FinanSaya.com – Pernah membeli saham karena banyak orang membicarakannya? Atau tertarik membeli aset kripto setelah melihat teman, influencer, atau komunitas ramai-ramai mengatakan harganya akan naik? Perilaku seperti ini dapat berkaitan dengan herd mentality atau mentalitas kawanan.
Dalam dunia investasi, herd mentality bukan sesuatu yang aneh. Ketika banyak orang membeli aset yang sama, investor lain dapat menganggap keramaian tersebut sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang mereka tidak ketahui.
Apa Itu Herd Mentality?
Herd mentality adalah kecenderungan mengikuti perilaku kelompok. Dalam investasi, bentuknya dapat terlihat ketika seseorang membeli atau menjual aset karena banyak orang lain melakukan hal yang sama.
Contohnya, sebuah saham tiba-tiba ramai dibicarakan. Banyak orang membagikan keuntungan, grup investasi penuh euforia, dan harga terus naik. Investor yang awalnya tidak tertarik mulai merasa ragu: “Jangan-jangan saya ketinggalan peluang besar.”
Akhirnya, ia membeli bukan karena memahami bisnis, valuasi, risiko, atau strategi investasinya, melainkan karena keramaian membuat keputusan tersebut terasa benar.
Herd mentality juga dapat terjadi saat pasar turun. Ketika banyak orang panik menjual, investor lain ikut menjual karena takut harga jatuh lebih dalam. Padahal, belum tentu keputusan tersebut sesuai dengan kondisi aset dan tujuan investasinya.
Herd Mentality Tidak Selalu Berasal dari Ketidaktahuan
Salah satu kesalahpahaman tentang herd mentality adalah menganggap orang yang ikut kerumunan pasti tidak berpikir.
Padahal, dalam situasi tertentu, mengikuti keputusan orang lain dapat terasa masuk akal.
Ekonom Abhijit V. Banerjee dalam penelitian A Simple Model of Herd Behavior yang diterbitkan di The Quarterly Journal of Economics menjelaskan bahwa seseorang dapat mempertimbangkan keputusan orang-orang sebelumnya karena menganggap mereka mungkin memiliki informasi yang tidak dimilikinya.
Bayangkan seseorang tidak mengetahui apakah suatu saham layak dibeli. Namun, ia melihat beberapa investor yang dianggap berpengalaman mulai membeli saham tersebut.
Ia kemudian berpikir, “Mungkin mereka tahu sesuatu yang saya tidak tahu.”
Semakin banyak orang melakukan tindakan serupa, semakin kuat pula keyakinan bahwa keputusan tersebut benar.
Masalahnya, keyakinan itu bisa keliru. Bisa saja orang-orang yang terlihat yakin sebenarnya juga hanya mengikuti orang lain.
1. Menganggap Kerumunan Memiliki Informasi Lebih Banyak
Fenomena herd mentality ini berkaitan dengan konsep informational cascade.
Sushil Bikhchandani, David Hirshleifer, dan Ivo Welch dalam penelitian A Theory of Fads, Fashion, Custom, and Cultural Change as Informational Cascades menjelaskan bahwa informational cascade dapat terjadi ketika seseorang mengabaikan informasi pribadinya dan mengikuti tindakan orang-orang sebelumnya.
Dalam investasi, investor mungkin sebenarnya memiliki keraguan terhadap sebuah aset. Ia merasa harga sudah mahal, bisnisnya belum jelas, atau risikonya tinggi. Namun, ketika harga terus naik dan semakin banyak orang membelinya, informasi dari kerumunan terasa lebih meyakinkan daripada analisisnya sendiri.
Investor akhirnya ikut membeli.
Ironisnya, orang lain mungkin melakukan hal yang sama. Dengan demikian, kerumunan yang terlihat sangat yakin sebenarnya bisa terdiri dari banyak orang yang sama-sama mengikuti orang lain.
Inilah salah satu bahaya herd mentality. Keyakinan kolektif dapat terlihat kuat dari luar, meskipun fondasinya rapuh.
2. Takut Ketinggalan Keuntungan
Herd mentality juga dapat diperkuat oleh rasa takut kehilangan kesempatan.
Ketika sebuah saham, aset kripto, atau instrumen lain naik tajam, keuntungan investor lain terlihat semakin nyata. Cerita tentang orang yang memperoleh keuntungan besar kemudian menyebar melalui lingkungan pertemanan, komunitas, dan media sosial.
Muncullah pikiran seperti, “Kalau tidak beli sekarang, nanti harganya semakin mahal.”
Dorongan tersebut sering disebut fear of missing out atau FOMO.
Dalam kondisi demikian, pertanyaan investor dapat bergeser. Alih-alih bertanya apakah harga aset tersebut masih masuk akal, ia justru bertanya apakah dirinya akan menyesal jika tidak ikut membeli.
Keputusan investasi akhirnya lebih banyak didorong rasa takut tertinggal dibandingkan pertimbangan risiko dan nilai aset.
FOMO berbahaya karena membuat seseorang masuk ketika euforia sudah tinggi. Pada saat semua orang terlihat optimistis, harga bisa saja sudah mencerminkan ekspektasi yang terlalu mahal.
3. Mengikuti Orang Lain Terasa Lebih Aman
Mengambil keputusan sendiri membutuhkan tanggung jawab.
Dalam herd mentality, jika seseorang membeli saham berdasarkan analisis sendiri kemudian rugi, ia harus menerima bahwa analisanya mungkin keliru. Namun, jika ia rugi bersama banyak orang, kesalahan terasa lebih mudah diterima.
Ada rasa aman psikologis dalam mengikuti kerumunan. Seseorang dapat berkata, “Bukan saya saja yang salah. Banyak orang juga membeli.”
Andrea Devenow dan Ivo Welch dalam penelitian Rational Herding in Financial Economics yang diterbitkan di European Economic Review membahas berbagai alasan mengapa perilaku kawanan dapat muncul dalam dunia keuangan. Dalam sejumlah kondisi, faktor informasi, reputasi, hingga insentif dapat membuat pelaku pasar memilih bergerak bersama kelompok.
Itulah sebabnya herd mentality tidak hanya dapat ditemukan pada investor pemula. Investor profesional dan institusi pun dapat mengalami tekanan untuk tidak terlalu berbeda dari kelompok.
Dalam dunia investasi, berbeda dari mayoritas memang tidak selalu nyaman. Namun, ikut mayoritas tanpa memahami alasan juga tidak otomatis aman.
4. Kenaikan Harga Seolah Membuktikan Kerumunan Benar
Herd mentality dapat menciptakan lingkaran yang memperkuat dirinya sendiri.
Semakin banyak orang membeli suatu aset, permintaan dapat meningkat. Harga kemudian naik. Kenaikan harga itu lalu dianggap sebagai bukti bahwa keputusan membeli sebelumnya memang benar.
Investor baru ikut masuk. Harga kembali terdorong. Cerita keuntungan semakin menyebar. Keyakinan terhadap aset tersebut semakin kuat.
Namun, kenaikan harga tidak selalu berarti fundamental aset menjadi lebih baik. Harga dapat meningkat hanya karena permintaan bertambah.
John R. Nofsinger dan Richard W. Sias dalam penelitian Herding and Feedback Trading by Institutional and Individual Investors yang diterbitkan di The Journal of Finance membahas hubungan antara perilaku kawanan, perdagangan berdasarkan pergerakan harga sebelumnya, dan momentum harga saham.
Dalam praktiknya, momentum dapat membuat orang merasa terlambat jika tidak segera ikut. Padahal, semakin tinggi harga naik karena euforia, semakin besar pula risiko jika ekspektasi tidak terpenuhi.
Ketika sentimen berbalik, proses yang sama juga dapat terjadi ke arah sebaliknya. Kerumunan yang sebelumnya berlomba membeli bisa berubah menjadi kerumunan yang berlomba menjual.
Baca Juga: 7 Bias Psikologis dalam Investasi yang Perlu Diwaspadai
5. Herd Mentality Bisa Berbeda di Setiap Pasar
Perilaku kawanan tidak muncul dengan kekuatan yang sama pada semua pasar.
Eric C. Chang, Joseph W. Cheng, dan Ajay Khorana dalam penelitian An Examination of Herd Behavior in Equity Markets di Journal of Banking & Finance meneliti perilaku investor di beberapa pasar saham internasional. Mereka menemukan bukti herding yang berbeda-beda antarnegara.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa karakter pasar, ketersediaan informasi, kondisi ekonomi, dan perilaku pelaku pasar dapat memengaruhi kecenderungan investor mengikuti kerumunan.
Artinya, herd mentality bukan hukum pasti bahwa investor selalu mengikuti mayoritas. Dalam beberapa kondisi, investor dapat tetap mengambil keputusan independen. Dalam kondisi lain, tekanan sosial dan informasi dari pasar dapat membuat perilaku ikut-ikutan lebih kuat.
Karena itu, investor perlu memahami konteks. Pasar yang sedang euforia, aset yang sangat viral, atau instrumen yang sulit dianalisis biasanya lebih rawan memicu herd mentality.
Apakah Kerumunan Selalu Salah?
Tidak. Menghindari herd mentality bukan berarti harus selalu melawan mayoritas.
Kerumunan kadang benar. Banyak orang bisa membeli aset tertentu karena memang fundamentalnya membaik, prospeknya menarik, atau harganya masih masuk akal. Mengikuti informasi dari orang lain juga bukan sesuatu yang salah.
Masalah muncul ketika seseorang menyerahkan seluruh keputusan kepada kerumunan.
Ada perbedaan besar antara menggunakan pendapat orang lain sebagai bahan pertimbangan dan membeli hanya karena orang lain membeli.
Investor yang sehat dapat mendengar opini, membaca analisis, dan memperhatikan sentimen pasar. Namun, keputusan akhir tetap perlu dikembalikan pada tujuan, profil risiko, horizon investasi, valuasi, dan pemahaman terhadap aset.
Popularitas dapat menjadi sinyal untuk melakukan riset, bukan alasan otomatis untuk membeli.
Cara Menghindari Herd Mentality dalam Investasi
Cara pertama menghindari herd mentality adalah menulis alasan sebelum membeli aset. Jangan hanya menulis “karena lagi naik” atau “karena banyak yang beli”. Tuliskan alasan yang lebih konkret: apa asetnya, bagaimana sumber nilainya, apa risikonya, dan mengapa harga saat ini masih masuk akal.
Cara kedua, tanyakan pertanyaan sederhana: “Apakah saya tetap akan membeli aset ini jika tidak ada seorang pun membicarakannya?”
Jika jawabannya tidak, mungkin keputusan tersebut lebih banyak dipengaruhi keramaian daripada analisis.
Cara ketiga, tetapkan batas alokasi. Jangan menaruh porsi terlalu besar pada aset yang sedang viral hanya karena takut ketinggalan. Batas alokasi membantu mencegah satu keputusan emosional merusak seluruh portofolio.
Cara keempat, gunakan jeda sebelum transaksi. Ketika pasar sangat ramai, tunggu beberapa jam atau beberapa hari sebelum membeli. Jeda dapat membantu menurunkan euforia dan memberi waktu untuk membaca informasi lebih jernih.
Cara kelima, lakukan diversifikasi. Diversifikasi tidak menghilangkan risiko, tetapi dapat mengurangi dampak jika keputusan mengikuti tren ternyata keliru.
Cara keenam, buat jurnal investasi. Catat alasan membeli, target, risiko, dan kondisi yang membuat keputusan harus dievaluasi. Dengan begitu, investor dapat menilai apakah keputusannya berbasis tesis atau sekadar ikut keramaian.
Cara ketujuh, pahami profil risiko pribadi. Tidak semua orang cocok membeli aset volatil hanya karena orang lain terlihat untung. (Sol)
Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun saran investasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi keuangan pribadi.




