FinanSaya.com – Tekanan dolar Amerika Serikat masih menjadi perhatian banyak negara Asia Tenggara.
Saat dolar AS menguat, mata uang negara berkembang biasanya ikut tertekan. Investor global cenderung memindahkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman.
Namun, dampaknya tidak sama di setiap negara. Ada yang mata uangnya bergerak bebas dan langsung tertekan. Ada pula yang lebih terlindungi karena memakai dolar AS, memiliki sistem nilai tukar khusus, atau menjalankan kebijakan moneter berbasis kurs.
Timor-Leste Paling Tidak Terdampak Langsung
Timor-Leste menjadi contoh paling jelas.
Di antara negara Asia Tenggara, Timor-Leste paling tidak terdampak langsung oleh tekanan dolar AS karena memakai dolar AS sebagai mata uang resmi.
Banco Central de Timor-Leste menyebut dolar AS sebagai mata uang resmi dan alat pembayaran sah untuk transaksi tunai di negara tersebut. Dengan sistem ini, Timor-Leste tidak mengalami pelemahan mata uang lokal terhadap dolar AS seperti rupiah, peso, baht, atau ringgit.
Artinya, ketika dolar AS menguat, Timor-Leste tidak menghadapi risiko kurs domestik terhadap dolar karena mata uang yang dipakai memang dolar AS.
Namun, bukan berarti negara ini sepenuhnya bebas dari dampak ekonomi global. Penguatan dolar AS tetap dapat memengaruhi harga barang impor, daya beli, dan biaya perdagangan.
IMF mencatat Timor-Leste telah menggunakan dolar AS secara eksklusif selama lebih dari dua dekade sejak mata uang tersebut diadopsi pada Januari 2000.
Brunei Ditopang Hubungan dengan Dolar Singapura
Brunei Darussalam juga termasuk negara Asia Tenggara yang relatif lebih terlindungi dari tekanan langsung dolar AS.
Dolar Brunei memiliki hubungan khusus dengan dolar Singapura melalui Currency Interchangeability Agreement. Monetary Authority of Singapore menyatakan mata uang Brunei dan Singapura dapat ditukar dengan nilai setara atau par value tanpa biaya.
Kondisi ini membuat dolar Brunei cenderung bergerak sejalan dengan dolar Singapura.
Dengan hubungan tersebut, tekanan dolar AS tidak langsung menghantam Brunei seperti negara yang mata uangnya sepenuhnya bergerak bebas di pasar. Stabilitas Brunei juga ditopang oleh karakter ekonominya yang berbasis energi dan sistem mata uang yang lebih terkendali.
Meski begitu, Brunei tetap tidak sepenuhnya kebal. Jika dolar AS menguat tajam dan memengaruhi perdagangan global, harga energi, atau arus modal, dampaknya tetap bisa terasa melalui jalur ekonomi lain.
Singapura Punya Sistem Moneter Berbasis Kurs
Singapura menjadi negara Asia Tenggara yang menarik karena kebijakan moneternya berbeda dari banyak negara lain.
Dolar Singapura tetap terpengaruh dinamika dolar AS. Namun, posisinya relatif lebih kuat dibanding banyak mata uang kawasan.
Salah satu penyebabnya adalah kerangka kebijakan moneter Singapura. Monetary Authority of Singapore atau MAS, menyatakan kebijakan moneter negara itu berpusat pada pengelolaan dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang.
Artinya, Singapura yang merupakan negara Asia Tenggara tidak hanya mengandalkan pengaturan suku bunga domestik. MAS menjelaskan bahwa kebijakan moneternya dilakukan dengan mengelola nilai tukar dolar Singapura, bukan mengendalikan suku bunga domestik atau pertumbuhan uang beredar.
Sistem ini memberi Singapura ruang untuk meredam tekanan eksternal, termasuk dari penguatan dolar AS. Karena perekonomiannya sangat terbuka dan bergantung pada perdagangan, pengelolaan nilai tukar menjadi alat penting untuk menjaga stabilitas harga.
Baca Juga: Rupiah Stabil Lebih Penting daripada Sekadar Kuat
Kamboja Unik karena Terdolarisasi
Kamboja menjadi negara Asia Tenggara dengan kasus berbeda.
Secara resmi, negara ini memiliki mata uang riel. Namun, perekonomiannya masih sangat terdolarisasi. Dolar AS banyak digunakan dalam simpanan, transaksi, dan aktivitas keuangan.
Data National Bank of Cambodia dalam Financial Stability Review 2025 menunjukkan porsi simpanan valuta asing terhadap total deposito masih sangat tinggi, yakni sekitar 90 persen pada 2025.
Tingginya penggunaan dolar AS membuat Kamboja tidak mengalami tekanan kurs langsung seperti negara Asia Tenggara yang seluruh aktivitas ekonominya bertumpu pada mata uang lokal.
Namun, dollarization juga punya sisi negatif. Bank sentral Kamboja dalam kajiannya menyebut dollarization dapat membatasi kemampuan bank sentral menjalankan kebijakan moneter secara penuh.
Dengan kata lain, penggunaan dolar AS dapat memberi stabilitas transaksi, tetapi mengurangi ruang kebijakan bagi otoritas moneter.
Tidak Kebal, Hanya Lebih Tahan
Timor-Leste, Brunei, Singapura, dan Kamboja menunjukkan bahwa tekanan dolar tidak bekerja dengan cara yang sama di seluruh kawasan.
Sebagian negara Asia Tenggara lebih tahan dari gejolak kurs langsung karena sistem mata uangnya berbeda. Timor-Leste memakai dolar AS. Brunei terkait erat dengan dolar Singapura. Singapura mengelola nilai tukar secara aktif. Kamboja memiliki ekonomi yang sangat terdolarisasi.
Namun, lebih tahan bukan berarti kebal.
Penguatan dolar AS tetap bisa masuk melalui harga impor, perdagangan, biaya pembiayaan, arus modal, dan sentimen investor. Negara yang tidak mengalami pelemahan mata uang lokal terhadap dolar tetap bisa menghadapi tekanan harga atau perubahan daya beli.
Negara dengan Mata Uang Lokal Lebih Rentan
Tekanan dolar biasanya lebih terasa pada negara Asia Tenggara yang memakai mata uang lokal dan membiarkan kurs bergerak mengikuti pasar.
Ketika dolar AS menguat, mata uang seperti rupiah, peso, baht, atau ringgit bisa ikut melemah. Dampaknya dapat terasa pada biaya impor, pembayaran utang luar negeri, harga energi, dan sentimen pasar keuangan.
Negara dengan kebutuhan impor tinggi atau utang berdenominasi dolar cenderung lebih sensitif terhadap penguatan dolar AS. Jika mata uang lokal melemah, biaya dalam mata uang domestik bisa naik. Karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi isu penting bagi negara berkembang. (Sol)




