FinanSaya.com – Kenaikan penghasilan biasanya dianggap sebagai kabar baik. Namun, tidak sedikit orang justru merasa kondisi keuangannya tetap “segitu-gitu saja” meski pendapatan meningkat. Gaji memang naik, tetapi tabungan tidak banyak berubah. Penghasilan lebih besar, tetapi akhir bulan tetap terasa sempit. Salah satu penyebabnya adalah lifestyle creep.
Lifestyle creep sering terjadi tanpa disadari karena peningkatan konsumsi berlangsung sedikit demi sedikit. Bukan langsung membeli rumah mewah atau mobil mahal, melainkan dari keputusan kecil yang berulang: lebih sering makan di luar, naik kelas langganan, membeli barang lebih mahal, mengganti gadget lebih cepat, atau mengambil cicilan yang dulu tidak berani diambil.
Masalahnya bukan pada menikmati hasil kerja keras. Masalah muncul ketika hampir seluruh kenaikan pendapatan terserap untuk gaya hidup, sementara tabungan, investasi, dan keamanan finansial tidak ikut naik.
Apa Itu Lifestyle Creep?
Lifestyle creep adalah kondisi ketika pengeluaran seseorang meningkat mengikuti kenaikan pendapatan. Semakin besar penghasilan, semakin tinggi pula standar konsumsi yang dianggap normal.
Saat pendapatan masih kecil, seseorang mungkin merasa cukup dengan makan sederhana, transportasi hemat, dan hiburan murah. Namun, setelah penghasilan naik, standar tersebut ikut berubah. Restoran yang dulu dianggap mahal mulai terasa biasa. Langganan digital bertambah. Barang yang dulu dianggap mewah mulai terasa wajar.
Lifestyle creep sering tidak terasa karena terjadi perlahan. Seseorang tidak merasa sedang boros karena setiap kenaikan pengeluaran tampak masuk akal. “Gaji sudah naik, masa tidak boleh menikmati?” Kalimat itu tidak salah. Namun, jika selalu digunakan untuk membenarkan semua pengeluaran baru, kenaikan pendapatan tidak pernah benar-benar memperkuat keuangan.
Milton Friedman dalam A Theory of the Consumption Function menjelaskan melalui gagasan permanent income bahwa konsumsi dipengaruhi oleh pendapatan yang dianggap dapat dipertahankan dalam jangka panjang. Ketika seseorang merasa kenaikan pendapatannya bersifat stabil, ia dapat merasa lebih aman meningkatkan pengeluaran.
1. Penghasilan Naik, tetapi Tabungan Tidak Banyak Berubah
Tanda lifestyle creep yang paling mudah terlihat adalah pendapatan bertambah, tetapi saldo tabungan atau investasi tidak mengalami peningkatan berarti.
Misalnya, penghasilan naik Rp2 juta per bulan. Secara ideal, sebagian dari kenaikan itu dapat dialihkan untuk dana darurat, investasi, atau pelunasan utang. Namun, dalam praktiknya, tambahan tersebut langsung terserap untuk makan lebih mahal, nongkrong lebih sering, belanja pakaian, membeli gadget, atau menambah langganan layanan.
Akibatnya, kemampuan menabung tetap sama seperti sebelum pendapatan meningkat. Bahkan dalam beberapa kasus, pengeluaran justru naik lebih cepat daripada penghasilan.
Tanda ini perlu diperhatikan karena kenaikan pendapatan seharusnya tidak hanya meningkatkan kenyamanan hidup, tetapi juga memperkuat posisi finansial. Jika gaji naik berkali-kali tetapi tabungan tetap kecil, masalahnya mungkin bukan jumlah pendapatan, melainkan pola penggunaan uang.
Otoritas Jasa Keuangan melalui Sikapi Uangmu menekankan pentingnya perencanaan keuangan, pengelolaan anggaran, dan kebiasaan menyisihkan uang. Prinsip ini sangat relevan ketika seseorang mengalami kenaikan penghasilan.
2. Pengeluaran yang Dulu Mewah Sekarang Terasa Wajib
Tanda kedua lifestyle creep adalah berubahnya kemewahan menjadi kebutuhan.
Dulu kopi mahal mungkin hanya dibeli pada akhir pekan. Setelah penghasilan naik, kebiasaan itu menjadi rutinitas harian. Dulu makan di restoran tertentu terasa spesial. Sekarang terasa sebagai pilihan normal. Dulu menginap di hotel murah masih nyaman. Sekarang standar minimalnya harus hotel yang lebih mahal.
Perubahan ini berkaitan dengan hedonic adaptation, yaitu kecenderungan manusia beradaptasi dengan pengalaman menyenangkan sehingga lama-kelamaan pengalaman tersebut terasa biasa.
Kennon Sheldon dan Sonja Lyubomirsky dalam penelitian The Challenge of Staying Happier menjelaskan bahwa efek menyenangkan dari perubahan positif dapat berkurang seiring waktu, sementara aspirasi seseorang dapat meningkat.
Dalam konteks keuangan, sesuatu yang awalnya terasa istimewa lambat laun menjadi standar baru. Akibatnya, seseorang membutuhkan konsumsi lebih tinggi hanya untuk mendapatkan rasa puas yang sebelumnya muncul pada tingkat pengeluaran lebih rendah.
Inilah mengapa lifestyle creep sering sulit dihentikan. Bukan karena satu pengeluaran besar, tetapi karena standar “normal” terus naik.
3. Biaya Tetap Bulanan Semakin Banyak
Lifestyle creep bukan hanya soal membeli barang mahal sesekali. Risiko yang lebih serius muncul ketika gaya hidup berubah menjadi kewajiban bulanan.
Contohnya cicilan kendaraan lebih mahal, sewa tempat tinggal lebih tinggi, keanggotaan gym premium, paket internet lebih besar, langganan aplikasi, cicilan gadget, biaya perawatan kendaraan, atau biaya rutin untuk gaya hidup tertentu.
Pengeluaran seperti ini lebih berbahaya karena sulit dikurangi secara cepat. Sekali menjadi komitmen bulanan, uang sudah keluar bahkan sebelum seseorang sempat memutuskan ulang.
Baca Juga: 10 Prinsip Warren Buffett untuk Hidup Lebih Tenang
Raj Chetty dan Adam Szeidl dalam penelitian Consumption Commitments and Habit Formation di Econometrica membahas consumption commitments, yaitu pengeluaran yang sulit segera disesuaikan karena sudah menjadi komitmen rumah tangga.
Semakin banyak pendapatan terikat pada biaya tetap, semakin kecil fleksibilitas keuangan. Seseorang dapat memiliki gaji besar tetapi tetap merasa sempit karena sebagian besar uang sudah memiliki “tujuan” sebelum diterima.
Dalam lifestyle creep, jika gaji naik tetapi biaya tetap ikut naik, ruang untuk menabung tidak otomatis bertambah.
4. Mulai Membandingkan Gaya Hidup dengan Orang Lain
Tanda berikutnya lifestyle creep adalah keputusan belanja semakin dipengaruhi lingkungan sosial.
Mobil lama sebenarnya masih layak, tetapi terasa kurang pantas karena rekan kerja menggunakan mobil lebih mahal. Ponsel masih berfungsi baik, tetapi muncul keinginan mengganti karena orang sekitar memakai perangkat terbaru. Liburan sederhana terasa kurang menarik karena media sosial penuh foto perjalanan orang lain.
Perbandingan sosial dapat membuat seseorang merasa pengeluarannya wajar, padahal sebenarnya sedang mengejar standar hidup orang lain.
Thorstein Veblen dalam The Theory of the Leisure Class memperkenalkan gagasan conspicuous consumption, yaitu konsumsi yang dilakukan untuk menunjukkan status sosial. Karya klasik ini dapat diakses melalui Project Gutenberg.
Jika kenaikan pendapatan membuat seseorang terus mengejar standar lingkungan, lifestyle creep dapat berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.
5. Pendapatan Besar, tetapi Keuangan Tetap Mudah Terguncang
Tanda paling serius dalam lifestyle creep muncul ketika gaya hidup semakin mahal, tetapi bantalan finansial tidak ikut membesar.
Pendapatan mungkin meningkat, tetapi kehilangan pekerjaan selama beberapa bulan tetap membuat keuangan kacau. Pengeluaran medis mendadak membuat seseorang harus berutang. Kendaraan rusak sedikit saja langsung mengganggu arus kas. Bonus terlambat turun membuat tagihan mulai tertunda.
Ini bisa terjadi karena kenaikan pendapatan lebih banyak diarahkan untuk konsumsi daripada dana darurat.
Cara Mencegah Lifestyle Creep
Meningkatkan kualitas hidup ketika penghasilan naik bukan hal yang salah. Setelah bekerja keras, wajar jika seseorang ingin makan lebih enak, tinggal lebih nyaman, atau membeli barang yang dulu belum mampu dibeli.
Masalahnya muncul ketika seluruh kenaikan pendapatan otomatis berubah menjadi kenaikan konsumsi.
Cara pertama untuk mencegah lifestyle creep adalah menentukan porsi kenaikan pendapatan sebelum uang dipakai. Misalnya, setiap kali gaji naik, 50 persen dari kenaikan langsung dialihkan ke tabungan, investasi, atau pelunasan utang. Sisanya boleh digunakan untuk meningkatkan kualitas hidup.
Richard Thaler dan Shlomo Benartzi dalam penelitian Save More Tomorrow di Journal of Political Economy menunjukkan bahwa komitmen mengalokasikan sebagian kenaikan pendapatan masa depan dapat membantu meningkatkan tingkat tabungan. Prinsip ini bisa diterapkan secara sederhana dalam keuangan pribadi.
Kedua, pisahkan rekening gaya hidup dan rekening tujuan finansial. Jika uang tujuan penting bercampur dengan uang belanja, godaan untuk memakainya akan lebih besar.
Ketiga, hati-hati dengan biaya tetap. Sebelum mengambil cicilan, langganan, atau komitmen bulanan baru, tanyakan apakah pengeluaran itu tetap aman jika pendapatan turun.
Keempat, naikkan tabungan lebih dulu sebelum menaikkan gaya hidup. Jangan menunggu “sisa uang” karena sering kali tidak ada yang tersisa.
Kelima, evaluasi pengeluaran setiap beberapa bulan. Perhatikan apakah ada pengeluaran yang dulu terasa pilihan, tetapi sekarang berubah menjadi kewajiban tanpa disadari.
Keenam, batasi perbandingan sosial. Keuangan pribadi tidak harus mengikuti standar teman, rekan kerja, atau orang di media sosial. (Sol)




