TPK Hotel di Kota Surabaya Mei 2026 Naik Tipis

|

6 Views
TPK Hotel di Kota Surabaya Mei 2026 Naik Tipis

FinanSaya.com – Tingkat penghunian kamar atau TPK hotel di Kota Surabaya membaik pada Mei 2026. Badan Pusat Statistik atau BPS Kota Surabaya mencatat TPK hotel di Surabaya mencapai 49,95 persen.

Angka tersebut naik 0,65 poin dibandingkan April 2026 yang berada di level 49,30 persen. Dengan capaian itu, sekitar 50 dari setiap 100 kamar hotel yang tersedia di Surabaya terjual setiap malam sepanjang Mei 2026.

BPS menjelaskan TPK merupakan perbandingan antara banyaknya malam kamar yang terpakai dan malam kamar yang tersedia. Indikator ini dipakai untuk membaca produktivitas usaha jasa akomodasi.

TPK Hotel di Kota Surabaya Naik Tipis

Kenaikan TPK hotel di Kota Surabaya menunjukkan perbaikan dari sisi keterisian kamar. Namun, kenaikan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh durasi menginap yang panjang.

Rata-rata Lama Menginap Tamu atau RLMT hotel di Surabaya pada Mei 2026 tercatat 1,40 malam. Artinya, secara rata-rata tamu hotel di Surabaya hanya menginap sekitar satu sampai dua malam.

RLMT Mei 2026 naik 0,05 poin dibandingkan April 2026. Namun, jika dibandingkan dengan Mei 2025, rata-rata lama menginap tamu turun 0,31 poin.

Kondisi TPK hotel di Kota Surabaya ini menunjukkan hotel di Surabaya mulai membaik dari sisi okupansi, tetapi belum sepenuhnya mampu menahan tamu untuk tinggal lebih lama. Pola kunjungan masih cenderung pendek, baik untuk bisnis, agenda kerja, kegiatan kota, maupun transit.

Surabaya Ungguli Rata Rata Jawa Timur

Kinerja hotel Surabaya masih berada di atas rata-rata Jawa Timur. Pada Mei 2026, TPK hotel di Kota Surabaya mencapai 49,95 persen, sedangkan TPK hotel Jawa Timur sebesar 35,22 persen.

Selisih antara Surabaya dan Jawa Timur mencapai 14,73 poin. Perbedaan ini menunjukkan Surabaya masih menjadi salah satu pusat aktivitas akomodasi yang lebih kuat dibandingkan rata-rata provinsi.

Hotel bintang menjadi penopang utama keterisian kamar di Surabaya. Pada Mei 2026, TPK hotel bintang di Surabaya tercatat 54,11 persen.

Angka tersebut naik 1,01 poin dibandingkan April 2026. Dengan capaian itu, sekitar 54 dari setiap 100 kamar hotel bintang di Surabaya terisi setiap malam pada Mei 2026.

Namun, secara tahunan, TPK hotel bintang Surabaya turun 0,88 poin dibandingkan Mei 2025. Sementara itu, TPK hotel bintang Jawa Timur pada Mei 2026 berada di level 49,23 persen, atau 4,88 poin lebih rendah dibandingkan Surabaya.

Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 di Surabaya Sasar Ratusan Ribu UMKM

Hotel Non Bintang Turun Bulanan

Berbeda dari hotel bintang, hotel non-bintang di Surabaya mencatat penurunan secara bulanan. TPK hotel non-bintang Surabaya pada Mei 2026 sebesar 32,54 persen.

Angka itu turun 0,84 poin dibandingkan April 2026. Meski begitu, kinerja hotel non-bintang masih membaik secara tahunan karena naik 6,73 poin dibandingkan Mei 2025.

Dari sisi lama menginap, hotel bintang juga mencatat durasi lebih tinggi dibandingkan hotel non-bintang. RLMT hotel bintang di Surabaya pada Mei 2026 mencapai 1,45 malam.

Sementara itu, RLMT hotel non-bintang hanya 1,12 malam. Data tersebut menunjukkan tamu hotel bintang cenderung tinggal sedikit lebih lama dibandingkan tamu hotel non-bintang.

BPS juga mencatat tamu asing cenderung menginap lebih lama dibandingkan tamu nusantara, baik pada hotel bintang maupun non-bintang. Perbedaan TPK hotel di Kota Surabaya ini menjadi salah satu indikator penting dalam membaca potensi belanja dan aktivitas wisatawan di kota.

Durasi Menginap Masih Jadi Catatan

BPS menyebut RLMT dapat menggambarkan berapa lama tamu menginap di hotel atau akomodasi. Besar kecilnya rata-rata lama menginap juga dapat mencerminkan kemampuan sektor pariwisata dalam memikat wisatawan.

Dengan posisi tersebut, kenaikan TPK hotel di Kota Surabaya pada Mei 2026 menjadi sinyal positif bagi sektor akomodasi. Namun, durasi tinggal yang masih 1,40 malam menunjukkan kunjungan ke Surabaya belum banyak berubah menjadi perjalanan dengan masa inap panjang.

Bagi pelaku hotel, kondisi ini membuat strategi peningkatan okupansi tidak cukup hanya mengandalkan jumlah tamu. Durasi menginap juga menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi pendapatan kamar, konsumsi layanan hotel, dan aktivitas ekonomi di sekitar destinasi.

Pada Mei 2026, TPK hotel di Kota Surabaya tercatat 49,95 persen, sedangkan rata-rata lama menginap tamu berada di level 1,40 malam menurut BPS Kota Surabaya. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya