FinanSaya.com – Krismon 98 Indonesia sering dikenang sebagai masa ketika rupiah runtuh, harga kebutuhan melonjak, perusahaan bertumbangan, dan kepercayaan publik terhadap perbankan jatuh.
Dalam narasi populer, kejatuhan rupiah kerap dikaitkan dengan aksi spekulan global seperti George Soros. Namun, krisis itu tidak bisa dijelaskan hanya dari serangan pasar valuta asing. Ada faktor lain yang ikut memperdalam luka krisis, yaitu cara penanganan yang melibatkan Dana Moneter Internasional atau IMF.
IMF bukanlah pihak yang menyerang rupiah. Lembaga itu masuk sebagai pemberi bantuan saat pemerintah menghadapi tekanan nilai tukar, krisis kepercayaan, dan kerentanan sektor perbankan. Namun, sebagian kebijakan awal yang direkomendasikan IMF dinilai ikut memperbesar kepanikan.
Rupiah Tertekan Setelah Krisis Asia
Awal krismon 98 Indonesia tidak berdiri sendiri.
Tekanan terhadap rupiah terjadi setelah krisis baht Thailand pada Juli 1997 menyebar ke sejumlah mata uang Asia. Indonesia yang sebelumnya menjaga rupiah dalam kisaran relatif stabil mulai menghadapi tekanan besar.
Data Bank Indonesia yang dikutip dalam kajian L.T. Tarmidi mencatat nilai tukar rupiah merosot dari rata-rata sekitar Rp2.450 per dolar AS pada Juni 1997 menjadi Rp13.513 per dolar AS pada akhir Januari 1998.
Pelemahan sebesar itu membuat beban korporasi membengkak, terutama perusahaan yang memiliki utang dalam dolar AS. Saat rupiah jatuh, nilai kewajiban dalam rupiah ikut melonjak.
IMF Masuk Saat Krisis Kepercayaan
Dalam situasi tersebut, pemerintah Indonesia meminta bantuan IMF.
Pada 1 November 1997, paket kebijakan diumumkan. Salah satu langkah paling penting adalah penutupan 16 bank yang dianggap kecil dan tidak sehat.
Secara teori, kebijakan itu dimaksudkan untuk membersihkan sektor perbankan dari lembaga yang rapuh. Namun dalam praktiknya, keputusan tersebut memicu kepanikan publik.
Dalam krismon 98 Indonesia, masalah perbankan bukan hanya soal neraca bank. Yang lebih menentukan adalah kepercayaan nasabah. Ketika bank ditutup tanpa jaminan simpanan yang cukup meyakinkan, masyarakat melihat sistem perbankan sedang berada dalam bahaya.
Penutupan Bank Memicu Bank Runs
Kajian IMF eLibrary dalam buku Twenty Years after the Asian Financial Crisis mencatat penutupan bank yang direkomendasikan IMF memicu kepanikan dan bank runs.
Nasabah menarik dana karena takut simpanan mereka tidak aman. Kepanikan tidak hanya terjadi pada bank yang ditutup, tetapi juga menyebar ke bank swasta lain yang dianggap berisiko.
Sebagian dana berpindah ke bank pemerintah. Sebagian lagi ditukar ke dolar AS atau dibawa ke luar negeri. Dampaknya, tekanan terhadap rupiah semakin berat.
Di titik ini, krismon 98 Indonesia berubah dari krisis nilai tukar menjadi krisis kepercayaan yang lebih luas.
BLBI dan Tekanan Likuiditas
Saat masyarakat menarik dana besar-besaran, bank kehilangan likuiditas.
Bank Indonesia kemudian harus mengucurkan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI dalam jumlah besar untuk menahan keruntuhan sistem perbankan.
Namun, ketika likuiditas membanjiri sistem keuangan, pengendalian moneter menjadi semakin sulit. Di saat yang sama, perusahaan dengan utang luar negeri dalam dolar AS juga berburu dolar untuk membayar kewajiban.
Permintaan dolar meningkat, sementara kepercayaan terhadap rupiah terus melemah. Inilah salah satu rangkaian penting dalam krismon 98 Indonesia.
Baca Juga: Sasaran Pemerintah di Stimulus Fiskal Semester II 2026
Utang Dolar Swasta Perparah Krismon 98 Indonesia
Korporasi Indonesia pada masa itu banyak memiliki utang luar negeri dalam dolar AS.
Masalahnya, tidak semua utang tersebut dilindungi dari risiko nilai tukar. Saat rupiah melemah tajam, beban pembayaran melonjak. Perusahaan yang sebelumnya terlihat mampu membayar tiba-tiba menghadapi tekanan besar.
Kajian UNCTAD mengenai krisis perbankan Indonesia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah, suku bunga tinggi, dan debitur yang terlalu banyak berutang menjadi tekanan berlapis bagi sistem perbankan.
Perusahaan berusaha menutup posisi dolar mereka. Permintaan dolar naik, rupiah makin tertekan, dan bank ikut menanggung risiko dari debitur yang memburuk.
IMF Bukan Satu-Satunya Penyebab
Peran IMF dalam krismon 98 Indonesia tidak bisa dilihat hitam-putih.
IMF hadir dengan paket bantuan dan reformasi ekonomi. Tujuannya adalah memulihkan kepercayaan pasar, memperkuat kebijakan fiskal, dan menata ulang sektor keuangan.
Namun, resep awal yang menekankan penutupan bank, disiplin fiskal, dan pemulihan kepercayaan pasar tidak sepenuhnya cocok dengan kondisi sosial-politik Indonesia saat itu.
IMF sendiri dalam evaluasi tahun 2003 disebut mengakui bahwa kerentanan sektor perbankan Indonesia telah diremehkan, baik oleh IMF maupun pembuat kebijakan.
Krisis Ekonomi Juga Krisis Psikologis
Krisis 1998 bukan hanya persoalan angka.
Indonesia saat itu menghadapi krisis kepercayaan terhadap pemerintah, perbankan, dan arah politik nasional. Ketika 16 bank ditutup, publik tidak melihatnya hanya sebagai langkah teknis. Banyak orang membacanya sebagai tanda bahwa sistem keuangan sedang tidak aman.
Dalam krismon 98 Indonesia, kepanikan masyarakat menjadi faktor besar. Ketika orang menarik uang dari bank, membeli dolar, dan membawa dana ke tempat yang dianggap aman, krisis bergerak lebih cepat.
Kebijakan yang dimaksudkan untuk menyehatkan sistem justru memberi sinyal bahaya karena komunikasi dan jaminan publik tidak cukup kuat. (Sol)




