FinanSaya.com – Perubahan komposisi cadangan devisa global kembali menjadi perhatian setelah Jepang dan China disebut mengurangi kepemilikan obligasi Amerika atau US Treasury dalam jumlah besar.
Mantan pegawai Microsoft bernama Gus menyoroti laporan bahwa Jepang telah melepas sekitar US$71 miliar US Treasury.
China juga disebut menjual sekitar US$62 miliar obligasi Amerika Serikat.
Jika digabungkan, nilai penjualan kedua negara mencapai sekitar US$133 miliar.
“Jepang telah menjual US Treasury senilai US$71 miliar untuk mempertahankan yen. China telah menjual US$62 miliar lainnya,” ujar Gus.
Obligasi Amerika Dilepas Dua Raksasa Asia
Gus menilai penurunan kepemilikan obligasi Amerika oleh Jepang dan China tidak cukup dibaca sebagai transaksi portofolio biasa.
Menurutnya, perkembangan tersebut perlu dilihat bersama tren diversifikasi cadangan, meningkatnya peran emas, dan upaya sejumlah negara mengurangi ketergantungan terhadap sistem keuangan berbasis dolar AS.
Meski demikian, penurunan kepemilikan Treasury tidak selalu berarti aksi jual besar-besaran dalam satu waktu.
Nilai kepemilikan dapat berubah karena transaksi cadangan, obligasi jatuh tempo, pergerakan harga, perubahan nilai tukar, atau penyesuaian durasi portofolio.
Karena itu, pergerakan ini lebih tepat dibaca sebagai bagian dari dinamika cadangan devisa global yang perlu dilihat dalam tren lebih panjang.
Jepang Fokus Menjaga Yen
Motif Jepang dinilai berbeda dari China.
Menurut Gus, Jepang lebih berfokus mempertahankan stabilitas yen ketika mata uang domestiknya menghadapi tekanan.
Sebagai pemegang cadangan devisa besar, Jepang memiliki aset likuid yang dapat digunakan untuk intervensi pasar valuta asing.
US Treasury menjadi salah satu instrumen yang bisa dicairkan ketika otoritas membutuhkan dolar untuk membeli yen.
Dengan demikian, penjualan obligasi Amerika oleh Jepang tidak otomatis berarti Tokyo meninggalkan dolar AS.
Gus melihat langkah Jepang lebih sebagai respons untuk menjaga stabilitas mata uang dan menghindari tekanan keuangan lebih luas.
“Jepang tidak mencoba memicu keruntuhan. Mereka mencoba mempertahankan yen dan menghindari krisis keuangan yang jauh lebih besar,” katanya.
China Punya Strategi Lebih Panjang
Berbeda dari Jepang, strategi China disebut memiliki dimensi jangka panjang.
Gus menilai Beijing sedang berupaya membangun kemandirian lebih besar dari sistem berbasis dolar AS.
Upaya itu tidak hanya menyangkut komposisi cadangan devisa. China juga dikaitkan dengan penguatan penggunaan yuan, akumulasi emas, sistem pembayaran lintas batas, hingga infrastruktur perdagangan baru.
“China tidak hanya membeli emas. Mereka membangun seluruh sistem keuangan di sekitarnya,” ujar Gus.
Dalam pandangan tersebut, pengurangan eksposur terhadap obligasi Amerika menjadi salah satu bagian dari strategi yang lebih luas.
Tujuannya bukan sekadar menjual aset dolar, tetapi memperbesar ruang bagi yuan dalam transaksi internasional.
Emas Masuk Strategi Cadangan
Emas menjadi bagian penting dalam analisis Gus.
Ia menyoroti bahwa China telah melakukan pembelian emas secara berkelanjutan selama lebih dari 20 bulan.
Bagi bank sentral, emas memiliki karakter yang berbeda dari surat utang negara asing.
Emas fisik yang disimpan sendiri tidak bergantung pada kemampuan negara lain membayar utangnya. Aset ini juga tidak membawa risiko kredit seperti obligasi pemerintah.
Karakter tersebut membuat emas menarik bagi negara yang ingin mendiversifikasi cadangan.
Jika bank sentral meningkatkan porsi emas, ketergantungan terhadap aset berbasis dolar dapat berkurang secara bertahap.
Hong Kong dan Kliring Emas Disorot
Gus juga mengaitkan strategi China dengan perkembangan infrastruktur emas di Hong Kong.
Menurutnya, pada Juli 2026, sistem kliring emas yang didukung pemerintah Hong Kong mulai menjalani operasi uji coba dan terhubung dengan Shanghai Gold Exchange.
Perkembangan ini disebut dapat memperkuat jaringan penyimpanan dan perdagangan emas di kawasan tersebut.
Baca Juga: Cara Cuan dari Obligasi Tanpa Harus Trading Saham
Jika sistem itu berkembang, China berpotensi memiliki lebih banyak opsi dalam memfasilitasi transaksi lintas batas yang melibatkan emas dan yuan.
Bagi Gus, aspek infrastruktur inilah yang membedakan strategi China dari sekadar pembelian emas oleh bank sentral.
De-Dolarisasi Tidak Terjadi Mendadak
Analisis mengenai penjualan obligasi Amerika sering dikaitkan dengan de-dolarisasi.
Namun, de-dolarisasi tidak berarti dominasi dolar AS hilang secara tiba-tiba.
Dolar masih memegang peran besar dalam perdagangan global, pasar modal, pembiayaan internasional, dan cadangan devisa.
Pasar US Treasury juga masih memiliki skala dan likuiditas yang sulit ditandingi aset lain.
Karena itu, perubahan sistem cadangan global kemungkinan lebih menyerupai diversifikasi bertahap daripada penggantian dolar dalam waktu singkat.
Negara dapat mengurangi Treasury karena kebutuhan likuiditas, perubahan kurs, manajemen risiko, atau kebijakan domestik tanpa bermaksud meninggalkan dolar sepenuhnya.
Dampak ke Yield Treasury
Jika pemegang asing besar terus mengurangi permintaan terhadap US Treasury, dampaknya dapat terasa pada pasar obligasi Amerika.
Secara teori, berkurangnya permintaan dapat menekan harga obligasi dan mendorong yield naik.
Yield Treasury penting karena menjadi acuan bagi banyak instrumen keuangan global, termasuk kredit korporasi, pinjaman, hingga hipotek.
Namun, pasar Treasury sangat besar dan memiliki basis investor luas.
Karena itu, penjualan oleh Jepang atau China tidak otomatis memicu krisis di pasar utang AS.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah tren pengurangan obligasi Amerika ini menjadi struktural dan diikuti lebih banyak pemegang cadangan global.
Emas dan Bitcoin Ikut Masuk Narasi
Jika diversifikasi cadangan terus berlanjut, emas berpotensi menjadi salah satu aset yang diuntungkan.
Bank sentral tidak perlu mengganti seluruh kepemilikan dolar dengan emas agar dampaknya terasa.
Perpindahan sebagian kecil cadangan global saja dapat menciptakan tambahan permintaan besar karena pasar emas yang tersedia untuk diperdagangkan lebih terbatas dibanding ukuran cadangan devisa dunia.
Gus juga mengaitkan perkembangan ini dengan Bitcoin dan siklus pasar 2026-2027.
Bitcoin bukan aset cadangan utama bank sentral seperti emas. Namun, narasi tentang currency debasement, diversifikasi dari aset fiat, dan kelangkaan moneter sering digunakan investor Bitcoin.
Meski demikian, Bitcoin memiliki volatilitas jauh lebih tinggi dan profil risiko berbeda dibandingkan emas.
Karena itu, sentimen positif untuk emas tidak otomatis berarti Bitcoin akan bergerak dengan pola yang sama.
Tren Panjang Lebih Penting
Sorotan Gus pada akhirnya mengarah pada pertanyaan besar tentang arah cadangan global.
Jepang disebut menjual Treasury untuk menjaga yen. China dinilai mengurangi ketergantungan terhadap dolar sambil memperkuat yuan dan emas.
Di sisi lain, dominasi dolar belum bisa disebut runtuh hanya karena perubahan kepemilikan dalam satu periode.
Tren multi-tahun akan menjadi indikator yang lebih penting untuk menilai apakah negara-negara benar-benar sedang mengubah strategi cadangan secara struktural.
Dalam analisis Gus, Jepang disebut melepas US$71 miliar US Treasury dan China US$62 miliar, sehingga total penjualan obligasi Amerika yang disorot mencapai sekitar US$133 miliar. (Sol)




