FinanSaya.com – Hubungan yang sehat biasanya dibangun di atas kepercayaan. Namun, persoalan kejujuran dalam hubungan tidak hanya berkaitan dengan kesetiaan emosional atau fisik. Uang juga dapat menjadi sumber rahasia yang perlahan merusak rasa percaya antara pasangan. Fenomena ini dikenal sebagai financial infidelity atau perselingkuhan finansial.
Istilah tersebut menggambarkan tindakan seseorang yang menyembunyikan atau memalsukan informasi keuangan dari pasangan, terutama ketika keduanya memiliki kesepakatan atau tanggung jawab finansial bersama.
Financial infidelity tidak selalu berbentuk pengkhianatan besar sejak awal. Kadang dimulai dari hal kecil: menyembunyikan struk belanja, tidak jujur soal harga barang, membuka rekening tanpa memberi tahu pasangan, menyimpan utang kartu kredit, atau memberikan uang kepada orang lain secara diam-diam.
Masalah utamanya bukan semata-mata uang yang keluar. Masalah yang lebih dalam adalah rusaknya kepercayaan.
Apa Itu Financial Infidelity?
Emily Garbinsky, Joe Gladstone, Hristina Nikolova, dan Jenny Olson dalam penelitian Love, Lies, and Money: Financial Infidelity in Romantic Relationships yang diterbitkan di Journal of Consumer Research mendefinisikan financial infidelity sebagai perilaku keuangan yang diperkirakan akan tidak disetujui pasangan dan sengaja tidak diungkapkan kepadanya.
Definisi ini penting karena financial infidelity bukan sekadar membeli barang tanpa izin pasangan. Unsur pentingnya adalah adanya dugaan bahwa pasangan akan keberatan, lalu perilaku tersebut sengaja disembunyikan.
Misalnya, seseorang membeli kopi tanpa memberi tahu pasangan tentu tidak otomatis disebut perselingkuhan finansial. Namun, jika pasangan sudah sepakat membatasi pengeluaran karena sedang melunasi utang, lalu salah satu pihak diam-diam memakai kartu kredit untuk belanja besar dan menyembunyikan tagihannya, situasinya berbeda.
Financial infidelity terjadi ketika rahasia uang melanggar kesepakatan, kepercayaan, atau tanggung jawab bersama.
Bentuk Financial Infidelity dalam Hubungan
Financial infidelity dapat muncul dalam bentuk ringan hingga serius.
Bentuk yang sering terjadi antara lain menyembunyikan pembelian, berbohong tentang harga barang, memakai kartu kredit tanpa memberi tahu pasangan, membuka rekening rahasia, menyembunyikan tabungan, tidak jujur soal penghasilan, atau menutupi jumlah utang.
Ada juga bentuk lain yang lebih kompleks, seperti mengambil uang dari tabungan bersama tanpa persetujuan, menyembunyikan investasi berisiko, berjudi secara diam-diam, memberi uang rutin kepada keluarga atau orang lain tanpa kesepakatan, atau menggunakan nama pasangan untuk kewajiban finansial tertentu.
National Endowment for Financial Education melalui survei bersama The Harris Poll pada 2021 menemukan bahwa sebagian orang dewasa di Amerika Serikat yang pernah menggabungkan keuangan dengan pasangan mengaku pernah melakukan bentuk penipuan finansial, seperti menyembunyikan pembelian, rekening, laporan keuangan, tagihan, atau uang tunai. Informasi riset konsumen NEFE dapat dirujuk melalui National Endowment for Financial Education.
Data tersebut berasal dari Amerika Serikat, sehingga tidak dapat langsung dianggap mewakili pasangan di Indonesia. Namun, temuan itu menunjukkan bahwa rahasia uang dalam hubungan bukan fenomena langka.
Kenapa Pasangan Sembunyikan Uang?
Tidak semua financial infidelity dilakukan dengan niat jahat. Motivasinya bisa beragam.
Sebagian orang menyembunyikan uang karena takut dimarahi. Ada yang merasa malu karena memiliki utang. Ada yang tidak ingin terlihat boros. Ada yang merasa pasangannya terlalu mengontrol. Ada pula yang ingin mempertahankan kebebasan pribadi dalam memakai uang.
Dalam beberapa hubungan, rahasia finansial muncul karena pasangan tidak pernah membuat aturan yang jelas. Mereka menggabungkan sebagian uang, tetapi tidak pernah membahas batas pengeluaran pribadi, batas bantuan untuk keluarga, atau keputusan finansial apa yang harus didiskusikan bersama.
Akibatnya, wilayah abu-abu menjadi besar. Salah satu pihak menganggap tindakannya masih wajar, sementara pihak lain merasa dikhianati.
Ada juga orang yang menyembunyikan kondisi keuangan karena ingin menghindari konflik jangka pendek. Misalnya, ia tidak ingin bertengkar malam itu, sehingga memilih menunda mengaku soal tagihan kartu kredit. Namun, semakin lama ditunda, masalah biasanya semakin sulit dibicarakan.
Financial infidelity sering membesar bukan hanya karena nominal uangnya, tetapi karena kebohongan yang menumpuk.
Dampaknya Bukan Hanya pada Uang
Utang tersembunyi tentu dapat mengganggu kondisi finansial rumah tangga. Tagihan kartu kredit, cicilan, pinjaman, atau pengeluaran yang tidak diketahui pasangan dapat mengubah kemampuan keluarga untuk menabung, membayar kebutuhan anak, membeli rumah, membangun dana darurat, atau mencapai tujuan bersama.
Namun, dampak financial infidelity sering kali lebih besar daripada kerugian uangnya.
Ketika rahasia terbongkar, pasangan dapat mulai bertanya: “Apa lagi yang tidak saya ketahui?” Pertanyaan ini dapat merusak rasa aman dalam hubungan.
Dew, Britt, dan Huston dalam penelitian Examining the Relationship Between Financial Issues and Divorce yang diterbitkan di Family Relations menunjukkan bahwa konflik finansial memiliki hubungan penting dengan kualitas dan stabilitas hubungan pernikahan. Uang bukan hanya soal angka, tetapi juga menyentuh kepercayaan, nilai hidup, tanggung jawab, dan rasa aman.
Dalam konteks financial infidelity, pasangan yang merasa dibohongi mungkin tidak hanya kecewa karena uangnya berkurang. Ia juga merasa kesepakatan dilanggar.
Pada titik tertentu, persoalannya bukan lagi “berapa nominalnya?”, melainkan “apakah saya masih bisa percaya?”
Baca Juga: 5 Ciri Hubungan Tidak Sehat dengan Uang
Privasi Keuangan Berbeda dari Rahasia Finansial
Memiliki ruang pribadi dalam keuangan tidak selalu berarti melakukan financial infidelity.
Pasangan dapat sepakat memiliki rekening pribadi, anggaran hiburan masing-masing, uang pribadi bulanan, atau tabungan sendiri. Banyak pasangan justru merasa lebih sehat ketika ada kombinasi antara keuangan bersama dan ruang pribadi.
Perbedaannya terletak pada kesepakatan dan transparansi.
Jika sejak awal kedua pihak mengetahui dan menyetujui adanya rekening pribadi, hal tersebut bukan pengkhianatan finansial. Jika pasangan sepakat bahwa masing-masing bebas memakai sejumlah uang tertentu tanpa perlu laporan detail, maka pengeluaran dalam batas tersebut bukan masalah.
Sebaliknya, rekening yang sengaja disembunyikan karena pemiliknya tahu pasangan akan keberatan dapat menjadi masalah. Begitu pula utang, cicilan, perjudian, investasi berisiko, atau pengeluaran besar yang disembunyikan dari pasangan yang ikut menanggung dampaknya.
Privasi berarti ada batas pribadi yang disepakati. Rahasia berarti ada informasi penting yang sengaja ditutup karena berpotensi merusak kepercayaan jika diketahui.
Cara Mencegah Financial Infidelity
Financial infidelity dapat dicegah dengan komunikasi keuangan yang lebih terbuka sejak awal.
Pertama, pasangan perlu membahas cara mengatur uang. Apakah seluruh penghasilan digabung? Apakah hanya sebagian? Apakah masing-masing punya rekening pribadi? Siapa yang membayar tagihan tertentu?
Kedua, tentukan batas pengeluaran yang harus didiskusikan. Misalnya, setiap pembelian di atas Rp1 juta harus dibicarakan terlebih dahulu. Angkanya bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan.
Ketiga, sepakati aturan utang. Kapan boleh menggunakan kartu kredit? Apakah boleh memakai paylater? Apakah pinjaman pribadi harus disetujui bersama?
Keempat, bicarakan bantuan untuk keluarga. Banyak konflik terjadi bukan karena seseorang tidak mau membantu keluarga, tetapi karena pasangan merasa keputusan tersebut diambil sepihak.
Kelima, buat jadwal “money talk” secara rutin. Percakapan uang tidak harus menunggu masalah besar. Bisa dilakukan sebulan sekali untuk membahas pemasukan, pengeluaran, tagihan, tujuan, dan kekhawatiran finansial.
Cara Menghadapi Financial Infidelity
Ketika rahasia finansial terungkap, reaksi pertama mungkin berupa marah, kecewa, atau merasa dikhianati. Reaksi tersebut wajar. Namun, penyelesaian masalah membutuhkan gambaran kondisi keuangan yang sebenarnya.
Langkah pertama adalah membuka data. Pasangan perlu mengetahui jumlah utang, saldo rekening, cicilan, kartu kredit, tabungan, investasi, pengeluaran rutin, dan kewajiban yang selama ini disembunyikan.
Langkah kedua adalah memisahkan masalah uang dan masalah kepercayaan. Keduanya berkaitan, tetapi perlu ditangani secara berbeda. Utang membutuhkan rencana pembayaran. Kepercayaan membutuhkan kejujuran, konsistensi, dan waktu.
Langkah ketiga adalah membuat rencana pemulihan. Misalnya, menyusun anggaran baru, menghentikan penggunaan kartu kredit sementara, menjual barang tertentu, membayar utang berbunga tinggi lebih dulu, atau membuat batas pengeluaran yang lebih jelas.
Langkah keempat adalah menentukan sistem transparansi ke depan. Pasangan bisa sepakat menggunakan rekening bersama untuk kebutuhan rumah tangga, laporan tagihan rutin, atau aplikasi pencatatan keuangan.
Langkah kelima, cari bantuan profesional jika masalah berat. Jika financial infidelity melibatkan utang besar, perjudian, kebiasaan belanja kompulsif, kontrol finansial, kekerasan dalam hubungan, atau konflik yang terus berulang, bantuan konselor pasangan, psikolog, perencana keuangan, atau penasihat hukum dapat dipertimbangkan.
Jangan Samakan Semua Masalah Uang dengan Pengkhianatan
Tidak semua kesalahan finansial adalah financial infidelity. Seseorang bisa salah menghitung anggaran, lupa membayar tagihan, atau mengambil keputusan kurang bijak tanpa niat menyembunyikan.
Karena itu, penting melihat pola dan unsur kesengajaan.
Apakah informasi sengaja ditutupi? Apakah ada kebohongan? Apakah tindakan tersebut melanggar kesepakatan? Apakah pasangan ikut menanggung dampak finansialnya? Apakah perilaku itu berulang?
Jika jawabannya ya, persoalannya lebih serius daripada sekadar salah belanja.
Namun, jika masalah muncul karena kurang komunikasi, pasangan masih bisa memperbaikinya dengan membuat aturan yang lebih jelas. (Sol)




