Inovasi Brida Step Petakan Potensi Warga Miskin di Surabaya

|

6 Views
Inovasi Brida Step Petakan Potensi Warga Miskin di Surabaya

FinanSaya.com – Pemerintah Kota Surabaya mulai memakai pendekatan asesmen untuk membuat program pengentasan kemiskinan lebih tepat sasaran. Melalui inovasi Brida Step atau Surabaya Talent Entrepreneurial Path, potensi dan karakteristik warga miskin dipetakan sebelum bantuan diberikan.

Inovasi Brida Step ini dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Daerah Kota Surabaya. Tujuannya, bantuan tidak lagi diberikan dengan pendekatan seragam kepada semua warga, tetapi disesuaikan dengan kapasitas, kebutuhan, dan kesiapan masing-masing individu.

Kepala Brida Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji mengatakan sejumlah program pemberdayaan selama ini menghadapi kendala karena belum diawali asesmen yang membedakan kondisi warga. Program yang dimaksud antara lain Rumah Padat Karya, Sentra Wisata Kuliner, dan bantuan modal.

“Selama ini kita tidak pernah mengases atau membedakan kapasitas setiap warga. Semua disamaratakan, misalnya diberi rombong atau modal, tetapi besoknya bantuan justru tidak berjalan. Ternyata warga kurang mampu itu harus kita pisahkan, mana yang punya potensi dan semangat kerja, serta mana yang butuh pendampingan mental dan motivasi terlebih dahulu,” ujar Agus, Jumat (24/7/2026).

Inovasi Brida Step Bagi Warga Jadi 4 Kelompok

Agus menjelaskan, penelitian awal dilakukan menggunakan metode Slovin terhadap 448 responden di 30 kecamatan di Surabaya. Kajian invoasi Brida Step itu dilakukan bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.

Dari penelitian inovasi Brida Step tersebut, Pemkot membagi kapasitas warga ke dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah warga yang masih membutuhkan penumbuhan motivasi, dorongan mental, dan pembinaan sikap kerja dasar.

Kelompok kedua terdiri atas warga yang siap bekerja dengan arahan atau bersifat mengikuti. Kelompok ini dinilai sudah memiliki kesiapan lebih baik, tetapi tetap membutuhkan panduan dalam menjalankan pekerjaan.

“Kelompok ketiga ialah pekerja mandiri yang tangguh dan memiliki kedisiplinan tinggi. Terakhir kelompok keempat merupakan calon pemimpin yang siap diarahkan menuju jenjang wirausaha (entrepreneurship),” jelas Agus.

Dengan pengelompokan tersebut, Pemkot Surabaya dapat membedakan jenis intervensi. Warga yang belum siap secara mental tidak langsung diarahkan ke usaha, sedangkan warga yang sudah mandiri dapat masuk ke tahap pengembangan lanjutan.

Kelompok Siap Usaha Akan Digandengkan Kampus

Bagi warga yang masuk kelompok 3 dan 4, Pemkot Surabaya menyiapkan arahan menuju program wirausaha lanjutan. Brida akan menggandeng sejumlah perguruan tinggi bisnis dan kampus, seperti Universitas Ciputra, Universitas Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Airlangga.

Pendekatan ini diarahkan agar warga yang sudah memiliki kedisiplinan, daya tahan, dan potensi kepemimpinan bisa mendapat pendampingan lebih sesuai. Mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga diarahkan agar mampu mengembangkan usaha.

Sementara itu, warga pada kelompok 1 dan 2 akan lebih dulu mendapat pendekatan psikologis. Fokusnya adalah pembenahan mentalitas kerja, motivasi, dan konsep diri sebelum masuk ke program ekonomi yang lebih teknis.

Dengan model ini, inovasi Brida Step menjadi alat penyaring awal. Pemkot bisa mengetahui warga mana yang perlu penguatan mental, mana yang siap bekerja, dan mana yang sudah dapat diarahkan ke jalur wirausaha.

Pakai Tiga Alat Ukur Psikologi

Untuk mengukur mentalitas dan konsep diri warga, asesmen Brida Step memakai tiga alat ukur psikologi. Ketiganya adalah Tes Tipi untuk melihat kepribadian, Tes Grit untuk membaca konsep diri dan daya tahan, serta Tes Kewirausahaan.

Penggunaan alat ukur tersebut membuat asesmen tidak hanya didasarkan pada data ekonomi. Brida juga melihat aspek psikologis yang dapat memengaruhi keberhasilan warga ketika masuk program pemberdayaan.

Baca Juga: Pelaporan Pajak Restoran Surabaya Akan Didigitalkan

Agus mengatakan inovasi Brida Step saat ini masih berada pada tahap uji coba sistem dan lapangan. Uji coba perdana dilakukan terhadap 77 pekerja RPK Paving di Surabaya.

Dalam uji coba itu, Brida menemukan sejumlah tantangan teknis. Beberapa warga memiliki keterbatasan perangkat digital, sementara sebagian lain membutuhkan pendampingan karena tingkat literasi yang berbeda.

“Temuan di lapangan menjadi bahan evaluasi penting. Sistem Brida Step nantinya akan dijalankan secara hibrida, baik berbasis laman web (website) maupun lembar fisik (cetak) untuk mengakomodasi warga yang tidak memiliki gadget atau membutuhkan panduan khusus,” jelasnya.

Akan Diintegrasikan ke Sistem Dinas

Setelah uji coba sistem dan skema inkubasi berbasis psikologi selama lima minggu dinyatakan andal, hasil riset Brida Step akan diintegrasikan ke sistem informasi dinas terkait.

Salah satu sistem yang disebut adalah Si Asik milik Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Kota Surabaya. Selain itu, integrasi juga akan dilakukan dengan Dinas Sosial Kota Surabaya.

Langkah tersebut penting agar hasil asesmen tidak berhenti sebagai data riset. Data Brida Step dapat dipakai dinas untuk menentukan jenis pendampingan, pelatihan, atau program pemberdayaan yang paling sesuai bagi warga.

Selain inovasi Brida Step, pihak Brida juga akan merangkul fakultas psikologi dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Kampus yang disebut antara lain Ubaya, UINSA, dan perguruan tinggi lain.

“Ke depan, kami juga akan merangkul fakultas psikologi dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Surabaya seperti Ubaya, UINSA, dan kampus lainnya, untuk berbagi peran dalam mengawal pembinaan mental warga di tingkat RPK maupun SWK sesuai keunggulan masing-masing akademisi,” pungkas Agus.

Melalui inovasi Brida Step, Pemkot Surabaya menyiapkan pola bantuan berbasis asesmen agar warga miskin tidak lagi diperlakukan seragam dalam program pemberdayaan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya