FinanSaya.com – Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menyatakan “I love the inflation” saat merespons lonjakan inflasi Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul ketika data terbaru menunjukkan tekanan harga konsumen AS kembali meningkat, terutama akibat kenaikan biaya energi di tengah perang Iran.
Reuters melaporkan Donald Trump menyampaikan kalimat tersebut ketika ditanya mengenai tekanan harga. Ia menyebut inflasi akan turun tajam ketika konflik Timur Tengah berakhir.
Pernyataan itu langsung menjadi perhatian karena inflasi masih menjadi isu sensitif bagi masyarakat AS. Selama kampanye, Trump menjadikan biaya hidup sebagai salah satu isu utama dan berulang kali berjanji akan menurunkan harga-harga.
Namun, data terbaru justru menunjukkan tekanan inflasi kembali menguat. AP News melaporkan Trump menyebut angka inflasi terbaru sebagai sesuatu yang “great” dan mengatakan harga akan turun “like a rock” setelah konflik Iran selesai.
Berdasarkan laporan AP, indeks harga konsumen AS naik 4,2 persen secara tahunan pada Mei. Angka tersebut menjadi kenaikan tertinggi sejak April 2023 dan langsung dimanfaatkan Partai Demokrat untuk menyerang Trump menjelang pemilu sela.
Sementara itu, data resmi dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan tekanan inflasi memang datang kuat dari komponen energi. Pada Mei 2026, CPI AS naik 4,2 persen secara tahunan, lebih tinggi dari April yang sebesar 3,8 persen. Sementara itu, CPI inti naik 2,9 persen, indeks makanan naik 3,1 persen, dan indeks energi melonjak 23,5 persen dalam setahun.
Inflasi AS Naik karena Tekanan Energi
Selain itu, The Guardian juga melaporkan inflasi tahunan AS mencapai 4,2 persen pada Mei, level tertinggi dalam tiga tahun. Lonjakan itu terjadi bersamaan dengan perang AS-Israel melawan Iran yang mengganggu pasokan minyak.
Media Inggris tersebut mencatat harga minyak berada di kisaran 85 dolar AS per barel. Biaya energi menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga karena berpengaruh pada harga bensin, transportasi, dan tarif penerbangan.
Reuters dalam laporan terpisah menulis inflasi AS kembali menembus 4 persen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun karena perang Iran mendorong biaya energi. Dalam laporan itu, Trump kembali menegaskan harga akan turun tajam ketika perang berakhir.
Namun, pernyataan “I love the inflation” menjadi masalah politik karena mudah ditafsirkan sebagai sikap yang tidak sensitif terhadap tekanan biaya hidup.
Forbes juga menulis Trump mengatakan “no, I love it. I love the inflation” ketika ditanya apakah ia khawatir terhadap kenaikan harga konsumen.
Baca Juga: Trump Pamer Deal Boeing, Investor Malah Kecewa
Gedung Putih Jelaskan Maksud Donald Trump
Dari sisi Gedung Putih, komentar tersebut dibingkai sebagai respons terhadap kondisi yang dinilai masih bisa dikendalikan. MarketWatch mengutip juru bicara Gedung Putih Kush Desai yang menjelaskan bahwa Presiden Donald Trump menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang dianggap positif.
Menurut penjelasan dari Gedung Putih, beberapa harga kebutuhan seperti obat resep, produk susu, kendaraan, serta asuransi kesehatan dan kendaraan mengalami penurunan. Pemerintahan Donald Trump berusaha membedakan inflasi yang dipicu energi akibat perang dengan harga barang tertentu yang disebut masih membaik.
New York Post melaporkan Donald Trump kemudian berusaha menjelaskan ucapannya. Ia menyebut maksudnya adalah inflasi masih lebih rendah dari yang dikhawatirkan dalam situasi perang, serta membandingkannya dengan masa pemerintahan Joe Biden ketika inflasi pernah mencapai 9,1 persen pada 2022.
Meski begitu, pernyataan tersebut tetap berisiko secara politik. Inflasi adalah isu yang dekat dengan pemilih karena berhubungan langsung dengan harga makanan, bensin, cicilan, dan daya beli rumah tangga.
Bagi pasar keuangan global, kenaikan inflasi AS juga penting diperhatikan. Jika inflasi tetap tinggi, Federal Reserve akan lebih sulit menurunkan suku bunga. Kondisi itu dapat membuat biaya pinjaman tetap mahal dan memengaruhi pergerakan pasar global.
Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, arah inflasi dan suku bunga AS bisa berdampak pada dolar AS. Jika suku bunga tinggi bertahan lebih lama, dolar berpotensi menguat dan memberi tekanan tambahan pada mata uang negara lain, termasuk rupiah. (Sol)




