3 Jenis Kurs yang Wajib Dipahami Sebelum Tukar Uang

|

8 Views
3 Jenis Kurs yang Wajib Dipahami Sebelum Tukar Uang

FinanSaya.com – 3 jenis kurs yang paling sering ditemui adalah kurs tengah, kurs jual, dan kurs beli. Ketiganya sama-sama berkaitan dengan nilai tukar mata uang, tetapi fungsinya berbeda. Jika tidak dipahami, orang bisa salah menghitung saat menukar dolar, menerima pembayaran dari luar negeri, membeli barang impor, mencatat transaksi bisnis, atau membaca pergerakan rupiah.

Kurs sendiri adalah nilai tukar satu mata uang terhadap mata uang lain. Misalnya, berapa rupiah yang dibutuhkan untuk mendapatkan 1 dolar AS, atau berapa rupiah yang diterima ketika seseorang menukarkan dolar AS ke rupiah.

Salah satu yang perlu diperhatikan, angka kurs tidak selalu satu. Di bank, money changer, aplikasi keuangan, dan situs resmi, kita sering melihat lebih dari satu angka. Ada kurs jual. Ada kurs beli. Ada kurs tengah. Kadang ada juga istilah TT counter, bank notes, e-rate, atau kurs pajak.

Agar tidak bingung, mari pahami 3 jenis kurs ini satu per satu.

Apa Itu Kurs Jual?

Yang pertama dari 3 jenis kurs ini, adalah kurs jual, yakni kurs yang digunakan bank atau money changer ketika menjual mata uang asing kepada nasabah.

Cara paling mudah mengingat 3 jenis kurs tersebut: kurs jual dilihat dari sudut pandang bank atau penyedia valuta asing. Jika bank menjual dolar ke kamu, kamu membeli dolar dari bank. Maka yang dipakai adalah kurs jual.

Contohnya, kamu ingin membeli USD 1.000 untuk perjalanan ke luar negeri. Jika kurs jual USD di bank adalah Rp16.200, maka rupiah yang perlu kamu siapkan adalah:

USD 1.000 x Rp16.200 = Rp16.200.000

Jadi, ketika kamu ingin menukar rupiah menjadi dolar, euro, yen, atau mata uang asing lain, biasanya angka yang perlu dilihat adalah kurs jual.

Dari 3 jenis kurs, biasanya kurs jual lebih tinggi daripada kurs beli. Ini wajar karena bank atau money changer mengambil spread atau selisih sebagai bagian dari biaya dan margin transaksi.

Apa Itu Kurs Beli?

Kurs beli adalah kurs yang digunakan bank atau money changer ketika membeli mata uang asing dari nasabah.

Masih dari sudut pandang bank. Jika kamu membawa dolar dan ingin menukarnya menjadi rupiah, bank membeli dolar dari kamu. Maka yang digunakan adalah kurs beli.

Contohnya, kamu punya USD 1.000 dan ingin menukarkannya ke rupiah. Jika kurs beli USD di bank adalah Rp16.000, maka rupiah yang kamu terima adalah:

USD 1.000 x Rp16.000 = Rp16.000.000

Jadi, ketika kamu menjual mata uang asing ke bank atau money changer, lihat kurs beli.

Inilah bagian yang sering membingungkan di antara 3 jenis kurs. Banyak orang berpikir “saya beli dolar, berarti lihat kurs beli.” Padahal, kurs beli adalah saat bank membeli dolar dari kamu. Jika kamu membeli dolar dari bank, yang digunakan justru kurs jual.

Apa Itu Kurs Tengah?

Kurs tengah adalah nilai tengah antara kurs jual dan kurs beli. Secara sederhana, kurs tengah bisa dihitung dengan rumus:

Kurs tengah = (kurs jual + kurs beli) / 2

Misalnya:

Kurs jual USD: Rp16.200
Kurs beli USD: Rp16.000

Maka kurs tengahnya:

(Rp16.200 + Rp16.000) / 2 = Rp16.100

Dari 3 jenis kurs tadi, kurs tengah sering digunakan sebagai acuan, referensi, atau kebutuhan pencatatan tertentu. Namun, kurs tengah biasanya bukan kurs yang dipakai nasabah saat benar-benar membeli atau menjual mata uang asing di bank.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa titik tengah Kurs Transaksi BI USD/IDR menggunakan kurs referensi JISDOR. BI juga menyebut Kurs Transaksi BI diumumkan sekali setiap hari kerja.

Dengan kata lain, kurs tengah berguna untuk membaca gambaran nilai tukar, tetapi dalam transaksi riil, kamu tetap perlu melihat kurs jual atau kurs beli.

Baca Juga: Utang Piutang Tanpa Hak Tanggungan, Apa Risikonya?

Kenapa Kurs Jual dan Kurs Beli Berbeda?

Kurs jual dan kurs beli berbeda karena bank atau money changer tidak menukar mata uang tanpa biaya. Mereka perlu menanggung risiko nilai tukar, biaya operasional, likuiditas valuta asing, dan margin usaha.

Selisih antara kurs jual dan kurs beli disebut spread.

Contohnya:

Kurs jual USD: Rp16.200
Kurs beli USD: Rp16.000
Spread: Rp200

Artinya, jika kamu membeli USD 1.000 lalu langsung menjualnya kembali pada saat yang sama, kamu bisa rugi karena membeli di kurs jual dan menjual di kurs beli.

Contoh:

Beli USD 1.000: 1.000 x Rp16.200 = Rp16.200.000
Jual kembali USD 1.000: 1.000 x Rp16.000 = Rp16.000.000

Selisih rugi langsung: Rp200.000

Inilah alasan menukar uang asing bukan sekadar melihat “kurs tengah”. Dalam transaksi nyata, spread bisa memengaruhi jumlah uang yang kamu bayar atau terima.

Contoh Memahami 3 Jenis Kurs dalam Kehidupan Sehari-hari

Agar lebih mudah memahami 3 jenis kurs ini, bayangkan kamu sedang melihat kurs USD di sebuah bank:

Kurs jual: Rp16.250
Kurs beli: Rp16.050
Kurs tengah: Rp16.150

Jika Kamu Ingin Membeli Dolar

Dalam 3 jenis kurs ini, karena kamu ingin membeli USD 500 untuk perjalanan luar negeri. Karena bank menjual dolar ke kamu, gunakan kurs jual.

USD 500 x Rp16.250 = Rp8.125.000

Jadi, kamu perlu membayar sekitar Rp8.125.000.

Jika Kamu Ingin Menjual Dolar

Kamu baru pulang dari luar negeri dan masih punya USD 500. Kamu ingin menukarnya ke rupiah. Karena bank membeli dolar dari kamu, gunakan kurs beli.

USD 500 x Rp16.050 = Rp8.025.000

Jadi, kamu menerima sekitar Rp8.025.000.

Jika Kamu Ingin Melihat Nilai Rata-rata

Kurs tengahnya:

(Rp16.250 + Rp16.050) / 2 = Rp16.150

Kurs tengah ini membantu melihat nilai rata-rata, tetapi bukan angka yang kamu terima saat transaksi beli atau jual di bank.

Kapan Menggunakan Kurs Jual, Kurs Beli, dan Kurs Tengah?

Gunakan kurs jual saat kamu membeli mata uang asing dari bank, money changer, atau penyedia valas.

Gunakan kurs beli saat kamu menjual mata uang asing kepada bank, money changer, atau penyedia valas.

Gunakan kurs tengah untuk melihat nilai acuan, perbandingan, atau pencatatan tertentu, tergantung aturan dan kebutuhan. Namun, jangan menganggap kurs tengah sebagai harga transaksi yang pasti kamu dapatkan.

Untuk urusan pajak, Kementerian Keuangan menerbitkan kurs pajak yang dipakai untuk keperluan perpajakan tertentu, bukan sekadar kurs jual atau kurs beli bank umum. Kementerian Keuangan menyediakan publikasi Kurs Pajak untuk berbagai mata uang asing.

Jadi, konteks sangat penting. Kurs untuk menukar uang di bank, kurs BI, kurs pajak, dan kurs pencatatan bisnis bisa berbeda. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya