FinanSaya.com – Indeks Harga Saham Gabungan memulai awal pekan dengan gerak yang belum tenang. Pada pembukaan perdagangan Senin, 25 Mei 2026, pergerakan IHSG fluktuatif dan sempat menguat.
Namun penguatan itu tidak bertahan mulus karena tekanan mulai muncul dari sejumlah saham berkapitalisasi besar dan saham lapis dua. Sebagian saham bergerak naik tajam, tetapi sebagian lain jatuh cukup dalam. Kondisi ini membuat IHSG fluktuatif sejak awal sesi.
Berdasarkan data grafik Bursa Efek Indonesia, IHSG pada pukul 09.00 WIB menguat 36,29 poin atau 0,59 persen ke level 6.199,02.
Pada awal perdagangan, sebanyak 369 saham menguat, 106 saham melemah, dan 195 saham stagnan.
Total volume perdagangan mencapai 1,89 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp934,60 miliar.
Angka ini menunjukkan aktivitas pasar cukup ramai sejak pagi. Namun, ramainya transaksi tidak otomatis berarti indeks bergerak solid.
Di sinilah investor perlu hati-hati akan IHSG fluktuatif.
Kenaikan di awal sesi bisa saja hanya menjadi technical rebound setelah tekanan beberapa pekan sebelumnya.
Semua Sektor Sempat Hijau
Pada pembukaan perdagangan, seluruh indeks sektoral sempat berada di zona hijau.
Sektor infrastruktur menjadi penopang utama dengan kenaikan 1,74 persen. Setelah itu, sektor barang konsumen siklikal naik 1,49 persen, lalu sektor properti menguat 1,31 persen.
Kondisi ini memberi sinyal positif di awal perdagangan.
Namun karena IHSG fluktuatif, penguatan sektoral belum cukup kuat untuk menjaga IHSG tetap stabil sepanjang pagi.
Ketika tekanan jual mulai muncul di saham tertentu, laju indeks ikut tertahan.
Masalahnya, IHSG sangat dipengaruhi saham-saham dengan bobot besar. Jika beberapa saham besar turun bersamaan, penguatan sektor lain bisa cepat tergerus.
IHSG Fluktuatif, Tekanan Kembali Datang
Data Investing.com menunjukkan, pada pukul 10.32 WIB, IHSG berada di level 6.151,99.
Posisi itu berarti IHSG melemah 10,06 poin atau sekitar 0,16 persen.
Sepanjang perdagangan pagi, IHSG bergerak di rentang 6.124,58 sampai 6.224,75.
Rentang ini menunjukkan IHSG fluktuatif dan bergerak naik turun cukup lebar.
Investor belum sepenuhnya masuk dengan keyakinan kuat. Sebagian melakukan beli selektif, sementara sebagian lain masih memilih mengamankan posisi.
Baca Juga: Saham Big Caps Ambruk, IHSG Jatuh 2 Persen Lebih
LAJU Pimpin Top Gainers
Di tengah IHSG fluktuatif, sejumlah saham tetap mencatatkan kenaikan tajam.
Berdasarkan data BEI, PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU) menjadi salah satu top gainers dengan kenaikan 21,67 persen ke level Rp73.
Kemudian Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) naik 15,13 persen ke Rp685.
Saham Nusantara Voucher Tbk (DIVA) ikut menguat 14,71 persen ke Rp156.
Lalu Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk (CARS) naik 14,46 persen ke Rp95.
Sementara itu, MD Pictures Tbk (FILM) menguat 14,08 persen ke Rp2.350.
DFAM dan DAAZ Masuk Top Losers
Di sisi lain, tekanan besar juga muncul pada sejumlah saham.
PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) turun 15 persen ke Rp119. Saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) juga melemah 15 persen ke Rp1.445.
Kemudian PT Asia Pramulia Tbk (ASPR) turun 14,58 persen ke Rp246.
Saham Bhakti Multi Artha Tbk (BHAT) melemah 12,84 persen ke Rp950.
Sementara Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) turun 9,21 persen ke Rp276.
LQ45 Masih Campuran
Untuk jajaran saham unggulan LQ45, beberapa saham masih memberi dukungan.
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menguat 2,73 persen. Lalu PT Indosat Tbk (ISAT) naik 2,44 persen.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) juga menguat 1,97 persen.
Namun, tekanan juga datang dari saham LQ45 lain.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) turun 5,63 persen. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) melemah 5,41 persen. Sementara PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun 4,76 persen.
Investor Masih Tunggu Arah
Pergerakan IHSG fluktuatif di awal pekan menunjukkan pasar belum benar-benar lepas dari tekanan.
Meski sempat dibuka menguat, tekanan jual pada sejumlah saham membuat indeks kembali terbatas.
Investor diperkirakan masih mencermati banyak faktor.
Mulai dari arah nilai tukar rupiah, kebijakan suku bunga, arus modal asing, hingga pergerakan bursa regional.
Pada akhir bulan, pelaku pasar juga cenderung lebih selektif. Apalagi IHSG sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup dalam dalam beberapa pekan terakhir. (Sol)




