FinanSaya.com – Perdagangan internasional tidak wajib selalu memakai dolar AS.
Namun dalam praktiknya, dolar AS menjadi mata uang paling dominan dalam transaksi global. Banyak negara menjual minyak, gas, gandum, logam, barang elektronik, hingga bahan baku industri dengan patokan dolar.
Namun, dunia butuh mata uang yang dipercaya banyak pihak.
Ketika Indonesia membeli minyak dari luar negeri, atau perusahaan Jepang membeli bahan baku dari Brasil, kedua pihak membutuhkan alat pembayaran yang mudah diterima, mudah ditukar, dan dianggap stabil.
Di sinilah dolar AS menjadi pilihan utama.
Dolar AS Jadi Bahasa Umum Perdagangan Internasional
Dalam perdagangan internasional, pembeli dan penjual sering berasal dari negara berbeda.
Mata uang mereka juga berbeda. Indonesia memakai rupiah. Jepang memakai yen. China memakai yuan. Eropa memakai euro. India memakai rupee.
Jika setiap negara memaksa memakai mata uang masing-masing, transaksi bisa menjadi rumit.
Perusahaan harus menghitung banyak kurs, menanggung risiko perubahan nilai tukar, dan mencari pihak yang mau menerima mata uang tertentu.
Dolar AS menyederhanakan proses itu.
Ia menjadi semacam bahasa umum dalam perdagangan global. Tidak semua negara menyukai dominasi dolar, tetapi banyak pelaku pasar tetap menggunakannya karena praktis dan diterima luas.
Karena Dolar Paling Likuid
Alasan besar pertama adalah likuiditas.
Likuid berarti mudah dibeli, mudah dijual, dan punya pasar besar. Semakin likuid sebuah mata uang, semakin mudah perusahaan menggunakannya untuk transaksi besar tanpa membuat harga bergerak terlalu ekstrem.
Bank for International Settlements mencatat dolar AS berada di salah satu sisi sekitar 89,2 persen transaksi pasar valuta asing global pada survei April 2025. Artinya, hampir semua aktivitas penukaran mata uang dunia masih sangat terhubung dengan dolar AS.
Kondisi ini membuat dolar AS dalam perdagangan internasional sulit digantikan.
Jika perusahaan butuh membayar pemasok luar negeri dalam jumlah besar, dolar biasanya lebih mudah diperoleh daripada mata uang negara kecil atau mata uang yang pasarnya tidak terlalu dalam.
Cadangan Devisa Dunia Banyak Berbentuk Dolar
Alasan kedua adalah cadangan devisa.
Bank sentral di banyak negara menyimpan cadangan devisa untuk menjaga stabilitas ekonomi, membayar kewajiban luar negeri, dan menghadapi krisis. Sebagian besar cadangan itu masih berbentuk dolar AS.
Federal Reserve mencatat dolar AS mencakup sekitar 58 persen cadangan devisa resmi global yang dilaporkan pada 2024, jauh di atas euro, yen, pound sterling, dan renminbi China.
IMF juga menunjukkan dolar AS masih menjadi mata uang cadangan terbesar dunia, meski pangsanya turun menjadi sekitar 56,77 persen pada kuartal IV 2025.
Di sinilah efeknya terasa.
Jika bank sentral dan lembaga keuangan dunia banyak memegang dolar, maka pelaku usaha juga lebih nyaman menggunakan dolar untuk perdagangan internasional.
Komoditas Dunia Banyak Dipatok Dolar
Banyak komoditas utama dunia diperdagangkan dengan dolar AS.
Minyak, gas, batu bara, emas, gandum, kedelai, dan berbagai komoditas lain sering memakai harga referensi dolar. Ini membuat negara importir harus menyiapkan dolar untuk membeli kebutuhan strategis.
Contohnya sederhana.
Jika Indonesia mengimpor minyak, harga globalnya biasanya dibaca dalam dolar AS. Ketika rupiah melemah terhadap dolar, biaya impor bisa naik meski harga minyak dunia tidak berubah terlalu besar.
Di sinilah nilai tukar menjadi penting.
Perdagangan internasional bukan hanya soal barang masuk dan keluar. Kurs juga menentukan seberapa mahal barang impor saat dihitung dalam mata uang lokal.
Kepercayaan pada Sistem Keuangan AS
Dolar AS kuat bukan hanya karena Amerika Serikat negara besar.
Dolar juga ditopang oleh pasar keuangan AS yang sangat dalam, terutama pasar obligasi pemerintah AS. Banyak investor global memandang aset dolar sebagai tempat menyimpan dana dalam jumlah besar karena pasarnya luas dan mudah diperdagangkan.
Federal Reserve menjelaskan bahwa peran perdagangan internasional dolar didukung oleh ukuran ekonomi AS, pasar keuangan yang dalam dan likuid, serta penggunaan dolar dalam perdagangan, pembiayaan, dan cadangan devisa global.
Masalahnya, kepercayaan adalah fondasi mata uang.
Selama banyak negara, bank, perusahaan, dan investor percaya dolar mudah diterima, dolar akan terus dipakai. Kepercayaan itu menciptakan lingkaran yang memperkuat dirinya sendiri.
Semakin banyak yang memakai dolar, semakin berguna dolar.
Semakin berguna dolar, semakin banyak pihak yang tetap memakainya.
Baca Juga: Dolar AS Makin Kuat, Rupiah Terseret ke Level Terburuk
Kenapa Tidak Pakai Mata Uang Lokal Saja?
Sebenarnya bisa.
Beberapa negara dalam perdagangan internasional mulai mendorong transaksi memakai mata uang lokal. Indonesia juga punya kerja sama local currency transaction dengan beberapa mitra dagang.
Namun, penggunaan mata uang lokal belum selalu mudah.
Pertama, tidak semua mata uang punya pasar yang besar. Kedua, tidak semua eksportir mau menerima mata uang yang sulit ditukar. Ketiga, risiko kurs bisa lebih tinggi jika mata uang tersebut kurang likuid.
Misalnya, perusahaan Indonesia ingin membeli mesin dari Eropa memakai rupiah.
Penjual di Eropa belum tentu mau menerima rupiah karena mereka harus menukar lagi ke euro atau dolar. Jika pasar rupiah di luar negeri tidak cukup besar, biaya transaksi bisa lebih mahal.
Akhirnya, dolar tetap dipilih karena lebih praktis.
Dominasi Dolar dalam Perdagangan Internasional Punya Risiko
Namun, ketergantungan pada dolar juga membawa risiko.
Jika dolar menguat, negara berkembang bisa tertekan. Impor menjadi lebih mahal. Utang luar negeri dalam dolar terasa lebih berat. Perusahaan yang punya kewajiban dolar bisa menghadapi kenaikan beban pembayaran.
Kondisi ini sering terasa di negara seperti Indonesia.
Saat rupiah melemah, harga barang impor bisa naik. Bahan baku industri menjadi lebih mahal. Jika biaya produksi naik, harga barang di dalam negeri juga bisa ikut terdorong.
Di sinilah dolar bisa menjadi masalah bagi ekonomi domestik.
Bukan karena dolar jahat, tetapi karena ketergantungan terlalu besar membuat negara rentan terhadap perubahan perdagangan internasional.
Apakah Dolar Bisa Digantikan?
Secara teori, bisa.
Namun dalam praktiknya, sangat sulit. Mata uang pengganti harus punya pasar besar, ekonomi kuat, sistem hukum dipercaya, likuiditas tinggi, serta diterima banyak negara.
Euro punya pasar besar, tetapi belum sedominan dolar. Yuan China makin sering dibahas, tetapi kontrol modal dan sistem keuangannya masih menjadi perhatian banyak investor global. Mata uang negara lain juga belum cukup besar untuk menggantikan dolar dalam skala dunia.
Karena itu, perubahan dominasi dolar kemungkinan berjalan lambat.
Dunia bisa mengurangi ketergantungan secara bertahap, tetapi mengganti dolar sepenuhnya bukan perkara mudah.
Dolar Dipakai karena Praktis dan Dipercaya
Perdagangan internasional memakai dolar AS bukan karena semua negara tunduk begitu saja.
Dolar dipakai karena likuid, diterima luas, banyak tersedia di cadangan devisa, menjadi patokan komoditas, dan didukung pasar keuangan besar.
Namun, ketergantungan ini juga membuat negara seperti Indonesia perlu hati-hati.
Semakin besar kebutuhan dolar untuk impor, utang, dan transaksi global, semakin penting menjaga cadangan devisa, ekspor, serta stabilitas rupiah.
Untuk saat ini, dolar AS masih menjadi pusat perdagangan dunia. Bukan karena tidak ada kritik, tetapi karena belum ada pengganti yang benar-benar mampu menyamai kombinasi kepercayaan, likuiditas, dan jaringan globalnya. (Sol)




