global. Arah suku bunga negara maju, gejolak geopolitik, dan minat investor terhadap aset negara berkembang tetap dapat memengaruhi arus dana ke pasar SBN.
Dengan demikian, data terbaru lebih menunjukkan asing mulai kembali masuk ke SBN dengan akumualasi besar pada kuartal II 2026 setelah sempat keluar pada periode sebelumnya.
Asing kembali masuk ke SBN menjadi sinyal pemulihan, tetapi belum cukup untuk menghapus tekanan arus keluar sepanjang tahun berjalan. (Sol)




