Mesin Pertumbuhan Ekonomi Dipanaskan, Ini Motornya

|

4 Views
Mesin Pertumbuhan Ekonomi Dipanaskan, Ini Motornya

FinanSaya.com – Mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai mulai bergerak lebih kuat setelah ekonomi nasional tetap tumbuh di tengah tekanan global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimistis ekonomi Indonesia mampu bergerak menuju pertumbuhan 8 persen jika fondasi ekonomi, reformasi fiskal, investasi, ekspor, dan sektor swasta terus diperkuat.

Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026 di Jakarta Convention Center, Minggu, 28 Juni 2026. Menurut dia, capaian pertumbuhan 5,61 persen menunjukkan daya tahan ekonomi nasional ketika kondisi global masih bergejolak.

“Ketika global gonjang ganjing aja kita masih bisa tumbuh 5,61 persen, ini kan mesin pertumbuhan ekonomi baru dipanaskan,” kata Purbaya.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekonomi Indonesia triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 13,14 persen, sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi sebesar 21,81 persen.

BPS juga mencatat ekonomi triwulan I 2026 lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 5,39 persen secara tahunan. Bank Indonesia menilai pertumbuhan tersebut ditopang permintaan domestik, konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta investasi.

Data ini memberi landasan bahwa dorongan menuju pertumbuhan lebih tinggi perlu disertai penguatan sumber pembiayaan, percepatan investasi, dan peningkatan produktivitas sektor riil.

Mesin Pertumbuhan Ekonomi Dipanaskan Lewat Ekspor

Salah satu mesin pertumbuhan ekonomi yang disorot Purbaya adalah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Menurut dia, LPEI dapat menjadi motor penggerak ekspor, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang masuk rantai perdagangan internasional.

“Di Kemenkeu ada LPEI yang punya Program Pembiayaan Kawasan Ekonomi untuk UKM eksportir, kita menawarkan suku bunga maksimal 6 persen per tahun bahkan 4 persen jika diperlukan demi pertumbuhan,” kata Purbaya.

Purbaya menilai percepatan ekonomi dapat dilakukan bertahap. Tahap pertama adalah membawa pertumbuhan menuju kisaran 6 persen, lalu memperkuat investasi, ekspor, produktivitas, dan peran sektor swasta agar pertumbuhan dapat naik lebih tinggi.

Bank Indonesia dalam asesmen terbarunya juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2026 berada dalam kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen. BI menyebut permintaan domestik dan sinergi kebijakan pemerintah dengan bank sentral menjadi faktor yang memanaskan mesin pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Konteks ini menunjukkan target pertumbuhan lebih tinggi membutuhkan tambahan dorongan dari luar konsumsi. Pemerintah perlu mengaktifkan mesin pertumbuhan ekonomi melalui investasi produktif, ekspor bernilai tambah, belanja negara yang tepat waktu, serta pembiayaan yang bisa menjangkau dunia usaha.

Baca Juga: Menkeu Optimis Kemandirian Ekonomi Indonesia Akan Lebih Kuat

Reformasi Fiskal Jadi Penopang

Purbaya mengatakan Kementerian Keuangan juga menyiapkan reformasi fiskal, khususnya di bidang perpajakan dan kepabeanan. Reformasi tersebut diharapkan memperkuat penerimaan negara sekaligus menciptakan ruang fiskal lebih besar untuk mendukung pembangunan.

Mesin pertumbuhan ekonomi lainnya, yakni APBN, tetap diarahkan sebagai instrumen stabilisasi sekaligus pendorong produktivitas. Dalam forum yang sama, Purbaya menekankan pentingnya menjaga APBN tetap sehat, kredibel, dan berkelanjutan agar dapat melindungi masyarakat dari risiko global dan tetap mendorong aktivitas ekonomi.

Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia pada Juni 2026 menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen. BI menyatakan kebijakan itu ditempuh untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Kenaikan suku bunga menunjukkan ruang kebijakan pertumbuhan harus tetap berjalan bersama stabilitas. Karena itu, pemerintah menempatkan reformasi fiskal, ekspor, investasi, dan peningkatan produktivitas sebagai jalur penting agar mesin pertumbuhan ekonomi tidak hanya bertumpu pada konsumsi jangka pendek.

Selain menjaga stabilitas, pemerintah juga mendorong industrialisasi berbasis talenta. Dalam KSTI 2026, Purbaya menyebut pertumbuhan tinggi perlu didukung sumber daya manusia unggul, penciptaan lapangan kerja, wirausaha, dan perusahaan rintisan berbasis inovasi.

Dengan kombinasi ekspor, pembiayaan murah untuk UKM eksportir, reformasi perpajakan dan kepabeanan, serta APBN yang tetap sehat, mesin pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat bergerak lebih cepat.

Purbaya menilai target 8 persen membutuhkan penyelarasan kebijakan fiskal, moneter, sektor riil, dan investasi agar momentum pertumbuhan tidak berhenti di kisaran 5 persen secara berkelanjutan pada tahun-tahun berikutnya. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya