FinanSaya.com – Perusahaan milik Michael Saylor, Strategy, kembali membuat pasar kripto ramai setelah membeli Bitcoin dalam jumlah besar lagi.
Pada Senin, 27 April 2026, Strategy mengumumkan pembelian tambahan senilai sekitar US$255 juta atau setara lebih dari Rp4,1 triliun.
Langkah ini menjadi aksi akumulasi Bitcoin keempat berturut-turut yang dilakukan perusahaan sepanjang bulan ini.
Melalui unggahan di platform X, Michael Saylor mengatakan perusahaannya membeli tambahan 3.273 BTC dengan harga rata-rata sekitar US$77.906 per Bitcoin.
Setelah pembelian terbaru tersebut, total kepemilikan Bitcoin milik Strategy kini mencapai sekitar 818.334 BTC.
Secara keseluruhan, akumulasi Bitcoin perusahaan itu diperoleh dengan total biaya sekitar US$61,81 miliar dan average buy price di kisaran US$75.537 per BTC.
Meski nilainya sangat besar, pembelian kali ini sebenarnya masih lebih kecil dibanding aksi minggu lalu yang mencapai sekitar US$2,54 miliar.
Strategy Masih Unggul dari BlackRock
Kepemilikan Bitcoin milik Strategy sekarang juga masih sedikit lebih besar dibanding BlackRock lewat ETF IBIT mereka.
Data on-chain menunjukkan BlackRock saat ini memegang sekitar 812.276 BTC.
Persaingan dua raksasa tersebut kini menjadi perhatian besar market karena keduanya terus menambah eksposur Bitcoin dalam jumlah sangat besar.
Tak lama setelah pengumuman pembelian diumumkan, saham MSTR milik Strategy langsung bergerak naik sekitar 0,55 persen pada sesi pre-market menjadi US$171,96.
Sebelumnya, Michael Saylor juga sempat memberi kode lewat postingan chart “Orange Dots” yang cukup terkenal di komunitas Bitcoin.
Banyak investor menganggap chart tersebut sebagai sinyal bahwa Strategy akan kembali membeli BTC.
Harga Bitcoin Masih Bertahan di Area US$77 Ribu
Di tengah aksi borong terbaru ini, harga Bitcoin masih relatif stabil di sekitar US$77.700.
Meski sempat turun tipis sekitar 0,28 persen, banyak analis masih melihat peluang kenaikan besar pada siklus market berikutnya.
Analis kripto Michaël van de Poppe mengatakan kondisi market saat ini mirip dengan fase akumulasi besar pada siklus-siklus sebelumnya.
Ia mencatat setelah bear market 2018, Bitcoin sempat naik sekitar 400 persen dalam dua tahun.
Sementara setelah 2020, kenaikannya bahkan pernah menembus lebih dari 1.300 persen. (Sol)




