3 Ciri Umum OKB yang Bikin Teman Menjauh

|

5 Views
3 Ciri Umum OKB yang Bikin Teman Menjauh

FinanSaya.com – Istilah orang kaya baru atau OKB biasanya digunakan untuk menyebut seseorang yang baru mengalami peningkatan kondisi ekonomi secara signifikan. Perubahan tersebut bisa terjadi setelah bisnis berkembang, memperoleh pekerjaan dengan penghasilan tinggi, mendapatkan keuntungan investasi, menerima warisan, atau mengalami lonjakan pendapatan dalam waktu relatif singkat. Di artikel ini, kita akan membahas 3 ciri umum OKB yang bikin teman menjauh.

Menjadi kaya tentu bukan sesuatu yang buruk. Peningkatan kondisi ekonomi dapat memberikan keamanan finansial, memperluas kesempatan, dan membuat seseorang lebih leluasa menentukan pilihan hidup.

Masalahnya, perubahan status ekonomi terkadang ikut mengubah cara seseorang memandang dirinya, barang yang dimiliki, dan orang-orang di sekitarnya. Pada titik tertentu, perubahan perilaku itu bisa membuat teman lama merasa tidak nyaman.

Karena itu, pembahasan tentang 3 ciri umum OKB ini tidak dimaksudkan untuk menyerang orang yang baru sukses secara finansial. OKB juga bukan diagnosis psikologis atau kategori ilmiah. Tidak semua orang yang mendadak kaya akan menjadi sombong, pamer, atau merendahkan orang lain.

Namun, sejumlah penelitian tentang konsumsi status, materialisme, narsisme, dan hubungan interpersonal menunjukkan bahwa cara seseorang memperlakukan uang dan status dapat memengaruhi kualitas hubungan sosialnya.

1. Semua Hal Harus Menunjukkan Status dan Kekayaan

Dari 3 ciri umum OKB tersebut, yang pertama yakni kebutuhan untuk terus memperlihatkan peningkatan status ekonomi.

Barang yang dibeli tidak lagi hanya dinilai dari fungsi. Merek pakaian, kendaraan, jam tangan, restoran, destinasi liburan, hingga tempat nongkrong berubah menjadi alat untuk menunjukkan posisi sosial.

Dalam ilmu perilaku konsumen, fenomena ini berkaitan dengan conspicuous consumption atau konsumsi mencolok. Artinya, seseorang menggunakan barang tertentu bukan hanya karena manfaatnya, tetapi juga karena barang tersebut dapat mengirimkan sinyal kekayaan dan status kepada orang lain.

Young Jee Han, Joseph C. Nunes, dan Xavier Drèze dalam penelitian berjudul Signaling Status with Luxury Goods: The Role of Brand Prominence yang diterbitkan di Journal of Marketing menjelaskan bahwa keterlihatan merek pada produk mewah dapat berhubungan dengan kebutuhan konsumen untuk memberi sinyal status.

Penelitian Rob Nelissen dan Marijn Meijers berjudul Social Benefits of Luxury Brands as Costly Signals of Wealth and Status juga menunjukkan bahwa penggunaan produk mewah dapat memengaruhi persepsi orang lain terhadap status dan kekayaan pemakainya.

Artinya, sinyal kemewahan memang bisa memberikan keuntungan sosial tertentu dalam 3 ciri umum OKB. Orang bisa terlihat lebih sukses, lebih mapan, atau lebih berpengaruh.

Masalah muncul ketika hampir setiap percakapan berubah menjadi ajang menunjukkan harga. Baru membeli mobil, harganya disebutkan. Membeli sepatu, mereknya harus diketahui. Pergi makan, restoran mahalnya harus diperlihatkan. Liburan pun tidak lengkap jika kelas penerbangan dan harga hotel tidak ikut dibicarakan.

Teman biasanya tidak bermasalah dengan kesuksesan seseorang. Yang membuat lelah adalah ketika setiap pertemuan terasa seperti kompetisi status.

Apalagi jika pamer kekayaan disertai kebiasaan membandingkan. Kalimat seperti, “Masa masih pakai itu?”, “Mobilmu belum ganti?”, atau “Kalau saya sih tidak mau menginap di hotel murah,” dapat mengubah obrolan biasa menjadi penghinaan terselubung.

Pada titik tersebut, yang membuat seseorang dijauhi bukan kekayaannya, melainkan kebutuhan terus-menerus untuk memastikan orang lain tahu bahwa dirinya lebih kaya.

2. Merasa Lebih Hebat dan Mulai Merendahkan Teman

Ciri kedua dalam 3 ciri umum OKB adalah munculnya rasa superioritas.

Kesuksesan finansial kemudian dianggap sebagai bukti bahwa dirinya lebih pintar, lebih rajin, lebih bekerja keras, atau lebih bernilai dibanding orang yang penghasilannya lebih rendah.

Dalam 3 ciri umum OKB satu ini, tidak jarang seseorang mulai memberi komentar seperti, “Kalau mau kaya sebenarnya gampang,” seolah semua orang memiliki modal, kesempatan, pendidikan, jaringan, tanggungan, kondisi keluarga, dan keberuntungan yang sama.

Padahal, perjalanan ekonomi seseorang tidak pernah berdiri di ruang kosong. Ada faktor kerja keras, tetapi ada juga faktor kesempatan, lingkungan, akses, timing, kondisi kesehatan, warisan sosial, dan keberuntungan.

Perilaku merasa lebih tinggi dari 3 ciri umum OKB ini memiliki kemiripan dengan aspek tertentu dalam penelitian mengenai narsisme, terutama kebutuhan mempertahankan gambaran diri yang superior.

Mitja Back dan sejumlah peneliti dalam studi Narcissistic Admiration and Rivalry: Disentangling the Bright and Dark Sides of Narcissism membedakan narsisme menjadi dua jalur, yaitu narcissistic admiration dan narcissistic rivalry.

Admiration berkaitan dengan usaha memperoleh kekaguman melalui kepercayaan diri dan promosi diri. Sementara rivalry lebih berkaitan dengan usaha mempertahankan superioritas dengan merendahkan atau mendiskreditkan orang lain.

Perbedaannya penting. Orang yang percaya diri karena berhasil membangun bisnis belum tentu membuat teman menjauh. Kepercayaan diri, prestasi, dan kemampuan berbagi pengalaman justru bisa membuat seseorang menarik.

Namun, situasi berubah ketika seseorang membutuhkan orang lain berada “di bawah” agar dirinya merasa berada “di atas”.

Teman lama mulai dianggap tidak selevel. Pekerjaan orang lain diremehkan. Penghasilan menjadi ukuran keberhasilan hidup. Setiap cerita orang lain selalu dibalas dengan pencapaian yang lebih besar.

Dari 3 ciri umum OKB, ciri kedua ini biasanya teman bercerita baru berhasil menabung untuk dana darurat. Alih-alih ikut senang, ia menjawab, “Itu mah kecil, saya sekali belanja juga segitu.” Teman bercerita sedang berusaha mencicil motor, ia membalas, “Kenapa tidak langsung beli mobil saja?”

Komentar seperti itu mungkin dianggap bercanda oleh yang mengucapkan. Namun, bagi yang mendengar, lama-lama terasa seperti direndahkan.

Orang lain mungkin mengagumi keberhasilan finansial seseorang, tetapi kekaguman tidak selalu berarti kenyamanan. Pertemanan membutuhkan rasa setara secara emosional, bukan selalu setara secara ekonomi.

Baca Juga: Ingin Bebas Finansial, Tapi Menertawakan Disiplin

3. Pertemanan Mulai Dinilai Berdasarkan Manfaat dan Kelas Sosial

Ciri ketiga dari 3 ciri umum OKB adalah perubahan cara memandang hubungan sosial.

Teman tidak lagi dilihat terutama berdasarkan kedekatan, kecocokan, kenangan, atau rasa saling percaya. Sebaliknya, hubungan mulai dihitung dari manfaat: orang ini punya jaringan apa, posisinya apa, penghasilannya berapa, bisa membantu bisnis atau tidak, dan layak dibawa ke lingkungan baru atau tidak.

Dalam batas wajar, membangun jaringan profesional tentu normal. Hampir semua orang mempertimbangkan manfaat dalam hubungan kerja dan bisnis.

Namun, persahabatan berbeda. Jika setiap hubungan dihitung seperti investasi, orang di sekitar dapat merasa hanya dihargai ketika sedang berguna.

Kathleen Vohs, Nicole Mead, dan Miranda Goode dalam penelitian The Psychological Consequences of Money yang diterbitkan di Science menemukan bahwa paparan terhadap konsep uang dapat meningkatkan orientasi self-sufficiency. Dalam eksperimen tersebut, peserta yang diingatkan tentang uang cenderung lebih sedikit meminta bantuan, lebih sedikit membantu orang lain, memilih aktivitas individual, dan menjaga jarak sosial lebih besar.

Temuan ini tidak berarti orang kaya otomatis antisosial. Penelitian tersebut menguji efek psikologis dari aktivasi konsep uang dalam situasi eksperimen. Namun, hasilnya memberi gambaran bahwa ketika uang terlalu menjadi pusat perhatian, cara seseorang berhubungan dengan orang lain dapat ikut berubah.

Materialisme juga memiliki hubungan dengan kesepian. Rik Pieters dalam penelitian Bidirectional Dynamics of Materialism and Loneliness yang diterbitkan di Journal of Consumer Research menemukan hubungan dua arah antara materialisme dan kesepian. Menjadikan kepemilikan sebagai ukuran keberhasilan atau sumber utama kebahagiaan berkaitan dengan meningkatnya kesepian dari waktu ke waktu.

Dalam kehidupan sehari-hari, ciri ini bisa terlihat ketika seseorang hanya menghubungi teman lama saat butuh bantuan, ingin meminjam koneksi, atau mencari dukungan untuk bisnis. Sebaliknya, ketika teman sedang membutuhkan perhatian, ia merasa tidak punya waktu.

Lama-lama, teman akan sadar bahwa hubungan tersebut tidak lagi terasa seperti persahabatan. Saat bertemu teman yang memiliki 3 ciri umum OKB, maka suasana terasa seperti transaksi.

Bukan Kekayaan yang Membuat Teman Pergi

Pada akhirnya, memiliki uang lebih banyak bukan alasan seseorang harus kehilangan teman.

Orang dapat menjadi sangat kaya tanpa perlu merendahkan siapa pun. Mereka juga dapat membeli barang mewah, menikmati restoran mahal, atau bepergian ke berbagai negara tanpa menjadikan semua itu sebagai alat untuk mengukur nilai manusia.

Masalah biasanya muncul ketika uang mengubah dinamika hubungan saat seseorang mulai memiliki 3 ciri umum OKB.

Teman lama mulai dianggap tidak sekelas. Obrolan berubah menjadi pamer pencapaian. Harga barang menjadi ukuran harga diri. Orang hanya didekati ketika memiliki manfaat. Nasihat diberikan dengan nada meremehkan. Keberhasilan orang lain sulit dihargai karena selalu dibandingkan dengan pencapaian sendiri.

Karena itu, 3 ciri umum OKB yang membuat seseorang dijauhi sebenarnya tidak terletak pada jumlah uang di rekening. 3 ciri umum OKB tersebut terletak pada perilaku yang muncul setelah status finansial berubah: kebutuhan berlebihan menunjukkan kekayaan, merasa lebih superior daripada orang lain, dan memperlakukan hubungan sosial secara transaksional. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya