5 Saham Ambruk Parah Saat IHSG Tertekan Siang Ini

|

8 Views
5 Saham Ambruk Parah Saat IHSG Tertekan Siang Ini

FinanSaya.com – IHSG bergerak tertekan pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026 pukul 11.03. Berdasarkan tangkapan layar grafik TradingView yang dipantau sekitar pukul 11.07 WIB, Indeks Harga Saham Gabungan berada di level 5.986,639. Di tengah kondisi tersebut, 5 saham ambruk parah dan masuk daftar top losers berdasarkan data yang dipantau dari Investing.com.

Meski masih berada di zona hijau, IHSG sempat bergerak di bawah level psikologis 6.000.

Dari grafik timeframe 5 menit, indeks menyentuh level terendah di kisaran 5.958,495 sebelum mencoba rebound terbatas ke area 5.986.

Level 6.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena sering dipakai sebagai acuan psikologis untuk membaca arah jangka pendek indeks. Saat indeks bergerak di bawah area tersebut, tekanan jual pada saham tertentu biasanya ikut menjadi sorotan.

Dalam kondisi ini, 5 saham ambruk parah mencatat koreksi hampir 15 persen pada perdagangan berjalan.

RBMS dan OMRE Turun 15 Persen

Dua saham dengan penurunan terdalam adalah PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk atau RBMS dan PT Indonesia Prima Property Tbk atau OMRE.

RBMS turun 15,00 persen ke level Rp51. Sementara OMRE juga melemah 15,00 persen ke posisi Rp935.

Koreksi dua saham tersebut menjadi yang paling dalam dalam daftar top losers yang dipantau hari ini. Dengan penurunan tersebut, RBMS dan OMRE memimpin daftar 5 saham ambruk parah saat IHSG masih bergerak volatil.

Dari sisi volume, RBMS mencatat transaksi sekitar 54,35 juta saham. Adapun OMRE mencatat volume lebih kecil, yakni sekitar 49,6 ribu saham.

APIC, KJEN, dan ASPR Ikut Terkoreksi

Selain RBMS dan OMRE, saham PT Pacific Strategic Financial Tbk atau APIC juga masuk daftar top losers.

Dari 5 Saham Ambruk Parah tersebut, APIC turun 14,97 persen ke posisi Rp710 dengan volume sekitar 496 ribu saham.

Pelemahan parah ternyata juga terjadi pada PT Krida Jaringan Nusantara Tbk atau KJEN. Saham ini melemah 14,92 persen ke level Rp154 dengan volume sekitar 19,38 juta saham.

Sementara itu, PT Asia Pramulia Tbk atau ASPR turun 14,81 persen ke posisi Rp184. Dalam daftar 5 saham ambruk parah, ASPR mencatat volume paling besar, yakni sekitar 233,56 juta saham.

Volume besar pada ASPR menunjukkan aktivitas transaksi saham tersebut cukup ramai, meski harga bergerak turun tajam.

Berikut daftar 5 saham ambruk parah pada perdagangan pada Rabu, 3 Juni 2026 pukul 11.03:

Daftar 5 saham ambruk parah pada Rabu, 3 Juni 2026 siang.

Baca Juga: Saham Top Losers Indonesia Akhir Mei

Saham Lapis Dua dan Tiga Tertekan

Pergerakan 5 saham ambruk parah menunjukkan tekanan tidak hanya terjadi pada indeks secara umum.

Saat IHSG bergerak volatil, saham-saham dengan kapitalisasi lebih kecil bisa mengalami koreksi lebih tajam. Pergerakan harga pada saham seperti ini sering lebih sensitif terhadap tekanan jual, volume transaksi, dan perubahan minat pasar.

ASPR menjadi contoh saham dengan volume besar dalam daftar top losers. Meski transaksi ramai, harga tetap melemah hampir 15 persen.

Sementara OMRE mengalami penurunan 15 persen dengan volume jauh lebih kecil dibanding saham lain dalam daftar tersebut. Perbedaan volume ini menunjukkan karakter perdagangan setiap saham tidak sama.

Kinerja Rupiah saat 5 Saham Ambruk Parah

Sentimen negatif ini terjadi di tengah kondisi makroekonomi yang menantang, termasuk fluktuasi nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda kembali tertekan pada perdagangan Rabu pagi. Kontan mencatat rupiah spot berada di level Rp17.900 per dolar AS pada pukul 09.13 WIB, melemah 0,34 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.839 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah juga berlanjut dan sempat menembus level lebih tinggi. Mengutip dari data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah dilaporkan tertekan hingga Rp17.926 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Situasi tersebut berpotensi berdampak luas pada berbagai sektor industri, terutama sektor yang sensitif terhadap nilai tukar, biaya impor, dan pembiayaan. Sektor properti dan farmasi menjadi dua sektor yang perlu dicermati karena tekanan rupiah dapat memengaruhi biaya bahan baku, beban utang, serta daya beli masyarakat. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya