People Pleasing dalam Keuangan, Bahayanya Apa?

|

4 Views
People Pleasing dalam Keuangan, Bahayanya Apa?

FinanSaya.com – Seseorang mungkin sebenarnya sedang berhemat, tetapi tetap ikut nongkrong karena tidak enak menolak. Ada pula yang terus meminjamkan uang meskipun tabungannya sendiri menipis. Perilaku semacam ini dapat disebut sebagai people pleasing dalam keuangan, yaitu kecenderungan mengorbankan kepentingan finansial sendiri demi memperoleh penerimaan, menghindari konflik, atau mengurangi rasa bersalah dalam hubungan sosial.

Apa Itu People Pleasing dalam Keuangan?

People pleasing bukan diagnosis psikologis resmi. Namun, perilaku ini dapat dipahami sebagai kecenderungan berlebihan untuk menyenangkan orang lain, meskipun harus mengabaikan kebutuhan, batas, atau kondisi diri sendiri.

Dalam konteks uang, bentuknya bisa sangat konkret.

Misalnya, seseorang selalu bersedia mentraktir meskipun sedang kekurangan dana. Ia sulit menagih utang karena takut dianggap perhitungan. Ia meminjamkan uang karena tidak berani mengatakan tidak. Ia ikut liburan mahal agar tidak dianggap menjauh. Ia membeli hadiah di luar kemampuan karena takut terlihat tidak peduli.

Secara individual, satu keputusan seperti itu mungkin tidak langsung merusak keuangan. Namun, jika terus berulang, dampaknya bisa besar. Tabungan menipis, dana darurat tidak terbentuk, tagihan bertambah, bahkan seseorang bisa berutang demi mempertahankan citra sebagai orang yang selalu bisa membantu.

Roy Baumeister dan Mark Leary dalam penelitian The Need to Belong menjelaskan bahwa kebutuhan untuk membentuk dan mempertahankan hubungan sosial merupakan salah satu motivasi manusia yang kuat. Kebutuhan untuk diterima pada dasarnya normal.

Namun, dalam people pleasing dalam keuangan, kebutuhan tersebut membuat seseorang memakai uang sebagai alat untuk menjaga penerimaan sosial.

Ketika Belanja Digunakan untuk Mendapatkan Penerimaan

Keputusan konsumsi tidak selalu dibuat berdasarkan kebutuhan pribadi. Kadang, seseorang membeli sesuatu karena memikirkan bagaimana orang lain akan menilainya.

William Bearden, Richard Netemeyer, dan Jesse Teel dalam penelitian Measurement of Consumer Susceptibility to Interpersonal Influence memperkenalkan konsep consumer susceptibility to interpersonal influence. Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang menyesuaikan pilihan konsumsi dengan pengaruh, ekspektasi, atau penilaian orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, people pleasing contohnya mudah ditemukan.

Teman-teman memilih restoran mahal, lalu seseorang ikut meskipun anggaran bulanannya sudah hampir habis. Rekan kerja memakai ponsel mahal, lalu muncul dorongan membeli perangkat serupa agar terlihat setara. Saat ulang tahun teman, ia merasa harus memberi hadiah dengan harga tertentu agar tidak terlihat pelit.

Uang akhirnya digunakan untuk membeli sesuatu yang tidak tertulis di struk belanja: penerimaan sosial.

Masalahnya, penerimaan sosial yang dibeli dengan mengorbankan kondisi finansial sering tidak bertahan lama. Setelah satu traktiran, bisa muncul traktiran berikutnya. Setelah satu hadiah mahal, standar hadiah berikutnya ikut naik.

Sulit Menolak Bisa Menjadi Mahal

People pleasing dalam keuangan tidak selalu berbentuk belanja. Salah satu bentuk yang paling berisiko adalah ketidakmampuan menetapkan batas ketika orang lain meminta bantuan finansial.

Misalnya, seseorang memiliki tabungan Rp5 juta untuk dana darurat. Seorang kerabat meminta pinjaman Rp2 juta. Sebenarnya ia keberatan, tetapi takut disebut tidak peduli. Akhirnya, uang tersebut diberikan.

Beberapa minggu kemudian, muncul kebutuhan mendadak. Karena dana daruratnya berkurang, ia sendiri harus memakai kartu kredit, paylater, atau meminjam uang.

Di titik ini, masalahnya bukan membantu orang lain. Membantu keluarga atau teman dapat menjadi tindakan baik. Yang perlu dilihat adalah apakah keputusan tersebut dibuat secara sukarela atau karena rasa takut, bersalah, dan tekanan sosial.

Jika seseorang membantu karena benar-benar mampu dan sudah siap dengan risikonya, itu berbeda dengan membantu karena tidak berani berkata tidak.

Kalimat sederhana seperti “Maaf, aku belum bisa bantu uang saat ini” bisa terasa berat. Namun, kadang kalimat itulah yang menyelamatkan keuangan pribadi dari kerusakan lebih besar.

Harga Diri Bisa Masuk ke Dalam Transaksi

Hubungan antara psikologi dan pengeluaran sudah lama menjadi perhatian penelitian dalam konteks people pleasing.

Thomas O’Guinn dan Ronald Faber dalam penelitian Compulsive Buying: A Phenomenological Exploration menunjukkan bahwa aktivitas membeli dapat memiliki fungsi emosional dan psikologis tertentu bagi sebagian orang.

Namun, riset tersebut menunjukkan satu hal penting: uang tidak selalu digunakan hanya untuk memperoleh barang. Uang juga dapat digunakan untuk mengatur perasaan seseorang tentang dirinya sendiri.

Dalam people pleasing dalam keuangan, seseorang mungkin merasa lebih berharga ketika bisa memberi, lebih diterima ketika bisa mentraktir, atau lebih aman secara sosial ketika tidak pernah menolak permintaan orang lain.

Masalahnya, harga diri yang terlalu bergantung pada pengeluaran dapat membuat uang keluar bukan karena kebutuhan, tetapi karena dorongan untuk merasa cukup baik di mata orang lain.

Baca Juga: Pajak sebagai Cermin Keuangan, Bukan Sekadar Kewajiban

Tekanan Membandingkan Diri dengan Orang Lain

People pleasing juga dapat diperburuk oleh kebiasaan membandingkan diri dengan lingkungan.

Leon Festinger dalam teori social comparison menjelaskan bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan diri dengan orang lain. Dalam konteks finansial, perbandingan ini bisa muncul melalui gaya hidup, tempat makan, merek barang, liburan, kendaraan, atau cara merayakan momen tertentu.

Bagi orang yang sulit menolak, perbandingan tersebut bisa menciptakan jebakan:

“Kalau semua teman saya bisa ikut, saya juga harus ikut.”

“Kalau yang lain memberi hadiah mahal, saya tidak boleh terlihat biasa saja.”

“Kalau saya tidak ikut patungan besar, nanti saya dianggap tidak solid.”

Padahal kemampuan finansial setiap orang berbeda. Dua orang bisa duduk di restoran yang sama, tetapi kondisi rekeningnya sangat berbeda. Satu orang mungkin memakai uang hiburan, sementara yang lain memakai uang kebutuhan pokok.

Dampak People Pleasing terhadap Keuangan

Dampak people pleasing dalam keuangan sering muncul pelan-pelan.

Pertama, anggaran bulanan bocor karena terlalu banyak pengeluaran sosial. Nongkrong, traktiran, hadiah, patungan, dan bantuan kecil yang tidak dicatat dapat menjadi besar jika dikumpulkan.

Kedua, dana darurat sulit terbentuk. Setiap kali uang mulai terkumpul, selalu ada permintaan atau ajakan yang membuatnya terpakai.

Ketiga, seseorang bisa sulit menagih utang. Ia takut hubungan rusak, padahal uang tersebut sebenarnya dibutuhkan.

Keempat, muncul rasa lelah dan kesal. Dari luar terlihat murah hati, tetapi di dalam hati merasa dimanfaatkan.

Kelima, risiko utang meningkat. Jika terus membantu atau mengikuti gaya hidup sosial di luar kemampuan, seseorang bisa memakai kartu kredit, paylater, atau pinjaman untuk menutupi kekurangan.

People pleasing dapat mengganggu keempat hal tersebut jika membuat seseorang kehilangan kendali atas uangnya sendiri.

Cara Berhenti Menyenangkan Semua Orang dengan Uang

Solusi berhenti dari people pleasing bukan berubah menjadi pelit. Tujuannya adalah memisahkan kemurahan hati dari tekanan sosial.

Cara pertama adalah membuat anggaran sosial. Misalnya, tetapkan jumlah tertentu setiap bulan untuk nongkrong, hadiah, traktiran, atau bantuan kecil. Ketika anggaran habis, keputusan berikutnya menjadi lebih mudah.

Kedua, biasakan tidak langsung menjawab permintaan uang. Gunakan kalimat seperti, “Aku cek kondisi keuanganku dulu, ya.” Jeda ini memberi waktu untuk berpikir tanpa tekanan emosional.

Ketiga, pisahkan dana pribadi dan dana membantu orang lain. Jangan menggunakan dana darurat, uang sewa, uang makan, cicilan, atau tabungan tujuan penting untuk membantu orang lain.

Keempat, tentukan batas pinjaman. Jika meminjamkan uang, pastikan jumlahnya masih aman jika tidak kembali tepat waktu. Dalam hubungan personal, selalu ada kemungkinan pembayaran terlambat atau tidak kembali sama sekali.

Kelima, latih kalimat penolakan yang sopan. Misalnya, “Maaf, bulan ini aku belum bisa ikut,” atau “Aku belum bisa bantu uang, tapi aku bisa bantu cari opsi lain.”

Keenam, evaluasi hubungan sosial. Jika seseorang hanya menghargai Anda ketika Anda memberi uang, mentraktir, atau selalu berkata iya, hubungan tersebut perlu dipertanyakan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya