FinanSaya.com – Gen Z susah kaya bukan semata-mata karena malas, terlalu banyak nongkrong, atau terlalu sering membeli kopi susu. Narasi seperti itu terlalu menyederhanakan masalah.
Di era ekonomi sekarang, anak muda menghadapi kombinasi tantangan yang cukup berat, mulai dari persaingan kerja ketat, gaji awal terbatas, biaya hidup terus bergerak, harga rumah terasa makin jauh, dan tekanan sosial digital yang membuat standar hidup terlihat selalu naik.
Namun, mengatakan Gen Z susah kaya juga bukan berarti generasi ini tidak punya peluang. Justru Gen Z hidup di masa ketika akses belajar, kerja online, bisnis digital, investasi, dan jaringan profesional jauh lebih terbuka dibanding generasi sebelumnya.
Masalahnya, peluang yang besar tidak otomatis berubah menjadi kekayaan jika tidak dibarengi skill, strategi, disiplin, dan kemampuan membaca realita ekonomi.
Alasan Mendasar Gen Z Susah Kaya
Ada perbedaan antara “punya penghasilan” dan “membangun kekayaan”.
Punya penghasilan berarti ada uang masuk. Membangun kekayaan berarti uang itu bisa disisihkan, dikelola, dilindungi, dan dikembangkan menjadi aset. Tantangan Gen Z susah kaya adalah banyak dari mereka baru masuk dunia kerja ketika biaya hidup sudah tinggi, pekerjaan semakin kompetitif, dan standar sosial terlihat mahal karena media sosial.
BPS mencatat jumlah angkatan kerja Indonesia pada Februari 2025 sebanyak 153,05 juta orang, dengan penduduk bekerja sebanyak 145,77 juta orang. Pada periode yang sama, rata-rata upah buruh tercatat Rp3,09 juta.
Bagi Gen Z yang baru mulai bekerja, masalahnya bukan hanya mencari uang. Masalahnya adalah membuat uang itu cukup untuk hidup hari ini, sambil tetap menyisakan ruang untuk masa depan.
Pasar Kerja Lebih Kompetitif
Salah satu alasan Gen Z susah kaya adalah pintu masuk ke penghasilan stabil tidak selalu mudah. Banyak anak muda lulus sekolah atau kuliah, lalu masuk ke pasar kerja yang penuh persaingan.
BPS mencatat TPT berdasarkan kelompok umur pada 2025 masih tinggi di kelompok usia muda. Kelompok usia 15–19 tahun mencatat TPT 23,34%, sedangkan kelompok usia 20–24 tahun mencatat TPT 14,35%.
Artinya, sebelum bicara tentang investasi, aset, rumah, atau kekayaan, sebagian anak muda masih menghadapi tantangan dasar, yakni mendapat pekerjaan yang layak dan stabil.
Di sisi lain, perusahaan juga menuntut skill yang makin spesifik. Tidak cukup hanya punya ijazah. Banyak posisi membutuhkan kemampuan digital, komunikasi, analisis data, bahasa, problem solving, portofolio, dan pengalaman magang atau proyek. Ini membuat anak muda yang tidak punya akses pelatihan atau jaringan lebih mudah tertinggal.
Gaji Awal Tidak Selalu Mengejar Biaya Hidup
Gaji pertama sering menjadi momen penting. Tetapi bagi banyak anak muda, gaji pertama juga menjadi kenyataan pahit. Setelah dipotong transportasi, makan, kos, cicilan, internet, kebutuhan keluarga, dan biaya sosial, uang yang tersisa tidak selalu banyak.
BPS mencatat rata-rata upah buruh pada Februari 2025 sebesar Rp3,09 juta, naik 1,78% dari Februari 2024 yang sebesar Rp3,04 juta. Pada saat yang sama, inflasi tetap membuat harga barang dan jasa berubah dari waktu ke waktu. BI mencatat inflasi tahunan Indonesia, misalnya, berada di 2,92% pada Desember 2025 dan 3,08% pada Mei 2026.
Sekilas, inflasi 2–3% terlihat kecil. Namun, bagi pekerja muda dengan penghasilan terbatas, kenaikan harga makan, sewa, transportasi, dan kebutuhan harian bisa sangat terasa. Gen Z susah kaya karena sejumlah faktor, apalagi jika kenaikan gaji tidak selalu mengikuti kenaikan kebutuhan hidup.
Harga Aset Terasa Makin Jauh
Banyak orang tua dulu menganggap rumah sebagai target wajar setelah bekerja beberapa tahun. Untuk Gen Z, target itu terasa lebih berat.
Harga properti tidak selalu melonjak tajam setiap saat, tetapi tetap bergerak dan modal awal untuk membeli rumah tidak kecil. Bank Indonesia melalui Survei Harga Properti Residensial menyebut harga properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2025 masih tumbuh terbatas, dengan IHPR naik 0,83% secara tahunan. Harga rumah tipe kecil juga tumbuh 0,76% secara tahunan pada periode yang sama.
Masalah Gen Z susah kaya bukan hanya persentase kenaikan harga rumah. Masalahnya adalah jarak antara harga aset dan kemampuan menabung anak muda. Jika penghasilan awal terbatas, dana darurat belum terbentuk, dan biaya hidup tinggi, mengumpulkan uang muka rumah bisa memakan waktu lama.
Karena itu, banyak Gen Z susah kaya. Bukan karena tidak ingin punya aset, tetapi karena aset besar seperti rumah membutuhkan kombinasi penghasilan stabil, tabungan besar, akses kredit sehat, dan disiplin jangka panjang.
Tekanan Sosial Digital Membuat Uang Cepat Habis
Pun Gen Z susah kaya juga karena hidup dalam ekonomi perhatian. Setiap hari ada standar baru yang terlihat di layar seperti liburan, gadget, outfit, konser, kafe, investasi viral, side hustle, karier cepat, dan cerita orang muda yang katanya sudah menghasilkan puluhan juta.
Masalahnya, media sosial sering menampilkan hasil, bukan proses. Yang terlihat adalah orang membeli mobil, bukan cicilannya. Yang terlihat adalah liburan, bukan utang paylater-nya. Yang terlihat adalah omzet, bukan margin dan risikonya.
Tekanan ini bisa membuat pengeluaran terasa “normal” padahal sebenarnya memakan ruang untuk menabung. Anak muda bisa merasa tertinggal jika tidak ikut gaya hidup tertentu, meski kondisi keuangannya belum siap.
OJK mendefinisikan literasi keuangan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan yang memengaruhi sikap dan perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan keuangan. Definisi ini penting karena tahu konsep keuangan saja belum cukup. Yang menentukan adalah apakah pengetahuan itu berubah menjadi perilaku.
Baca Juga: Gen Z vs AI, Ketika Pekerjaan Junior Mulai Terancam
Literasi Keuangan Sudah Naik, Tapi Tantangannya Tetap Ada
Kabar baiknya, literasi keuangan anak muda tidak selalu buruk. SNLIK 2025 yang diumumkan OJK dan BPS menunjukkan indeks literasi keuangan nasional mencapai 66,46% dan indeks inklusi keuangan 80,51%. Berdasarkan umur, kelompok 18–25 tahun memiliki indeks literasi keuangan 73,22%, sedangkan kelompok 26–35 tahun 74,04%.
Ini menunjukkan banyak anak muda sudah cukup dekat dengan produk dan pengetahuan keuangan. Mereka mengenal rekening digital, e-wallet, investasi, pinjaman online, asuransi, dan berbagai layanan keuangan.
Namun, literasi yang lebih tinggi tidak otomatis berarti keuangan lebih sehat. Anak muda bisa paham investasi, tetapi tetap tidak punya dana darurat. Bisa tahu saham, tetapi masih memakai uang kebutuhan harian untuk trading. Bisa punya aplikasi keuangan, tetapi tidak punya anggaran. Bisa paham paylater, tetapi tetap memakainya untuk gaya hidup.
Jadi, tantangan Gen Z susah kaya bukan hanya akses ke produk keuangan. Tantangannya adalah memilih produk yang sesuai kemampuan, menghindari utang konsumtif, dan membangun kebiasaan jangka panjang.
Gen Z Susah Kaya Jika Hanya Andalkan Satu Sumber Penghasilan
Di era sekarang, Gen Z susah kaya jika mengandalkan satu gaji saja sering terasa berat, terutama jika gaji masih awal karier. Bukan berarti semua orang harus punya lima pekerjaan sekaligus. Namun, Gen Z perlu memahami bahwa kekayaan biasanya dibangun dari kombinasi beberapa hal: penghasilan utama, peningkatan skill, tabungan, investasi, aset produktif, dan jaringan.
Masalahnya, banyak orang ingin hasil cepat. Mereka ingin kaya dari trading seminggu, affiliate sebulan, konten viral sekali, atau bisnis online tanpa modal. Harapan seperti ini berbahaya karena mudah dimanfaatkan oleh penjual mimpi cepat kaya.
Yang lebih realistis adalah meningkatkan kapasitas penghasilan secara bertahap. Misalnya, pekerja kantoran memperkuat skill agar bisa naik gaji. Freelancer menaikkan tarif lewat portofolio. Pelaku usaha memperbaiki margin dan pencatatan. Content creator membangun audiens sebelum menjual produk.
Kaya jarang datang dari satu keputusan besar. Lebih sering datang dari keputusan kecil yang konsisten.
Bukan Hanya Gaya Hidup, Tapi Gaya Hidup Tetap Penting
Tidak adil jika semua kesulitan Gen Z susah kaya disalahkan pada gaya hidup. Banyak anak muda memang menghadapi biaya hidup nyata. Ada yang membantu keluarga. Ada yang harus membayar kos. Ada yang menanggung biaya transportasi. Ada yang bekerja dengan gaji pas-pasan.
Namun, gaya hidup tetap tidak bisa diabaikan menjadi salah satu alasan kenapa Gen Z susah kaya. Karena dalam kondisi penghasilan terbatas, kebocoran kecil yang berulang bisa menghambat pembentukan aset.
Langganan aplikasi yang tidak dipakai, jajan harian tanpa batas, cicilan barang konsumtif, belanja karena FOMO, dan paylater untuk hal yang tidak mendesak bisa membuat uang habis tanpa terasa.
Masalahnya bukan menikmati hidup. Masalahnya adalah ketika semua uang hari ini habis untuk validasi sosial, sementara masa depan tidak mendapat bagian.
Cara Gen Z Bangun Kekayaan dengan Realistis
Pertama, naikkan kemampuan menghasilkan uang. Menabung penting, tetapi jika penghasilan terlalu kecil, ruang menabung akan terbatas. Gen Z perlu memperkuat skill yang dibutuhkan pasar: komunikasi, data, digital marketing, desain, bahasa, penjualan, coding, finance, writing, project management, atau skill teknis sesuai bidang.
Kedua, buat anggaran sederhana. Tidak perlu rumit. Yang penting tahu uang masuk, kebutuhan wajib, utang, tabungan, investasi, dan pengeluaran gaya hidup.
Ketiga, bangun dana darurat sebelum mengejar investasi agresif. Investasi penting, tetapi dana darurat melindungi dari krisis kecil seperti kehilangan pekerjaan, sakit, laptop rusak, atau kebutuhan keluarga mendadak.
Keempat, hindari utang konsumtif. Utang untuk pendidikan, usaha, atau aset produktif bisa dipertimbangkan dengan hati-hati. Tetapi utang untuk gaya hidup bisa membuat Gen Z susah kaya.
Kelima, mulai investasi sesuai profil risiko. Jangan ikut-ikutan saham, kripto, atau trading hanya karena orang lain pamer untung. Pilih instrumen yang dipahami dan sesuai tujuan.
Keenam, jangan membandingkan hidup dengan highlight orang lain. Media sosial bukan laporan keuangan. Yang terlihat kaya belum tentu benar-benar sehat secara finansial.
Ketujuh, bangun aset kecil dulu. Tidak semua aset harus rumah. Skill, portofolio, dana darurat, reksa dana, emas, bisnis kecil, jaringan profesional, dan reputasi kerja juga bisa menjadi pondasi. (Sol)




