5 Ciri Hubungan Tidak Sehat dengan Uang

|

5 Views
5 Ciri Hubungan Tidak Sehat dengan Uang

FinanSaya.com – Uang seharusnya menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan, mencapai tujuan, dan memberikan rasa aman. Namun, bagi sebagian orang, hubungan tidak sehat dengan uang.

Karena itu, memiliki banyak atau sedikit uang sebenarnya tidak otomatis menentukan apakah seseorang memiliki hubungan yang sehat dengan uang.

Seseorang dengan penghasilan tinggi sekalipun bisa terus merasa kekurangan. Sebaliknya, seseorang yang memiliki tabungan cukup bisa merasa sangat bersalah setiap kali harus mengeluarkan uang.

Dalam psikologi keuangan, keyakinan dan perilaku seperti ini mulai banyak dipelajari. Bradley Klontz, Sonya Britt, Jennifer Mentzer, dan Ted Klontz dalam penelitian Money Beliefs and Financial Behaviors menjelaskan konsep money scripts, yaitu keyakinan bawah sadar tentang uang yang dapat memengaruhi perilaku finansial seseorang.

Dengan kata lain, masalah keuangan tidak selalu hanya berasal dari angka. Kadang, masalahnya ada pada cara seseorang memandang, merasakan, dan menggunakan uang.

Lantas, seperti apa ciri orang yang memiliki hubungan tidak sehat dengan uang?

1. Selalu Menghindari Masalah Keuangan

Salah satu tanda paling jelas hubungan tidak sehat dengan uang adalah enggan mengetahui kondisi keuangan sendiri.

Orang tersebut mungkin jarang mengecek saldo rekening, tidak ingin melihat tagihan kartu kredit, mengabaikan jumlah utang, menunda membuat anggaran, atau merasa cemas setiap kali harus membuka aplikasi bank.

Masalahnya bukan sekadar malas mencatat pengeluaran. Dalam hubungan tidak sehat ini, ada ketidaknyamanan emosional setiap kali berhadapan dengan uang, sehingga menghindar terasa lebih mudah.

Dalam penelitian lain tentang perilaku uang bermasalah, Klontz dan rekan-rekannya membahas pola financial denial, yaitu kecenderungan menghindari atau menyangkal kondisi finansial. Bentuknya bisa berupa tidak mau melihat laporan keuangan, tidak menghitung utang, atau bersikap seolah masalah keuangan tidak ada.

Menghindar memang bisa memberi rasa lega sementara. Namun, tagihan tetap berjalan, bunga tetap bertambah, dan utang tidak hilang hanya karena tidak dilihat.

Hubungan yang lebih sehat dengan uang dimulai dari keberanian melihat angka apa adanya. Tidak harus langsung sempurna. Langkah sederhana seperti mencatat utang, mengecek saldo, dan menulis pengeluaran mingguan sudah dapat menjadi awal.

2. Belanja Digunakan untuk Mengatur Emosi

Sesekali membeli makanan enak atau barang yang disukai setelah hari yang melelahkan tentu bukan masalah. Uang memang boleh digunakan untuk menikmati hidup.

Namun, perlu diwaspadai ketika belanja terus-menerus menjadi cara utama untuk mengatasi stres, kesepian, marah, kecewa, atau rasa tidak berharga.

Seseorang bisa merasa lebih baik setelah berbelanja. Tetapi beberapa jam kemudian, rasa bersalah lantaran hubungan tidak sehat dengan uang pun muncul. Ketika emosi buruk datang lagi, siklus yang sama terulang: stres, belanja, lega sebentar, menyesal, lalu stres lagi.

Ronald Faber dan Thomas O’Guinn dalam penelitian A Clinical Screener for Compulsive Buying menunjukkan bahwa perilaku membeli secara kompulsif tidak hanya berkaitan dengan barang yang dibeli, tetapi juga dorongan dan perasaan yang menyertai aktivitas belanja.

Dengan kata lain, masalahnya bukan sekadar “boros”. Masalah muncul ketika belanja menjadi mekanisme utama untuk mengatur emosi.

Ciri ini dapat terlihat dari kebiasaan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, merasa sulit berhenti saat belanja, menyembunyikan pembelian dari orang lain, atau menggunakan cicilan dan paylater hanya untuk meredakan emosi sesaat.

Dalam konteks hubungan tidak sehat dengan uang, jika belanja selalu menjadi pelarian, uang tidak lagi hanya dipakai untuk membeli barang. Uang mulai digunakan untuk menenangkan luka yang sebenarnya membutuhkan cara penanganan lain.

3. Harga Diri Ditentukan oleh Jumlah Uang

Ciri berikutnya dalam hubungan tidak sehat dengan uang adalah menjadikan uang sebagai ukuran nilai diri.

Orang dengan pola ini mungkin merasa lebih sukses ketika memiliki mobil mahal, pakaian bermerek, rumah besar, gadget terbaru, atau barang yang dianggap menunjukkan status. Sebaliknya, ketika kondisi finansial menurun atau melihat orang lain lebih kaya, rasa percaya dirinya ikut jatuh.

Dalam konsep money scripts, Klontz dan rekan-rekannya menyebut pola seperti ini sebagai money status. Seseorang menghubungkan kekayaan, pencapaian finansial, dan kepemilikan barang dengan harga dirinya.

Akibatnya, uang tidak lagi sekadar alat untuk hidup. Uang menjadi bukti bahwa seseorang “berhasil”, “layak dihormati”, atau “tidak kalah” dari orang lain.

Masalah ini sering diperburuk oleh perbandingan sosial. Media sosial membuat seseorang mudah melihat rumah orang lain, liburan orang lain, karier orang lain, dan gaya hidup orang lain. Padahal yang terlihat hanya sebagian kecil dari hidup mereka.

Seseorang bisa merasa tertinggal hanya karena membandingkan kondisi keuangannya dengan potongan terbaik dari hidup orang lain.

Hubungan tidak sehat dengan uang dalam bentuk ini dapat membuat seseorang mengeluarkan uang bukan karena butuh, tetapi karena ingin terlihat berhasil.

Baca Juga: Penitipan Hewan Peliharaan Bisa Jadi Peluang Cuan Besar?

4. Tidak Pernah Merasa Punya Uang yang Cukup

Keinginan meningkatkan penghasilan adalah hal normal. Menabung lebih banyak, mencari pekerjaan lebih baik, atau membangun usaha bukan sesuatu yang salah.

Masalah muncul ketika berapa pun jumlah uang yang dimiliki tidak pernah mampu memberikan rasa aman.

Pendapatan Rp5 juta terasa kurang. Ketika naik menjadi Rp10 juta masih kurang. Tabungan Rp100 juta pun tetap membuat seseorang takut akan kehabisan uang. Setiap pengeluaran kecil terasa mengancam. Setiap risiko hidup terasa seperti tanda bahwa uang tidak akan pernah cukup.

Dalam konsep money scripts, terdapat pola yang disebut money worship, yaitu keyakinan bahwa lebih banyak uang akan menyelesaikan hampir semua masalah dan bahwa seseorang tidak pernah benar-benar memiliki uang yang cukup.

Hubungan tidak sehat dari pola ini dapat membuat seseorang terus mengejar uang tanpa pernah merasa aman. Bahkan ketika kondisi finansial membaik, rasa cemas tetap mengikuti.

Kristy Archuleta, Anita Dale, dan Scott Spann dalam penelitian di Journal of Financial Counseling and Planning membahas hubungan antara kepuasan finansial, utang, dan kecemasan finansial. Temuan semacam ini menunjukkan bahwa kesehatan finansial tidak hanya soal jumlah uang, tetapi juga bagaimana seseorang merasakan kondisi keuangannya.

Tentu, rasa khawatir soal uang bisa wajar, terutama jika penghasilan belum stabil atau kebutuhan keluarga besar. Namun, jika kecemasan tetap sangat tinggi meskipun kondisi sudah relatif aman, mungkin masalahnya bukan hanya angka, tetapi hubungan tidak sehat dengan uang.

5. Sulit Mengatakan Tidak Ketika Menyangkut Uang

Hubungan tidak sehat dengan uang tidak selalu berbentuk serakah, boros, atau terlalu pelit. Terlalu mudah memberikan uang kepada orang lain juga dapat menjadi masalah.

Contohnya, terus meminjamkan uang kepada keluarga meskipun kondisi keuangan sendiri sedang sulit. Selalu mentraktir karena takut dianggap pelit. Memberikan bantuan hingga kebutuhan pribadi terbengkalai. Atau tidak berani menolak ajakan mahal karena takut dijauhi.

Dalam pembahasan hubungan tidak sehat dengan uang, pola seperti ini dapat berkaitan dengan financial enabling, yaitu membantu secara finansial dengan cara yang justru merusak batas sehat, baik bagi pemberi maupun penerima.

Memberi tentu dapat menjadi tindakan positif. Membantu keluarga, teman, atau pasangan bukan hal yang salah. Namun, kemurahan hati menjadi tidak sehat ketika dilakukan karena rasa takut, rasa bersalah, atau ketidakmampuan menetapkan batas.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apakah saya membantu?” tetapi juga, “Apakah saya mampu membantu tanpa merusak kondisi sendiri?”

Jika bantuan membuat dana darurat habis, cicilan terlambat, kebutuhan pokok terganggu, atau muncul rasa kesal karena merasa dimanfaatkan, itu tanda batas finansial perlu diperbaiki.

Hubungan Sehat dengan Uang Bukan Berarti Harus Kaya

Memiliki hubungan sehat dengan uang tidak berarti seseorang harus menjadi kaya, selalu hemat, tidak pernah membeli barang menyenangkan, atau tidak pernah membantu orang lain.

Hubungan yang sehat justru terlihat ketika seseorang mampu menggunakan uang sesuai kebutuhan dan nilai hidupnya tanpa dikendalikan secara berlebihan oleh ketakutan, gengsi, rasa bersalah, atau dorongan sesaat.

Otoritas Jasa Keuangan melalui Sikapi Uangmu juga menekankan pentingnya perencanaan keuangan, pencatatan, pengelolaan utang, dan kebiasaan menabung.

Artinya, hubungan sehat dengan uang bukan hanya tentang punya saldo besar. Hubungan sehat berarti seseorang bisa melihat uang secara lebih jernih: sebagai alat, bukan penguasa hidup. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya