FinanSaya.com – AI bubble kembali menjadi perhatian setelah Bank for International Settlements (BIS) memperingatkan risiko euforia investasi kecerdasan buatan terhadap stabilitas keuangan global. Peringatan itu dimuat dalam Annual Economic Report 2026 yang dirilis BIS pada 28 Juni 2026.
Dalam laporan tersebut, BIS menyebut ekonomi global sempat menunjukkan ketahanan meski menghadapi tarif, konflik geopolitik, dan tekanan inflasi. Namun, lembaga itu menilai sejumlah titik rawan makin besar, termasuk keberlanjutan investasi AI, kerentanan keuangan, posisi fiskal yang melemah, dan risiko inflasi yang lebih persisten.
BIS mencatat optimisme terhadap AI telah menopang belanja modal besar, perdagangan barang antara, dan kondisi keuangan yang longgar. Namun, optimisme yang sama dapat menjadi sumber tekanan apabila ekspektasi keuntungan tidak terpenuhi.
Menurut BIS, lima perusahaan hyperscaler terbesar di Amerika Serikat diperkirakan menggelontorkan lebih dari US$1 triliun untuk belanja modal terkait AI sepanjang 2025 hingga 2026. Belanja tersebut mencakup pusat data, infrastruktur komputasi, perangkat keras, jaringan, dan kebutuhan energi, yang potensinya berujung pada AI bubble.
AI Bubble Muncul dari Belanja Jumbo
Risiko AI bubble muncul karena komitmen investasi tersebut mulai melampaui laba dan arus kas bebas sejumlah perusahaan. BIS menyebut sebagian perusahaan mulai menerbitkan utang untuk menambah pembiayaan.
Kondisi itu membuat boom AI bubble tidak lagi hanya menjadi cerita pertumbuhan teknologi. Jika pembiayaan makin bertumpu pada utang, tekanan dapat bergerak ke neraca perusahaan, pasar kredit, pemasok pusat data, kontraktor infrastruktur, dan perusahaan energi.
BIS menilai kompetisi ketat di sektor AI dapat mendorong perusahaan menggelontorkan investasi terlalu besar demi memenangkan dominasi pasar. Risiko muncul ketika proyek raksasa itu tidak menghasilkan imbal hasil sesuai harapan.
Dalam skenario tersebut, kekecewaan terhadap keuntungan AI dapat memicu pengetatan pembiayaan secara tiba-tiba, dan kekhawatiran akan AI bubble. BIS memperingatkan boom belanja modal AI bisa berubah menjadi investment bust berkepanjangan dan menekan kondisi keuangan lebih luas.
Laporan BIS juga menyoroti hambatan pasokan dalam pembangunan AI, termasuk listrik, semikonduktor canggih, dan peralatan jaringan. Permintaan komputasi yang tumbuh cepat disebut sudah menekan harga listrik dan biaya input, sehingga berpotensi memberi efek lanjutan ke inflasi.
Baca Juga: Mampukah Kecerdasan Buatan Gantikan Akuntan?
Valuasi Saham Teknologi jadi Sorotan
Risiko AI bubble juga terkait valuasi saham. BIS menyebut valuasi ekuitas perusahaan yang berada di pusat pengembangan AI sudah tinggi, sementara ekspektasi pertumbuhan laba jangka panjang untuk korporasi terbesar berada di atas patokan historis.
Sentimen investor ikut menopang valuasi tersebut. BIS mencatat risk premium pada saham besar AS menyempit sejak pandemi Covid-19, menunjukkan kompensasi risiko yang lebih rendah di tengah kuatnya narasi AI bubble.
Jika investor mulai meragukan kemampuan perusahaan AI mencetak laba sesuai ekspektasi, koreksi saham teknologi dapat merembet ke pasar lain. Dampaknya bisa lebih besar karena eksposur rumah tangga terhadap saham meningkat dalam beberapa dekade terakhir, baik terhadap total kekayaan maupun pendapatan.
BIS tidak menyatakan krisis keuangan pasti terjadi. Namun, lembaga itu membandingkan boom bubble AI dengan canal mania pada 1830-an, railway mania pada 1840-an, euforia elektrifikasi pada 1920-an, dan dot-com boom pada akhir 1990-an.
Kesamaan dari episode itu adalah adanya terobosan teknologi nyata yang menarik modal besar. Namun, tidak semua investasi akhirnya menghasilkan keuntungan komersial yang cukup untuk membenarkan valuasi dan skala belanja.
BIS tetap mengakui AI berpotensi meningkatkan produktivitas. Studi tingkat tugas yang dikutip BIS menunjukkan efisiensi waktu dapat mencapai 20 persen hingga 50 persen, meski estimasi produktivitas agregat jangka panjang lebih konservatif, kurang dari 1 persen.
Karena itu, isu AI bubble lebih tepat dibaca sebagai peringatan kehati-hatian. Teknologinya bisa nyata dan produktif, tetapi risiko pasar muncul jika investasi, valuasi, dan pembiayaan bergerak lebih cepat daripada laba yang benar-benar dihasilkan.
BIS menekankan disiplin kebijakan sebagai respons utama. Prioritasnya mencakup menjaga stabilitas harga, memulihkan ruang fiskal, memperkuat stabilitas keuangan di luar sektor perbankan, dan mendorong reformasi struktural agar pertumbuhan tetap sehat. (Sol)




