Mampukah Kecerdasan Buatan Gantikan Akuntan?

|

6 Views
Mampukah Kecerdasan Buatan Gantikan Akuntan?

FinanSaya.com – Kecerdasan buatan membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah profesi akuntan akan hilang? Pertanyaan ini wajar karena pekerjaan akuntansi dekat dengan angka, dokumen, transaksi, laporan, rekonsiliasi, dan pola berulang. Semua itu terlihat seperti lahan yang cocok untuk otomatisasi.

Namun, jawaban yang lebih realistis bukan “akuntan pasti hilang” atau “akuntan pasti aman”. Yang lebih tepat: kecerdasan buatan akan mengubah pekerjaan akuntan secara besar-besaran, tetapi belum tentu menggantikan profesinya secara penuh.

AI bisa membantu membaca dokumen, mengelompokkan transaksi, membuat ringkasan laporan, mendeteksi pola tidak biasa, menyusun draft analisis, dan mempercepat pekerjaan rutin. Namun, akuntansi bukan hanya soal menghitung angka. Akuntansi juga menyangkut judgement, standar, etika, konteks bisnis, risiko, audit, kepatuhan, dan tanggung jawab profesional.

Di titik inilah manusia masih penting.

Apa Peran Akuntan Selama Ini?

Banyak orang mengira akuntan hanya bertugas mencatat transaksi dan membuat laporan keuangan, dan bisa dilakukan kecerdasan buatan. Padahal, peran akuntan lebih luas.

Akuntan membantu memastikan transaksi dicatat dengan benar, laporan keuangan disusun sesuai standar, pajak dihitung dengan tepat, anggaran dipantau, risiko keuangan dibaca, dan informasi bisnis bisa dipakai untuk mengambil keputusan.

Dalam perusahaan, akuntan bisa bekerja sebagai staf akuntansi, auditor internal, auditor eksternal, analis keuangan, tax officer, controller, finance manager, konsultan, atau akuntan manajemen. Setiap peran punya tingkat kompleksitas yang berbeda.

Laporan tahunan dan laporan keuangan perusahaan menjadi sumber informasi penting bagi investor dan pemangku kepentingan. OJK menyebut laporan tahunan emiten atau perusahaan publik merupakan sumber informasi penting bagi investor atau pemegang saham sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi dan sarana pengawasan terhadap emiten.

Karena itu, kualitas kerja akuntan tidak hanya berdampak pada internal perusahaan. Ia juga berpengaruh pada investor, kreditor, regulator, karyawan, dan publik.

Bagaimana Kecerdasan Buatan Masuk ke Akuntansi?

Kecerdasan buatan masuk ke akuntansi melalui berbagai bentuk. Ada software akuntansi yang bisa mengotomatisasi pencatatan transaksi. Ada sistem yang membaca invoice dan bukti pembayaran. Ada alat yang membantu rekonsiliasi bank. Ada AI yang membuat draft laporan manajemen. Ada juga model analitik yang mendeteksi anomali atau potensi fraud.

IFAC menyatakan bahwa popularitas generative AI membuat implementasi dan tata kelola AI menjadi bagian penting dalam percakapan praktik akuntansi modern. IFAC juga mencatat bahwa kecerdasan buatan menciptakan peluang dan risiko baru bagi akuntan profesional.

ACCA juga menekankan bahwa profesional keuangan perlu memahami konsep AI, termasuk kemampuan, keterbatasan, dan potensi penerapannya dalam domain masing-masing. ACCA menyebut pelatihan dan upskilling berkelanjutan penting agar profesional keuangan mampu menggunakan dan menafsirkan alat AI secara efektif.

Artinya, kecerdasan buatan bukan lagi isu jauh. Ia sudah menjadi bagian dari arah perkembangan profesi.

Tugas Akuntan yang Paling Mudah Diotomatisasi

Tidak semua pekerjaan akuntan memiliki risiko otomatisasi yang sama. Tugas yang paling mudah diambil alih kecerdasan buatan biasanya tugas yang rutin, berulang, berbasis aturan, dan punya pola data yang jelas.

Contohnya:

– Input transaksi.
– Klasifikasi akun sederhana.
– Rekonsiliasi bank dasar.
– Pencocokan invoice dan purchase order.
– Pembuatan laporan rutin.
– Pemeriksaan angka yang tidak konsisten.
– Ringkasan dokumen keuangan.
– Template laporan manajemen.

Tugas seperti ini tidak hilang sepenuhnya dalam semalam, tetapi jumlah waktu manusia yang dibutuhkan bisa berkurang. Jika dulu staf akuntansi menghabiskan banyak waktu mengetik dan mencocokkan data, AI bisa mempercepatnya.

ILO dalam kajian global tentang generative AI menyebut pekerjaan clerical memiliki tingkat paparan tertinggi terhadap GenAI. ILO juga menyatakan bahwa sebagian besar pekerjaan terdiri dari tugas yang tetap membutuhkan input manusia, sehingga dampak paling mungkin dari GenAI adalah transformasi pekerjaan, bukan penggantian total.

Ini sangat relevan untuk akuntansi. Bagian administratif dan repetitif bisa banyak berubah, tetapi pekerjaan yang membutuhkan penilaian profesional masih memerlukan manusia.

Kenapa AI Belum Bisa Sepenuhnya Gantikan Akuntan?

Ada beberapa alasan kenapa kecerdasan buatan belum bisa sepenuhnya menggantikan akuntan.

Pertama, akuntansi membutuhkan konteks. Angka yang sama bisa punya makna berbeda tergantung bisnis, industri, kontrak, standar akuntansi, kebijakan perusahaan, dan kondisi ekonomi.

Kedua, akuntansi membutuhkan judgement. Misalnya, kapan sebuah pendapatan boleh diakui? Bagaimana menilai penurunan nilai aset? Apakah transaksi tertentu dicatat sebagai beban, aset, atau kewajiban? Bagaimana membaca estimasi dan asumsi?

Ketiga, akuntansi menyangkut tanggung jawab. Jika laporan salah, siapa yang bertanggung jawab? Kecerdasan buata bisa membantu menyusun atau menganalisis, tetapi tanggung jawab profesional tetap berada pada manusia dan organisasi.

Keempat, akuntansi berkaitan dengan etika. Akuntan harus menjaga integritas, objektivitas, kerahasiaan, kompetensi, dan perilaku profesional. AI tidak memiliki tanggung jawab moral seperti manusia.

Kelima, akuntan perlu berkomunikasi. Hasil laporan harus dijelaskan kepada manajemen, auditor, investor, regulator, atau pemilik usaha. Penjelasan itu sering membutuhkan bahasa bisnis, bukan sekadar angka.

ACCA menyatakan masa depan akuntansi bukan masa ketika profesional keuangan dan akuntansi digantikan, tetapi masa ketika tanggung jawab mereka berubah. ACCA juga menekankan bahwa kepercayaan tetap merupakan konsep sosial yang dibangun melalui interaksi manusia, transparansi, dan pengawasan.

Jadi, kecerdasan buatan bisa menjadi alat yang kuat. Namun, alat tetap perlu diarahkan, diawasi, dan dipertanggungjawabkan.

Risiko Jika Akuntan Terlalu Andalkan AI

Kecerdasan buatan bisa membantu, tetapi penggunaan tanpa kontrol bisa berbahaya.

Risiko pertama adalah kesalahan data. Jika data yang masuk salah, hasil AI juga bisa salah. Dalam akuntansi, satu klasifikasi keliru bisa memengaruhi laporan.

Risiko kedua adalah hallucination atau jawaban meyakinkan tetapi salah. Generative AI bisa menghasilkan teks yang terlihat rapi, tetapi tidak selalu akurat.

Risiko ketiga adalah kebocoran data. Laporan keuangan, invoice, kontrak, payroll, data vendor, dan informasi pajak bersifat sensitif. Mengunggah data sembarangan ke alat AI publik bisa membahayakan kerahasiaan.

Risiko keempat adalah bias dan kurangnya transparansi. Jika model kecerdasan buatan sulit dijelaskan, perusahaan bisa kesulitan memahami alasan di balik rekomendasi atau output tertentu.

Baca Juga: Luhut soal AI: Dunia Akan Dikuasai Orang Seperti Elon Musk

Risiko kelima adalah akuntan kehilangan kemampuan dasar. Jika semua hal diserahkan ke AI tanpa memahami prosesnya, akuntan bisa menjadi operator alat, bukan profesional yang mampu menilai benar atau salah.

OJK dalam Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia menyebut panduan AI diterbitkan untuk memastikan teknologi kecerdasan artifisial dikembangkan dan diterapkan secara bertanggung jawab. Prinsip seperti akuntabilitas, pengawasan manusia, dan keandalan menjadi penting dalam penerapan AI di sektor yang sensitif terhadap risiko.

Walau konteksnya perbankan, pelajarannya relevan bagi akuntansi: AI harus dikelola, bukan dipercaya begitu saja.

Skill Akuntan yang Makin Dibutuhkan di Era AI

Jika tugas rutin makin otomatis, akuntan perlu naik kelas. Skill yang makin penting bukan hanya kemampuan menjurnal, tetapi juga kemampuan memahami bisnis dan teknologi.

1. Analisis Data

Akuntan perlu mampu membaca pola, tren, margin, biaya, arus kas, dan indikator risiko. AI bisa membantu mengolah data, tetapi manusia perlu menafsirkan maknanya.

2. Pemahaman Standar dan Regulasi

AI bisa memberi ringkasan, tetapi akuntan tetap harus memahami standar akuntansi, pajak, audit, dan ketentuan industri. Kesalahan interpretasi bisa mahal.

3. Judgement Profesional

Keputusan akuntansi sering tidak hitam-putih. Akuntan perlu menilai substansi transaksi, bukan hanya bentuk dokumennya.

4. Komunikasi Bisnis

Akuntan masa depan harus bisa menjelaskan angka kepada orang non-akuntansi. Manajemen tidak hanya butuh laporan. Mereka butuh insight.

5. Literasi Teknologi dan AI

Akuntan tidak harus menjadi programmer, tetapi perlu memahami cara kerja dasar AI, keterbatasannya, risiko datanya, dan cara memeriksa output-nya.

6. Etika dan Tata Kelola

Semakin kuat teknologi, semakin penting pengawasan. Akuntan perlu menjaga integritas data, kontrol internal, dan kepatuhan.

WEF dalam Future of Jobs Report 2025 menyebut teknologi, fragmentasi geoekonomi, ketidakpastian ekonomi, perubahan demografi, dan transisi hijau akan membentuk transformasi pasar kerja hingga 2030. Laporan tersebut mengumpulkan perspektif lebih dari 1.000 pemberi kerja global yang mewakili lebih dari 14 juta pekerja.

Dengan perubahan sebesar itu, akuntan yang tidak belajar ulang akan lebih rentan tertinggal.

AI Gantikan Akuntan atau Gantikan Cara Kerjanya?

Pertanyaan yang lebih tepat mungkin bukan “apakah kecerdasan buatan menggantikan akuntan?”, tetapi “bagian mana dari pekerjaan akuntan yang akan diubah kecerdasan buatan?”

Jawabannya: banyak.

– Pencatatan akan makin otomatis.
– Rekonsiliasi akan makin cepat.
– Laporan rutin bisa dibuat lebih mudah.
– Analisis awal bisa dibantu AI.
– Deteksi anomali bisa lebih cepat.
– Draft memo atau ringkasan bisa dibuat dalam hitungan menit.

Namun, manusia tetap diperlukan untuk memeriksa, menilai, memberi konteks, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab.

ACCA menyebut tren kerja yang didorong AI dalam akuntansi mencakup penyusutan tugas pemrosesan rutin, perluasan peran strategis dan advisory, evolusi peran menengah yang lebih banyak memuat judgement dan interaksi klien, serta tanggung jawab baru di persimpangan akuntansi, teknologi, dan strategi.

Dengan kata lain, profesinya tidak hilang, tetapi standarnya naik.

Cara Akuntan Siapkan Diri

Pertama, kuasai dasar akuntansi dengan kuat. Kecerdasan buatan tidak berguna jika pengguna tidak tahu output-nya benar atau salah.

Kedua, pelajari software akuntansi dan sistem ERP. Banyak pekerjaan akuntansi modern sudah terhubung dengan sistem digital.

Ketiga, tingkatkan kemampuan spreadsheet dan data analytics. Ini masih menjadi alat penting dalam pekerjaan finansial.

Keempat, belajar memakai AI secara aman. Jangan memasukkan data rahasia perusahaan ke alat yang tidak jelas kebijakan datanya.

Kelima, biasakan memeriksa output AI. Jangan langsung menyalin hasil tanpa validasi.

Keenam, pahami kontrol internal. AI bisa membantu, tetapi kontrol tetap perlu dirancang dan diawasi.

Ketujuh, latih komunikasi. Akuntan yang bisa menjelaskan angka menjadi keputusan bisnis akan lebih sulit digantikan.

Kedelapan, terus belajar standar, pajak, dan regulasi. Teknologi berubah, aturan juga berubah. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya