FinanSaya.com – Keputusan investasi sering dianggap sebagai persoalan angka. Investor membaca laporan keuangan, melihat grafik harga, menghitung potensi keuntungan, lalu menentukan apakah sebuah aset layak dibeli atau dijual. Namun, keputusan tersebut tidak pernah sepenuhnya terlepas dari kesalahan otak manusia.
Investor dapat memiliki data yang sama, tetapi mengambil keputusan berbeda karena cara mereka menafsirkan informasi, menghadapi kerugian, memandang harga, hingga merespons keramaian pasar.
Dalam bidang behavioral finance, faktor psikologis dipelajari untuk memahami mengapa manusia tidak selalu membuat keputusan keuangan secara rasional. Otak sering memakai jalan pintas mental atau heuristics ketika menghadapi ketidakpastian. Jalan pintas ini membantu manusia mengambil keputusan cepat, tetapi kadang menghasilkan kesalahan yang berulang.
Dalam artikel ini, istilah kesalahan otak digunakan sebagai istilah populer untuk menjelaskan bias kognitif dan bias psikologis dalam investasi. Ini bukan berarti otak seseorang rusak, melainkan cara berpikir manusia memang bisa menghasilkan penilaian yang keliru dalam situasi tertentu.
1. Terlalu Percaya Diri terhadap Kemampuan Sendiri
Kesalahan otak pertama adalah terlalu percaya diri terhadap kemampuan sendiri.
Keuntungan dari beberapa transaksi dapat membuat investor merasa lebih pintar daripada pasar. Setelah beberapa kali benar, ia mulai percaya bahwa analisanya selalu tajam, instingnya kuat, dan pilihannya lebih unggul daripada investor lain.
Fenomena ini berkaitan dengan overconfidence bias, yaitu kecenderungan seseorang menilai kemampuan, pengetahuan, atau ketepatan prediksinya terlalu tinggi.
Terrance Odean dalam penelitian Volume, Volatility, Price, and Profit When All Traders Are Above Average yang diterbitkan di The Journal of Finance membahas bagaimana overconfidence dapat meningkatkan aktivitas perdagangan di pasar.
Dalam praktiknya, investor yang terlalu percaya diri bisa melakukan transaksi terlalu sering, mengambil posisi terlalu besar, atau mengabaikan kemungkinan bahwa analisisnya salah.
Masalahnya, keberhasilan investasi tidak selalu berasal dari kemampuan. Keberuntungan, kondisi pasar yang sedang naik, sentimen positif, atau momentum sektor tertentu juga dapat berperan.
Cara menguranginya adalah menulis alasan sebelum membeli aset. Catat mengapa aset itu dibeli, risiko apa yang mungkin terjadi, dan kondisi apa yang membuat keputusan awal harus dievaluasi ulang.
2. Merasa Kerugian Lebih Berat daripada Keuntungan
Kesalahn otak kedua, coba bayangkan sebuah investasi memberi keuntungan Rp1 juta. Lalu investasi lain menghasilkan kerugian Rp1 juta.
Secara nominal, nilainya sama. Namun, secara psikologis, dampaknya belum tentu terasa sama. Kerugian sering terasa lebih menyakitkan dibandingkan rasa senang dari keuntungan dengan nilai yang setara.
Fenomena ini dikenal sebagai loss aversion.
Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam penelitian Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk menunjukkan bahwa manusia menilai keuntungan dan kerugian secara tidak simetris. Kerugian cenderung memiliki bobot psikologis lebih besar dibandingkan keuntungan.
Dalam investasi, loss aversion dapat membuat investor mengambil keputusan yang tidak sesuai strategi. Ada yang terlalu takut masuk pasar karena membayangkan kerugian. Ada pula yang mempertahankan aset merugi terlalu lama karena tidak ingin mengakui bahwa keputusan sebelumnya salah.
Misalnya, saham turun jauh dan kondisi bisnisnya memburuk. Investor tetap menahan aset tersebut karena merasa rugi baru “nyata” jika dijual. Padahal, dari sisi ekonomi, nilai portofolionya sudah turun.
Kesalahan otak seperti ini membuat seseorang lebih fokus menghindari rasa sakit daripada mengevaluasi keputusan secara objektif.
3. Terjebak pada Angka Pertama yang Dilihat
Kesalahan otak ketika, contohnya harga saham pernah mencapai Rp5.000, lalu turun menjadi Rp3.000. Investor kemudian menganggap saham tersebut murah hanya karena harganya jauh di bawah puncak sebelumnya.
Padahal, harga tertinggi masa lalu belum tentu menunjukkan nilai wajarnya. Bisa saja harga Rp5.000 dulu terlalu mahal. Bisa juga kondisi bisnis sudah berubah, laba turun, utang naik, atau prospek industri memburuk.
Kesalahan otak ini berkaitan dengan anchoring bias. Otak terlalu terpaku pada angka awal, lalu menggunakan angka tersebut sebagai jangkar dalam menilai keputusan berikutnya.
Amos Tversky dan Daniel Kahneman dalam penelitian Judgment under Uncertainty: Heuristics and Biases menjelaskan bagaimana manusia dapat menggunakan nilai awal sebagai titik acuan ketika membuat estimasi dalam situasi tidak pasti.
Dalam investasi, jangkar bisa berupa harga beli, harga tertinggi sepanjang masa, target harga analis, harga IPO, atau valuasi lama.
Masalahnya, pasar terus berubah. Harga masa lalu tidak otomatis menjadi bukti bahwa harga sekarang murah. Investor perlu melihat kondisi terbaru: pendapatan, laba, arus kas, utang, kualitas bisnis, valuasi, dan risiko.
4. Hanya Mencari Informasi yang Mendukung Keyakinan
Kesalahan otak keempat, biasanya setelah membeli sebuah aset, investor tentu ingin harganya naik. Masalah muncul ketika keinginan itu memengaruhi informasi yang ingin dibaca.
Investor bisa lebih tertarik pada analisis yang mendukung pilihannya. Ia mengikuti orang yang sependapat, membaca komentar positif, dan menyimpan data yang menguatkan keyakinannya. Sebaliknya, informasi negatif dianggap tidak penting, dilebih-lebihkan, atau berasal dari orang yang tidak paham.
Fenomena ini disebut confirmation bias.
Raymond Nickerson dalam penelitian Confirmation Bias: A Ubiquitous Phenomenon in Many Guises menjelaskan confirmation bias sebagai kecenderungan mencari atau menafsirkan bukti dengan cara yang mendukung keyakinan, ekspektasi, atau hipotesis yang telah dimiliki sebelumnya.
Baca Juga: 7 Bias Psikologis dalam Investasi yang Perlu Diwaspadai
Dalam investasi, confirmation bias dapat membuat seseorang merasa sudah melakukan riset mendalam, padahal informasi yang dikumpulkannya tidak seimbang.
Contohnya, investor percaya sebuah aset kripto akan naik besar. Ia hanya membaca thread yang optimistis, menonton pembahasan dari komunitas pendukung, dan mengabaikan risiko tokenomics, likuiditas, regulasi, atau keamanan proyek.
Cara menguranginya adalah sengaja mencari argumen yang berlawanan. Sebelum membeli, tanyakan: “Apa alasan terbaik untuk tidak membeli aset ini?” dan “Data apa yang bisa membuktikan tesis saya salah?”
5. Menganggap Peristiwa Terbaru Akan Terus Berlanjut
Ketika pasar saham naik selama berbulan-bulan, mudah membayangkan kenaikan akan terus berlangsung. Sebaliknya, ketika harga turun tajam, investor dapat merasa pasar tidak akan pernah pulih. Ini adalah kesalahan otak kelima.
Otak manusia cenderung memberi perhatian besar pada informasi yang baru terjadi atau mudah diingat. Ini berkaitan dengan availability heuristic dan recency bias.
Tversky dan Kahneman dalam penelitian tentang heuristics and biases menjelaskan bahwa manusia sering menilai kemungkinan suatu kejadian berdasarkan seberapa mudah contoh atau skenario tertentu muncul dalam pikiran.
Dalam investasi, peristiwa terbaru bisa mendapat bobot terlalu besar. Investor yang baru melihat pasar naik dapat menjadi terlalu optimistis. Investor yang baru mengalami penurunan tajam bisa menjadi terlalu takut.
Padahal, pasar bergerak dalam siklus. Kondisi terbaru penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya dasar keputusan.
Cara mengurangi kesalahan otak ini adalah melihat data dalam periode lebih panjang. Jangan hanya melihat satu minggu, satu bulan, atau satu kuartal. Periksa juga sejarah kinerja, siklus industri, valuasi, kondisi ekonomi, dan beberapa skenario yang mungkin terjadi.
6. Mengikuti Kerumunan karena Takut Salah Sendiri
Jika ribuan orang membeli sebuah aset, keputusan itu dapat terlihat lebih meyakinkan. Pada kesalahan otak ini, Investor kemudian berpikir bahwa sebanyak itu orang tidak mungkin salah secara bersamaan.
Padahal, orang-orang tersebut mungkin membeli karena melihat orang lain melakukan hal yang sama.
Fenomena ini berkaitan dengan herd mentality dan informational cascade. Sushil Bikhchandani, David Hirshleifer, dan Ivo Welch dalam penelitian A Theory of Fads, Fashion, Custom, and Cultural Change as Informational Cascades menjelaskan bahwa seseorang dapat mengikuti tindakan orang sebelumnya meskipun keputusan tersebut berbeda dari informasi pribadinya sendiri.
Dalam pasar keuangan, hal ini terlihat ketika sebuah saham, aset kripto, atau sektor tertentu tiba-tiba populer. Banyak orang membeli karena takut tertinggal. Harga naik karena banyak yang membeli. Kenaikan harga kemudian dianggap sebagai bukti bahwa kerumunan benar.
Masalahnya, jumlah orang yang membeli bukan bukti bahwa aset tersebut murah, aman, atau sesuai dengan profil risiko.
Kerumunan kadang benar. Namun, dalam kasus kesalahan otak ini, membeli hanya karena kerumunan berarti menyerahkan keputusan investasi kepada orang lain tanpa memahami alasannya.
7. Menjual yang Untung, Mempertahankan yang Rugi
Kesalahan otak terakhir, contohnya investor membeli dua saham. Saham pertama naik 20 persen, sedangkan saham kedua turun 20 persen.
Investor kemudian buru-buru menjual saham yang untung karena takut keuntungan hilang. Namun, saham yang rugi justru dipertahankan sambil berharap suatu hari kembali ke harga beli.
Kesalahan otak ini dikenal sebagai disposition effect.
Hersh Shefrin dan Meir Statman dalam penelitian The Disposition to Sell Winners Too Early and Ride Losers Too Long membahas kecenderungan investor menjual aset yang sudah untung terlalu cepat dan mempertahankan aset yang merugi terlalu lama.
Kesalahan otak ini sering muncul karena investor ingin merasakan kemenangan dan menunda rasa sakit dari kerugian.
Padahal, harga beli adalah bagian dari masa lalu. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah aset tersebut masih layak dimiliki berdasarkan informasi hari ini.
Jika aset yang naik masih memiliki prospek baik dan valuasi wajar, menjual terlalu cepat bisa membuat investor kehilangan potensi pertumbuhan. Sebaliknya, jika aset yang turun mengalami penurunan fundamental, menahannya hanya karena tidak mau rugi bisa memperbesar kerugian. (Sol)




