Topang Ketahanan Pangan, BI Dorong Kredit Pertanian

|

3 Views
Topang Ketahanan Pangan, BI Dorong Kredit Pertanian

FinanSaya.com – Ketahanan pangan menjadi salah satu fondasi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya risiko global dan tantangan perubahan iklim. Bank Indonesia menilai penguatan sektor pangan perlu dilakukan dari sisi pembiayaan, produktivitas, distribusi, hingga stabilitas harga.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, dalam keterangan resminya mengatakan BI mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit dan pembiayaan pada sektor pertanian, industri pengolahan, serta hilirisasi pangan. Dorongan itu dilakukan melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM.

Selain itu, Bank Indonesia turut mendorong produktivitas, memperlancar distribusi, dan menjaga stabilitas harga pangan melalui implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera atau GPIPS.

Hal tersebut disampaikan Ricky saat memberikan keynote speech dalam seminar bertajuk “Ketahanan Pangan untuk Indonesia Emas” di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026.

Menurut Ricky, ketidakpastian global membawa tantangan nyata bagi pasokan pangan nasional. Tantangan tersebut mencakup volatilitas harga komoditas, pembatasan ekspor, kenaikan biaya logistik, hingga kenaikan biaya impor.

Dia menilai, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga ikut mendorong kenaikan harga pangan impor dan sarana produksi pertanian. Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan pengendalian inflasi.

“Dengan tekanan harga yang tetap terkendali, daya beli masyarakat dapat terlindungi dan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga,” ujar Ricky.

Ketahanan Pangan Ditopang Kredit dan Inovasi

Ricky menegaskan penguatan ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga stabilitas perekonomian. Karena itu, BI mendorong bauran kebijakan yang mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi sesuai sasaran pemerintah.

Pada 2026 dan 2027, sasaran inflasi ditetapkan sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Stabilitas harga pangan menjadi bagian penting karena komoditas pangan sering menjadi sumber tekanan inflasi, terutama saat pasokan terganggu.

Dari sisi riset, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Arif Satria, menilai inovasi dari hulu menjadi kunci meredam lonjakan harga pangan. Menurutnya, komoditas volatile food sangat rentan terhadap perubahan musim dan cuaca.

BRIN telah mengembangkan sejumlah varietas padi unggulan dengan produktivitas di atas 10 ton per hektare. Varietas tersebut dikembangkan agar tahan banjir, kekeringan, dan lahan asin untuk mendukung agenda riset nasional menuju kedaulatan pangan Indonesia Emas 2045.

“Ketersediaan varietas unggul yang tahan cuaca ekstrem diharapkan dapat menstabilkan pasokan komoditas pokok dan mencegah lonjakan harga,” ujar Arif.

Baca Juga: BI Catat Kondisi Keuangan Konsumen Mulai Tertekan

Gerakan Pangan Murah Digelar Ribuan Kali

Dari sisi pengelolaan pasokan, Ketua Tim Kerja Stabilisasi Pasokan Pangan Badan Pangan Nasional, Yudhi Harsatriadi Sandyatma, mengatakan intervensi lapangan terus digencarkan bersama Bank Indonesia.

Sinergi tersebut terutama dilakukan melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah. Hingga awal Juni 2026, Gerakan Pangan Murah telah digelar lebih dari 5.200 kali di 36 provinsi.

Selain itu, sebanyak 2.890 Kios Pangan telah dioperasikan. Program ini menjadi bagian dari upaya menjaga akses masyarakat terhadap pangan sekaligus menahan tekanan harga di tingkat konsumen.

Dunia usaha juga menyatakan kesiapan menjadi mitra aktif dalam penguatan rantai pasok pangan. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pangan Kadin Indonesia, H. Mulyadi Jayabaya, mengatakan Kadin mendorong penguatan rantai pasok domestik dan harmonisasi regulasi pusat-daerah.

Menurut Mulyadi, hambatan regulasi selama ini dinilai dapat menahan investasi di sektor pangan. Karena itu, dunia usaha ingin terlibat bukan hanya sebagai pihak yang menunggu kebijakan.

“Kadin mendorong penguatan rantai pasok domestik dan harmonisasi regulasi pusat-daerah yang selama ini dinilai menghambat investasi di sektor pangan. Kami datang membawa solusi, investasi, dan kesiapan untuk bergerak bersama,” ujar Mulyadi.

Bank Indonesia menyatakan akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, perbankan, dunia usaha, akademisi, dan lembaga riset. Sinergi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan nasional.

Langkah itu didukung bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi tetap terkendali sesuai sasaran pemerintah. Dengan stabilitas harga yang terjaga, penguatan ketahanan pangan diharapkan menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya