Saham Big Caps Ambruk, IHSG Jatuh 2 Persen Lebih

|

8 Views
Saham Big Caps Ambruk, IHSG Jatuh 2 Persen Lebih

FinanSaya.com – Saham big caps kembali menjadi sorotan tajam.

Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, IHSG sempat dibuka menguat. Namun, penguatan itu cepat hilang setelah tekanan jual menghantam saham-saham berkapitalisasi besar.

Biasanya, ketika saham big caps bergerak turun bersama-sama, IHSG sulit bertahan.

Indeks akhirnya berbalik arah dan turun lebih dari 2 persen ke area 6.186 pada perdagangan pagi. Padahal, pada awal perdagangan pukul 09.01 WIB, IHSG masih naik 47,98 poin atau 0,76 persen ke level 6.366.

Saham Big Caps Jadi Pemberat Utama IHSG

Tekanan terbesar datang dari sejumlah saham big caps.

Saham PT Ekamas Mora Republik Tbk atau MORA melemah 11,23 persen. Barito Renewables Energy Tbk atau BREN turun 9,68 persen. Bumi Resources Minerals Tbk atau BRMS melemah 9,09 persen.

Tekanan juga terlihat pada Barito Pacific Tbk atau BRPT yang turun 8,72 persen, serta Astra International Tbk atau ASII yang terkoreksi 4,61 persen.

Kondisi ini bukan sekadar penurunan saham biasa.

Saham-saham berkapitalisasi besar punya bobot kuat terhadap IHSG. Ketika beberapa saham jumbo rontok bersamaan, indeks bisa jatuh lebih cepat meski masih ada saham lain yang menguat.

Itulah yang terjadi pada perdagangan pagi tersebut.

IHSG Berbalik dari Hijau ke Merah

Berdasarkan data perdagangan di Google Finance, IHSG bergerak di rentang 6.378 hingga level terlemahnya di 6.177.

Hingga sekitar pukul 10.25 WIB, nilai transaksi pasar saham mencapai Rp5,57 triliun. Volume perdagangan tercatat 10,66 miliar saham dengan frekuensi 659 ribu kali transaksi.

Sebanyak 502 saham melemah, sementara 169 saham menguat dan 132 saham stagnan.

Rupiah Lemah Bikin Investor Makin Defensif

Sentimen negatif juga datang dari nilai tukar rupiah.

Pada pukul 10.00 WIB, rupiah melemah ke sekitar Rp17.669 per dolar AS. Posisi ini mendekati level terendah sepanjang sejarah dan langsung menjadi perhatian pelaku pasar.

Masalahnya, rupiah yang lemah dapat memukul banyak emiten besar.

Perusahaan yang memiliki bahan baku impor bisa menghadapi kenaikan biaya. Emiten dengan utang dolar bisa menanggung beban pembayaran lebih berat. Perusahaan yang bergantung pada energi atau komponen impor juga berisiko mengalami tekanan margin.

Akibatnya, investor menjadi lebih hati-hati.

Mereka cenderung melepas saham-saham besar yang likuid karena lebih mudah dijual saat pasar memburuk.

Kenapa Saham Big Caps Sering Dilepas Duluan?

Saat pasar tertekan, saham big caps sering menjadi pilihan pertama untuk dilepas.

Bukan karena semua bisnisnya buruk.

Namun karena saham besar biasanya lebih likuid. Investor institusi bisa menjual dalam jumlah besar tanpa harus menunggu pembeli terlalu lama.

Di sinilah saham big caps menjadi semacam pintu keluar saat risiko meningkat.

Jika investor asing atau institusi ingin mengurangi eksposur ke pasar Indonesia, mereka biasanya menjual saham-saham besar lebih dulu. Dampaknya langsung terasa ke IHSG.

Saham kecil mungkin ikut melemah, tetapi efeknya ke indeks tidak sebesar saham jumbo.

Baca Juga: Jelang IPO SpaceX, Elon Musk Diisukan Jadi ‘Tirani’

BI Rate Naik, Tekanan Belum Hilang

Sentimen lain datang dari keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada 20 Mei 2026.

Kebijakan ini ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global dan risiko inflasi.

Namun, pasar saham tetap bergerak defensif.

Kenaikan suku bunga memang bisa membantu menarik dana masuk ke aset rupiah. Namun bagi pasar saham, bunga yang lebih tinggi juga bisa menjadi tekanan.

Biaya pinjaman bisa naik. Ekspansi perusahaan bisa lebih mahal. Valuasi saham juga bisa ikut tertekan karena investor membandingkan imbal hasil saham dengan instrumen berbunga tetap.

Di sinilah pasar membaca dua sisi sekaligus.

Rupiah perlu diselamatkan, tetapi saham bisa menanggung efeknya.

Support IHSG Jadi Perhatian

Secara teknikal, IHSG berada dekat area penting.

Sebelumnya, analis teknikal MNC Sekuritas memperkirakan IHSG memiliki area support di 6.184 dan resistance di 6.388. Pada perdagangan pagi, IHSG sempat mendekati support tersebut.

Jika support gagal bertahan, tekanan jual berpotensi berlanjut.

Namun jika mampu bertahan, peluang rebound teknikal masih terbuka. Meski begitu, investor tetap perlu berhati-hati karena tekanan utama belum sepenuhnya hilang.

Rupiah masih lemah. Suku bunga naik. Saham big caps masih menjadi sasaran jual. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya