Materialistis Adalah Sifat Individual, Bukan Gender

|

9 Views
Materialistis Adalah Sifat Individual, Bukan Gender

Opini oleh Solomon Tama

FinanSaya.com – Kata “matre” terlalu sering diarahkan kepada perempuan. Dalam percakapan sehari-hari, perempuan yang mempertimbangkan kondisi ekonomi pasangan mudah dicap materialistis. Padahal, materialistis adalah sifat individual, bukan sifat bawaan dari satu gender tertentu.

Seseorang bisa materialistis karena nilai hidup, pengalaman, lingkungan, tekanan sosial, atau cara ia memandang uang. Karena itu, menyebut perempuan lebih matre hanya karena bicara soal stabilitas finansial adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.

Materialisme Bukan Milik Satu Gender

Dalam kajian psikologi, materialisme tidak dipahami sebagai sifat milik laki-laki atau perempuan saja.

Materialisme lebih dekat dengan orientasi nilai individu. Seseorang disebut materialistis ketika menempatkan uang, harta benda, status sosial, dan kepemilikan sebagai ukuran utama keberhasilan atau kebahagiaan.

Artikel “Psikologi Anti-Materialisme” dari Universitas Gadjah Mada menyebut materialisme berkaitan dengan sifat kepribadian, nilai, dan aspirasi individual yang menekankan pentingnya harta benda dalam kehidupan. Sikap ini juga dapat terlihat dari sifat posesif, kurang dermawan, dan iri terhadap kepemilikan orang lain.

Dari sini jelas bahwa materialistis adalah sifat individual. Ia bisa muncul pada perempuan, laki-laki, orang kaya, orang miskin, orang muda, maupun orang tua.

Kenapa Orang Bisa Menjadi Materialistis

Ada banyak alasan seseorang menjadi materialistis.

Sebagian orang terbiasa mengukur harga diri dari barang yang dimiliki. Sebagian lain tumbuh dalam lingkungan yang menilai kesuksesan dari rumah, kendaraan, pakaian, atau gaya hidup.

Ada juga yang menjadi materialistis karena pernah mengalami kekurangan. Dalam kondisi tertentu, pengalaman sulit bisa membuat seseorang sangat takut hidup tanpa uang. Akhirnya, materi dijadikan pusat rasa aman.

Materialistis adalah sifat individual bisa juga berasal dari tekanan sosial. Saat hidup terus dibandingkan dengan orang lain, seseorang bisa merasa harus terlihat sukses meski kondisi sebenarnya tidak sekuat itu.

Karena itu, materialistis adalah sifat individual yang terbentuk dari banyak faktor, bukan label yang bisa ditempelkan ke satu kelompok gender.

Realistis Tidak Sama dengan Matre

Dalam hubungan dewasa, uang memang perlu dibicarakan.

Pasangan perlu makan, punya tempat tinggal, membayar transportasi, menyiapkan kesehatan, pendidikan anak, dana darurat, dan rencana masa depan. Membicarakan pekerjaan, penghasilan, utang, atau tanggung jawab finansial bukan otomatis matre.

Itu bisa menjadi sikap realistis.

Yang menjadi masalah adalah ketika uang dijadikan satu-satunya ukuran untuk menghargai seseorang. Realistis bertanya, “Apakah kita bisa membangun hidup bersama?” Matre bertanya, “Apa yang bisa saya ambil dari kamu?”

Di titik ini, materialistis adalah sifat individual karena yang menentukan bukan jenis kelamin, melainkan cara seseorang memandang manusia dan uang.

Perempuan Tidak Otomatis Matre

Perempuan yang ingin pasangan bertanggung jawab secara ekonomi tidak otomatis materialistis.

Dalam banyak hubungan, stabilitas finansial berkaitan dengan rasa aman, pembagian tanggung jawab, dan kesiapan membangun masa depan. Itu berbeda dari menjadikan pasangan sebagai sumber fasilitas.

Masalah muncul ketika seseorang hanya menghargai pasangan karena uang, jabatan, keluarga kaya, kendaraan, atau gaya hidup. Jika materi menjadi alasan utama untuk mencintai, hubungan berubah menjadi transaksi.

Maka, menyebut semua perempuan matre tidak adil. Materialistis adalah sifat individual, sehingga penilaiannya harus melihat perilaku orang tersebut, bukan gendernya.

Laki-Laki Juga Bisa Matre

Laki-laki juga bisa materialistis.

Contohnya, laki-laki yang memilih pasangan hanya karena latar belakang ekonomi keluarga, popularitas, jabatan, atau peluang untuk naik status sosial. Ada juga laki-laki yang menilai harga dirinya dari mobil, jam tangan, rumah, pakaian bermerek, atau tempat nongkrong.

Dalam sejumlah studi konsumsi, laki-laki juga dapat mengaitkan kepemilikan benda dengan kebahagiaan atau status. Sebuah kajian tentang materialisme, konsumsi mencolok, dan perbedaan gender mencatat bahwa penelitian terdahulu menemukan laki-laki lebih mungkin mengaitkan kepemilikan material dengan kebahagiaan.

Namun, poinnya bukan membalik tuduhan. Poinnya adalah menghentikan generalisasi. Materialistis Adalah Sifat Individual, baik muncul pada laki-laki maupun perempuan.

Baca Juga: Apa Itu Romance Scam? Modus Cinta Penguras Rekening

Dampaknya pada Hubungan

Materialisme bisa merusak hubungan.

Ketika uang menjadi pusat penilaian, pasangan bisa merasa hanya dimanfaatkan. Hubungan juga rentan dipenuhi tuntutan berlebihan, rasa tidak pernah cukup, konflik finansial, dan perbandingan dengan orang lain.

Artikel ilmiah tentang efek materialisme terhadap hubungan menyebut materialisme sebagai nilai yang mengaitkan kekayaan dan konsumsi dengan keberhasilan serta kebahagiaan. Orientasi seperti ini dapat berdampak negatif pada hubungan antarmanusia.

Dalam relasi, materi memang penting. Namun, hubungan sehat tetap membutuhkan tanggung jawab, kejujuran, empati, komitmen, dan kemampuan bekerja sama.

Media Sosial Perkuat Tekanan

Era media sosial membuat materialisme lebih mudah tumbuh.

Banyak orang menampilkan hidup seperti etalase. Liburan, restoran mahal, barang branded, kendaraan baru, rumah bagus, dan pencapaian finansial dipamerkan sebagai tanda berhasil.

Dari sana muncul tekanan untuk terlihat sukses. Orang tidak lagi hanya ingin hidup layak, tetapi ingin terlihat lebih unggul dari orang lain.

Dalam kondisi seperti ini, materialistis adalah sifat individual yang bisa diperkuat oleh budaya pamer, perbandingan sosial, dan kebutuhan validasi.

Ukuran Manusia Bukan Hanya Materi

Uang tetap penting untuk hidup layak.

Namun, uang tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran nilai manusia. Saldo rekening, merek pakaian, jenis kendaraan, atau tempat makan tidak cukup untuk menilai kualitas seseorang.

Dalam hubungan, hal yang lebih menentukan adalah tanggung jawab, kematangan, kerja keras, kesetiaan, empati, dan kesediaan bertumbuh bersama.

Kalimat “cewek itu matre” atau “cowok itu matre” sebaiknya diganti dengan pemahaman yang lebih tepat: orang itu materialistis. Sebab masalahnya bukan gender, melainkan orientasi nilai.

Pada akhirnya, Materialistis Adalah Sifat Individual. Matre bukan kodrat perempuan. Matre juga bukan monopoli laki-laki. Seseorang boleh mencari pasangan yang bertanggung jawab secara ekonomi. Namun, ketika cinta berubah menjadi transaksi dan manusia hanya dilihat sebagai sumber fasilitas, materialisme mulai merusak hubungan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya