Uang Beredar Melambat Jadi 8,7 Persen, Menurut Data BI

|

4 Views
Uang Beredar Melambat Jadi 8,7 Persen, Menurut Data BI

FinanSaya.com – Bank Indonesia mencatat pertumbuhan uang beredar dalam arti luas atau M2 melambat pada Juni 2026. Posisi M2 tetap naik secara nominal, tetapi laju pertumbuhannya turun dibandingkan bulan sebelumnya.

Pada Juni 2026, M2 tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun. Nilai tersebut meningkat Rp16,3 triliun dibandingkan posisi Mei 2026 yang mencapai Rp10.416,5 triliun.

Meski naik secara nominal, pertumbuhan uang beredar melambat menjadi 8,7 persen secara tahunan. Pada Mei 2026, pertumbuhan M2 masih mencapai 10,8 persen.

BI menyatakan perkembangan M2 pada Juni terutama dipengaruhi penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada pemerintah pusat. Namun, data menunjukkan dorongan dari sisi tagihan kepada pemerintah pusat melemah tajam dibandingkan bulan sebelumnya.

Uang Beredar Melambat Meski Kredit Menguat

Perlambatan uang beredar terjadi saat penyaluran kredit justru tumbuh lebih tinggi. Kredit naik 12,1 persen secara tahunan pada Juni 2026.

Pertumbuhan itu lebih kuat dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 10,8 persen. Artinya, kredit masih menjadi faktor pendorong likuiditas, tetapi penguatannya belum cukup menahan perlambatan M2 secara keseluruhan.

Pergerakan yang berlawanan ini menunjukkan bahwa komponen lain ikut menekan laju pertumbuhan M2. Salah satu yang menonjol adalah perlambatan pertumbuhan tagihan bersih sistem moneter kepada pemerintah pusat.

Pada Juni 2026, pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat 10,1 persen secara tahunan. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 37,4 persen.

Dengan begitu, laju pertumbuhannya turun 27,3 poin persentase dalam satu bulan.

Tagihan ke Pemerintah Kehilangan Momentum

Penurunan 27,3 poin persentase bukan berarti nilai tagihan bersih kepada pemerintah pusat turun sebesar 27,3 persen. Angka tersebut menunjukkan perlambatan tingkat pertumbuhan dari Mei ke Juni 2026.

Perbedaan ini penting karena indikator tersebut masih tumbuh positif secara tahunan. Namun, kecepatannya jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan dorongan sektor pemerintah terhadap perkembangan uang beredar tidak sekuat pada Mei 2026. Pada bulan sebelumnya, pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat sangat tinggi sehingga memberi dorongan lebih besar terhadap M2.

BI belum menjelaskan secara terperinci faktor yang membuat pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat melambat. Data yang tersedia baru menunjukkan perubahan laju pertumbuhan dan dampaknya terhadap dinamika M2.

Aktiva Luar Negeri Bersih Berkontraksi

Selain tagihan kepada pemerintah pusat, komponen eksternal juga menunjukkan pelemahan. Aktiva luar negeri bersih mengalami kontraksi 3,2 persen secara tahunan pada Juni 2026.

Pada Mei 2026, aktiva luar negeri bersih masih tumbuh positif 5,2 persen. Perubahan dari pertumbuhan positif menjadi kontraksi menunjukkan tekanan dari sisi eksternal ikut memengaruhi perkembangan likuiditas.

Dengan kondisi itu, perlambatan M2 tidak hanya terjadi karena melemahnya dorongan dari pemerintah. Komponen luar negeri juga bergerak lebih lemah dibandingkan bulan sebelumnya.

Secara keseluruhan, data Juni memperlihatkan uang beredar tetap bertambah, tetapi pertumbuhannya tidak secepat Mei 2026.

Baca Juga: Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Kemungkinan Tumbuh 5 Persen

M1 Melambat Lebih Dalam

Dari sisi komponen, uang beredar dalam arti sempit atau M1 berada pada posisi Rp5.937,5 triliun pada Juni 2026. Pertumbuhan M1 melambat menjadi 9,8 persen secara tahunan.

Pada Mei 2026, M1 masih tumbuh 15,3 persen. Dengan demikian, perlambatan M1 cukup tajam dalam satu bulan.

M1 mencakup uang kartal yang dipegang masyarakat dan giro rupiah. Komponen ini juga mencakup uang elektronik serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu.

Karena sifatnya sangat likuid, M1 menggambarkan dana yang relatif mudah digunakan untuk transaksi. Perlambatan M1 dapat menunjukkan pertumbuhan dana siap pakai tidak secepat bulan sebelumnya.

Namun, bahan yang tersedia tidak menjelaskan lebih jauh penyebab perlambatan M1. Karena itu, artikel ini hanya membaca perubahan berdasarkan data BI.

Uang Kuasi Justru Tumbuh Lebih Cepat

Berbeda dari M1, uang kuasi justru tumbuh lebih cepat pada Juni 2026. Posisi uang kuasi tercatat sebesar Rp4.409,3 triliun.

Pertumbuhannya mencapai 6,9 persen secara tahunan, naik dari 6,0 persen pada Mei 2026. Uang kuasi meliputi simpanan berjangka, tabungan lainnya dalam rupiah maupun valuta asing, serta simpanan giro valuta asing.

Kenaikan pertumbuhan uang kuasi menunjukkan simpanan yang tidak secepat M1 untuk dipakai transaksi masih meningkat. Namun, penguatan tersebut belum mampu mengimbangi perlambatan M1 dan pelemahan faktor pembentuk M2 lainnya.

Sepanjang semester I 2026, pertumbuhan M2 bergerak fluktuatif. Lajunya tercatat 10,0 persen pada Januari, 8,7 persen pada Februari, 9,7 persen pada Maret, 9,2 persen pada April, 10,8 persen pada Mei, dan kembali ke 8,7 persen pada Juni.

Pada Juni 2026, uang beredar dalam arti luas mencapai Rp10.432,8 triliun, M1 sebesar Rp5.937,5 triliun, uang kuasi Rp4.409,3 triliun, dan pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat melambat dari 37,4 persen menjadi 10,1 persen. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya