Menkeu Purbaya Minta Pemain Valas Cepat Jual Dolar

|

11 Views
Menkeu Purbaya Minta Pemain Valas Cepat Jual Dolar

FinanSaya.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memasang target besar untuk rupiah. Di tengah tekanan nilai tukar yang masih berat, Menkeu Purbaya menyatakan pemerintah akan mendorong rupiah kembali menguat ke arah Rp15.000 per dolar AS.

Pernyataan itu disampaikan dalam sesi tanya jawab Festival Finance yang digelar Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS di Jogja Expo Center, Bantul, Jumat, 21 Mei 2026.

Sebagaimana diketahui, mata uang Garuda belakangan tertekan hingga menembus kisaran lebih dari Rp17.700 per dolar AS. Kondisi tersebut membuat pasar, pelaku usaha, dan masyarakat mulai mempertanyakan seberapa kuat langkah pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

Chairul Tanjung Tanya Prospek Rupiah

Diskusi tersebut dipandu Chairman CT Corp, Chairul Tanjung.

Dalam sesi tanya jawab, Chairul menanyakan langsung prospek penguatan rupiah di tengah gejolak pasar global.

“Rupiah akan menguat sampai berapa?” tanya Chairul.

Menkeu Purbaya menjawab dengan gaya percaya diri. Ia mengatakan Bank Indonesia biasanya lebih hati-hati ketika berbicara soal nilai tukar. Namun, dirinya memilih menyampaikan target secara lebih terbuka.

“Kalau BI ditanya, mereka biasanya hati-hati. Kalau saya lebih suka-suka. Kalau saya bilang, pemain valas sebaiknya cepat-cepat jual dolar, karena kami akan dorong rupiah ke arah Rp15.000 per dolar AS,” ujar Purbaya.

Pemerintah Masuk Pasar Obligasi

Menkeu Purbaya menjelaskan, salah satu strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas rupiah adalah melalui pasar obligasi.

Pemerintah membeli obligasi di pasar sekunder agar yield atau imbal hasil surat utang negara tidak naik terlalu tinggi.

Langkah ini penting karena pasar obligasi sangat terkait dengan aliran modal asing. Jika yield bergerak terlalu liar, investor bisa membaca pasar Indonesia sebagai terlalu berisiko. Namun, jika yield stabil dan tetap menarik, investor asing punya alasan untuk tetap masuk.

“Kami juga membantu menjaga stabilitas nilai tukar dengan membeli obligasi di pasar sekunder agar yield tidak naik terlalu tinggi,” jelasnya.

Dengan kata lain, pemerintah mencoba menjaga dua hal sekaligus, yakni stabilitas pasar surat utang dan kepercayaan investor terhadap aset rupiah.

Menkeu Purbaya Klaim Investor Asing Mulai Masuk

Menurut Menkeu Purbaya, strategi tersebut mulai memberi hasil.

Ia menyebut investor asing kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia, baik di pasar sekunder maupun pasar primer.

“Investor asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia. Minggu ini kami juga menerbitkan global bond sekitar 3,4 miliar dolar AS dalam denominasi dolar dan euro. Minat investor sangat tinggi. Artinya investor asing masih percaya terhadap ekonomi Indonesia,” ungkapnya.

Jika investor asing masih membeli obligasi Indonesia, itu menunjukkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional belum hilang. Masuknya dana asing juga dapat membantu menambah permintaan terhadap rupiah dan menahan tekanan nilai tukar.

Namun, aliran modal asing tetap sensitif.

Jika sentimen global memburuk, dana bisa keluar kembali dengan cepat. Karena itu, stabilitas kebijakan menjadi faktor penting.

Baca Juga: Dana Luar Negeri Wajib Pajak Bakal Dikejar Pemerintah

Optimisme Dikritik Mahasiswa

Diskusi sempat memanas ketika seorang mahasiswa mempertanyakan optimisme pemerintah.

Pertanyaan itu muncul karena di lapangan rupiah masih lemah, IHSG tertekan, dan tekanan ekonomi masih dirasakan masyarakat.

Menkeu Purbaya menegaskan bahwa optimisme pemerintah bukan sekadar retorika.

Menurutnya, setiap langkah yang diambil pemerintah berbasis perhitungan ekonomi, data, dan teori yang dipelajari secara matang.

“Optimisme kami bukan sekadar optimisme kosong. Ini calculated move. Kami menghitung semua langkah berdasarkan data dan teori ekonomi yang sudah kami pelajari,” tegas Purbaya.

Di sinilah Purbaya berusaha membedakan antara optimisme politik dan optimisme teknokratis.

Ia ingin menyampaikan bahwa target penguatan rupiah bukan hanya ucapan untuk menenangkan pasar, tetapi bagian dari strategi kebijakan.

Rupiah dan IHSG Dipengaruhi Sentimen Global

Menkeu Purbaya mengakui rupiah dan IHSG memang sangat dipengaruhi sentimen pasar.

Ketika pasar global bergejolak, investor cenderung mencari aset aman. Dolar AS biasanya menguat, sementara mata uang negara berkembang seperti rupiah ikut tertekan.

Pasar saham juga bisa ikut terdampak.

Saat rupiah melemah, investor khawatir terhadap inflasi impor, biaya utang dolar, dan potensi kenaikan suku bunga. Akibatnya, saham-saham berisiko bisa dilepas lebih dulu.

Namun, Purbaya menegaskan fondasi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat dibandingkan periode krisis masa lalu.

“Rupiah dan IHSG memang dipengaruhi sentimen pasar, tetapi fondasi ekonomi Indonesia terus diperbaiki. Saya yakin Indonesia tidak akan mengulangi krisis 1998,” katanya. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya