Perkuat Fondasi Ekonomi Global, Indonesia Dorong Reformasi

|

5 Views
Perkuat Fondasi Ekonomi Global, Indonesia Dorong Reformasi

FinanSaya.com – Indonesia mendorong penguatan fondasi ekonomi global melalui reformasi pro-pertumbuhan, kerja sama internasional, inovasi, dan perlindungan konsumen di era digital.

Agenda itu dibawa dalam Pertemuan Kedua Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral G20 atau G20 Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting di bawah Presidensi Amerika Serikat.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memimpin delegasi Kementerian Keuangan mewakili Menteri Keuangan dalam forum yang digelar di Asheville, North Carolina, pada 31 Agustus hingga 1 September 2026.

Pertemuan tersebut membahas perkembangan fondasi ekonomi global, risiko yang masih membayangi, serta upaya memperkuat pertumbuhan yang berkelanjutan, inklusif, dan resilien.

Fondasi Ekonomi Global Jadi Fokus

Di bawah Presidensi Amerika Serikat, G20 kembali menempatkan penguatan pertumbuhan ekonomi sebagai fokus utama.

Agenda yang dibahas mencakup reformasi untuk mengurangi hambatan struktural, memperkuat ketahanan ekonomi, mendorong inovasi, dan meningkatkan produktivitas.

Para anggota G20 menilai fondasi ekonomi global masih menunjukkan ketahanan di tengah berbagai guncangan. Namun, prospeknya tetap menghadapi sejumlah risiko.

Risiko yang disorot meliputi konflik geopolitik, ketegangan perdagangan, gangguan rantai pasok, tingginya tingkat utang, dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan.

Di sisi lain, investasi dan inovasi di bidang kecerdasan artifisial atau AI mulai memberi dukungan terhadap pertumbuhan. Namun, manfaat dan dampaknya belum dirasakan secara merata di semua negara.

Indonesia Dorong Reformasi Pro Pertumbuhan

Dalam pembahasan penguatan pertumbuhan, Juda Agung menekankan pentingnya reformasi pro-pertumbuhan atau pro-growth reforms.

Ia menyoroti tiga area utama yang perlu menjadi perhatian bersama. Pertama, reformasi struktural dan penyederhanaan regulasi. Kedua, penguatan kerja sama internasional. Ketiga, penguatan inovasi dan pemanfaatan teknologi.

“Reformasi pro-pertumbuhan perlu diarahkan untuk mengurangi hambatan terhadap kegiatan usaha dan investasi, memperkuat kerja sama internasional, serta mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi sebagai sumber pertumbuhan baru dalam fondasi ekonomi global,” terangnya.

Menurut Juda, reformasi tersebut diperlukan agar ekonomi mampu bergerak lebih produktif dan adaptif di tengah tantangan global.

Dengan pendekatan itu, penguatan fondasi ekonomi global tidak hanya bertumpu pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga pada perubahan struktural yang memperbaiki daya saing.

Indonesia Bagikan Pengalaman Reformasi

Dalam forum G20 tersebut, Indonesia juga membagikan pengalaman dalam penyederhanaan regulasi untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif.

Selain itu, Indonesia memperkuat sektor keuangan melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan atau UU P2SK.

Pemerintah juga mendorong transformasi struktural melalui hilirisasi sumber daya alam dan pengembangan industri bernilai tambah tinggi.

Di sektor Badan Usaha Milik Negara, Indonesia terus memperkuat tata kelola. Penataan dan perampingan kelembagaan BUMN dilakukan untuk meningkatkan efisiensi, daya saing, dan kinerja.

Langkah tersebut diharapkan membuat BUMN dapat memberi kontribusi lebih besar terhadap perekonomian nasional.

AI Dinilai Bisa Percepat Produktivitas

Juda juga menyoroti pemanfaatan AI dan teknologi baru sebagai akselerator pertumbuhan.

Namun, pemanfaatan teknologi tidak bisa berdiri sendiri. Diperlukan infrastruktur dasar, sumber daya manusia, dan ekosistem digital yang memadai.

Tanpa fondasi tersebut, manfaat teknologi berisiko hanya terkonsentrasi pada negara atau kelompok tertentu.

Karena itu, pembahasan AI dalam forum G20 tidak hanya berkaitan dengan inovasi, tetapi juga pemerataan manfaat, kesiapan kelembagaan, dan kemampuan negara memanfaatkan teknologi secara produktif.

Sektor Swasta Masuk Dialog G20

Sebagai bagian dari upaya memperkuat fondasi ekonomi global, G20 juga membahas peran sektor swasta.

Untuk pertama kalinya, G20 menghadirkan dialog langsung dengan pelaku usaha dari sektor kesehatan, manufaktur, dan jasa keuangan.

Dialog tersebut memberi perspektif dunia usaha tentang faktor yang mendukung maupun menghambat investasi dan pertumbuhan.

Baca Juga: Fondasi Ekonomi Nasional Diperkuat Lewat PFII

Forum ini juga memperkaya pembahasan mengenai tantangan pemanfaatan AI dan teknologi baru dari sudut pandang pelaku industri.

Juda menilai keterlibatan sektor swasta penting agar agenda reformasi tidak berhenti di tingkat kebijakan.

Keterlibatan dunia usaha diperlukan agar reformasi dapat diterjemahkan menjadi investasi, peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.

Ketidakseimbangan Global Disorot

G20 juga membahas isu ketidakseimbangan ekonomi global atau global imbalances.

Isu ini menjadi salah satu tantangan dalam menciptakan pertumbuhan global yang lebih seimbang dan berkelanjutan.

Dalam pembahasan tersebut, Juda menekankan pentingnya memperkuat peran lembaga internasional dalam memantau perkembangan ketidakseimbangan global.

Lembaga internasional juga dinilai perlu memberi rekomendasi kebijakan dengan mempertimbangkan karakteristik dan faktor eksternal masing-masing negara.

Menurut Juda, respons terhadap global imbalances perlu memperhatikan perbedaan struktur ekonomi, kebijakan domestik, dan posisi tiap negara dalam ekonomi global.

Pendekatan fondasi ekonomi global yang lebih komprehensif dibutuhkan agar stabilitas global tetap terjaga tanpa menghambat pertumbuhan berkelanjutan.

Perlindungan Konsumen Era Digital

Di sektor keuangan, Presidensi G20 turut mengangkat pentingnya literasi keuangan dan perlindungan konsumen.

Isu ini semakin penting karena digitalisasi memperluas akses layanan keuangan, tetapi juga meningkatkan risiko fraud, scam, dan kejahatan keuangan lain.

Risiko tersebut semakin kompleks karena banyak kasus melibatkan jaringan lintas negara.

Juda menekankan literasi keuangan perlu berjalan bersama perlindungan konsumen. Indonesia disebut telah membangun koordinasi kelembagaan untuk meningkatkan literasi keuangan.

Selain itu, Indonesia mengembangkan Anti-Scam Center untuk memperkuat penanganan fraud dan scam di sektor keuangan.

“Perkembangan digitalisasi perlu diimbangi dengan penguatan literasi dan perlindungan konsumen. Mengingat fraud dan scam semakin kompleks dan bersifat lintas batas, diperlukan kerja sama internasional, pertukaran informasi, dan koordinasi antarnegara yang semakin kuat,” terangnya.

Indonesia Dukung Sinergi G20 dan FATF

Juda juga menegaskan Indonesia akan terus mendukung penguatan sinergi antara agenda G20 dan Financial Action Task Force.

Dukungan itu diarahkan untuk memperkuat kerangka pencegahan dan penanganan fraud serta kejahatan keuangan.

Langkah tersebut juga penting untuk menjaga integritas dan kepercayaan terhadap sistem keuangan global.

Melalui partisipasi aktif di G20, Indonesia mendorong agenda ekonomi global yang berorientasi pada pertumbuhan, reformasi struktural, inovasi, stabilitas, dan inklusivitas.

Dalam forum di Asheville, Indonesia menempatkan reformasi pro-pertumbuhan, kerja sama internasional, AI, sektor swasta, respons terhadap global imbalances, serta perlindungan konsumen digital sebagai bagian dari penguatan fondasi ekonomi global. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya