Saham Top Losers Indonesia Akhir Mei

|

5 Views
Saham Top Losers Indonesia Akhir Mei

FinanSaya.com – IHSG menutup perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, dengan pelemahan tipis dan beberapa saham top losers Indonesia yang terpantau drop.

Berdasarkan data pasar yang dikutip Katadata Databoks dari RTI Business, Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,05 persen ke level 6.127,38. Sebanyak 409 saham melemah, 271 saham menguat, dan 137 saham stagnan.

Di tengah pelemahan terbatas itu, sejumlah emiten justru mencatat koreksi tajam. Daftar saham top losers Indonesia hari itu dipimpin APIC, ASPR, dan FILM. Data Investing.com juga menampilkan TALF, MGNA, BANK, dan PMUI sebagai saham lain yang masuk jajaran penurunan terdalam pada 29 Mei.

APIC Ambles Paling Dalam

Saham PT Pacific Strategic Financial Tbk atau APIC menjadi saham dengan penurunan paling tajam.

APIC tercatat ambles 14,78 persen, menjadikannya top losers utama pada perdagangan Jumat. Koreksi sebesar itu membuat saham ini langsung menjadi perhatian pasar, terutama karena penurunannya terjadi saat IHSG hanya melemah tipis.

Dalam daftar saham top losers Indonesia, APIC menempati posisi teratas dengan tekanan jual paling besar.

Pacific Strategic Financial merupakan emiten yang bergerak di bidang investasi dan aktivitas konsultasi manajemen. Melalui entitas anaknya, perseroan memiliki kegiatan usaha di sektor pasar modal, sekuritas, manajemen investasi, multifinance, hingga asuransi jiwa melalui PT Pacific Life Insurance.

Namun, koreksi harian seperti ini perlu dibaca hati-hati.

Penurunan harga saham di pasar tidak otomatis berarti fundamental perseroan memburuk pada hari yang sama. Dalam perdagangan harian, harga bisa bergerak karena sentimen, likuiditas, aksi jual, atau tekanan teknikal.

ASPR Turun Hampir 15 Persen

Saham PT Asia Pramulia Tbk atau ASPR juga masuk daftar saham yang paling tertekan.

ASPR turun 14,76 persen, hanya sedikit di bawah pelemahan APIC. Dengan koreksi tersebut, ASPR menjadi salah satu saham top losers Indonesia yang paling disorot pada perdagangan akhir pekan.

Asia Pramulia merupakan perusahaan manufaktur kemasan plastik yang berbasis di Jawa Timur.

Perseroan memproduksi berbagai produk kemasan berbahan plastik, mulai dari botol minuman, botol minyak sawit, kemasan kosmetik, kemasan farmasi, kemasan kimia, ember cat, jeriken, toples makanan, hingga galon air minum.

Koreksi hampir 15 persen menunjukkan tekanan jual yang cukup besar.

FILM Ikut Terkoreksi Tajam

Saham PT MD Entertainment Tbk atau FILM juga mencatat pelemahan signifikan.

FILM turun 14,68 persen pada perdagangan Jumat. Penurunan ini membuat emiten hiburan tersebut masuk jajaran saham top losers Indonesia bersama APIC dan ASPR.

MD Entertainment dikenal sebagai emiten di sektor media dan hiburan. Perseroan menaungi lini bisnis produksi film dan konten hiburan, dengan sejumlah karya populer di industri perfilman nasional.

Saham sektor hiburan kerap bergerak sensitif terhadap ekspektasi pasar.

Kinerja konten, pendapatan, sentimen investor terhadap industri kreatif, dan prospek konsumsi hiburan bisa memengaruhi cara pasar menilai saham seperti FILM. Namun untuk pergerakan harian, koreksi tajam tetap perlu dibaca sebagai sinyal tekanan jual yang membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.

TALF Masuk Daftar Tekanan

Selain tiga saham utama dari data RTI Business, Investing.com juga mencatat PT Tunas Alfin Tbk atau TALF sebagai salah satu saham dengan penurunan terdalam.

TALF melemah 14,46 persen pada perdagangan 29 Mei. Dengan penurunan tersebut, TALF ikut masuk daftar saham top losers Indonesia hari itu.

Tunas Alfin merupakan perusahaan manufaktur kemasan. Perseroan memproduksi berbagai produk kemasan halus untuk industri rokok, makanan konsumen, kesehatan, dan kebersihan.

Kegiatan usahanya mencakup percetakan, laminasi, metalisasi, coating, quality control, serta riset dan pengembangan.

Menariknya, TALF dan ASPR sama-sama berasal dari sektor kemasan. Ini membuat tekanan pada saham kemasan ikut menjadi salah satu catatan dalam perdagangan tersebut, meskipun penyebab pergerakan masing-masing saham tetap perlu dilihat dari data transaksi dan sentimen spesifik emiten.

Baca Juga: Analisa Top 5 Saham Indonesia Saat Cuti Bersama

MGNA Anjlok Lebih dari 14 Persen

Saham PT Magna Investama Mandiri Tbk atau MGNA juga mengalami tekanan besar.

MGNA tercatat melemah 14,41 persen. Koreksi ini membuatnya masuk jajaran saham top losers Indonesia dengan kinerja harian terburuk di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Jumat.

Magna Investama Mandiri bergerak di bidang jasa, perdagangan, dan investasi. Dalam profil resminya, perseroan menyebut kegiatan usahanya berada pada sektor tersebut.

Saham dengan kapitalisasi relatif kecil atau likuiditas terbatas biasanya dapat bergerak lebih volatil.

BANK Juga Tertekan

Saham PT Bank Aladin Syariah Tbk atau BANK ikut mencatat pelemahan tajam.

BANK turun 14,39 persen pada perdagangan 29 Mei. Penurunan ini menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada emiten manufaktur, investasi, atau hiburan, tetapi juga merembet ke saham perbankan digital syariah.

Dalam daftar saham top losers Indonesia, BANK menjadi salah satu nama yang menarik karena sektor bank digital biasanya mendapat perhatian tinggi dari investor ritel.

Bank Aladin Syariah merupakan bank syariah berbasis digital.

Perseroan menyatakan fokusnya adalah membuka dan mempermudah akses layanan perbankan syariah berbasis digital agar dapat melayani berbagai lapisan masyarakat.

PMUI Lengkapi Daftar Top Losers Saham Indonesia

Saham PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk atau PMUI juga masuk daftar saham dengan penurunan terdalam.

PMUI melemah 14,29 persen. Penurunan ini melengkapi deretan saham top losers Indonesia pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026.

Prima Multi Usaha Indonesia merupakan perusahaan distributor produk telekomunikasi. Dalam profil resminya, PMUI menyebut dirinya sebagai mitra resmi XL SMART dengan wilayah distribusi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Perseroan juga mencatat lebih dari 12 juta transaksi tahunan, lebih dari 4.000 field partners, dan lebih dari 100.000 retail outlets.

Sebagai emiten yang relatif baru dikenal sebagian pelaku pasar, pergerakan saham PMUI berpotensi lebih sensitif terhadap aksi jual investor jangka pendek. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya