FinanSaya.com – Surabaya Great Expo 2026 ditargetkan membukukan transaksi Rp7 miliar selama penyelenggaraan di Exhibition Hall Grand City pada 5-9 Agustus 2026.
Ajang yang digelar Pemerintah Kota Surabaya itu diikuti 106 peserta dengan total 142 stan. Peserta berasal dari perangkat daerah, BUMD, BUMN, pelaku UMKM, koperasi, perusahaan swasta, asosiasi usaha, hingga pelaku usaha dari berbagai daerah di Indonesia.
Pemkot Surabaya juga menargetkan jumlah kunjungan Surabaya Great Expo 2026 ini sekitar 47.650 orang. Selain pameran produk, warga dapat mengakses sejumlah layanan publik, termasuk pendampingan sertifikasi halal, pendaftaran merek, perizinan, dan layanan paspor.
Surabaya Great Expo 2026 Jadi Etalase UMKM
Surabaya Great Expo 2026 bukan hanya digelar sebagai agenda promosi tahunan. Pemkot Surabaya menempatkan kegiatan ini sebagai ruang temu antara pelaku usaha, konsumen, calon mitra, dan penyedia layanan pendukung bisnis.
Dalam empat tahun terakhir, perputaran transaksi Surabaya Great Expo 2026 tercatat lebih dari Rp30,3 miliar. Angka tersebut berasal dari penyelenggaraan periode 2022 hingga 2025.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan nilai transaksi itu menunjukkan pelaku UMKM masih membutuhkan ruang pemasaran yang lebih luas dan konsisten.
“SGE ini sejak beberapa tahun terakhir sudah menggerakkan uang lebih dari Rp30 miliar. Setiap pameran rata-rata perputarannya Rp7 miliar sampai Rp9 miliar. Ini menunjukkan bahwa tempat bagi UMKM untuk memasarkan produknya memang sangat dibutuhkan,” kata Wali Kota Eri, Rabu (5/8/2026).
Dengan capaian tersebut, target Rp7 miliar pada Surabaya Great Expo 2026 berada di rentang transaksi rata-rata pameran sebelumnya.
Ratusan UMKM Sudah Difasilitasi
Sepanjang 2022 hingga 2025, sekitar 370 UMKM binaan Pemkot Surabaya telah difasilitasi melalui Surabaya Great Expo 2026. Pelaku usaha tidak hanya mendapat tempat untuk memamerkan produk, tetapi juga akses pendampingan agar bisnisnya lebih siap berkembang.
Pemkot Surabaya mencatat sekitar 450 legalitas usaha telah difasilitasi melalui rangkaian kegiatan tersebut. Legalitas itu mencakup Nomor Induk Berusaha, sertifikasi halal, hingga pendaftaran merek.
Eri menilai pameran UMKM tidak cukup hanya berhenti pada transaksi selama acara. Pemerintah perlu membantu pelaku usaha memperkuat fondasi bisnisnya.
“Pameran ini bukan hanya soal menampilkan dan menjual produk. Bagaimana kita memberikan sertifikat halal, membantu sertifikat merek, ini yang sangat dibutuhkan UMKM. Pemerintah tugasnya memfasilitasi,” ujarnya.
Legalitas usaha menjadi bagian penting karena dapat membantu UMKM masuk ke pasar yang lebih luas. Produk yang memiliki NIB, sertifikasi halal, atau merek terdaftar lebih mudah mengikuti kurasi, kerja sama dagang, maupun promosi lintas kanal.
Pameran Diusulkan Lebih Rutin
Pemkot Surabaya juga menyiapkan ruang promosi UMKM yang lebih berkelanjutan. Eri menyebut fasilitas Surabaya Urban Creative Hub atau Sub Expocenter di kawasan eks Hi-Tech Mall dapat dimanfaatkan untuk agenda serupa.
Pameran UMKM diharapkan bisa digelar sekitar tiga bulan sekali. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya menunggu agenda besar tahunan untuk memperkenalkan produknya.
“Kita bisa melakukan pameran seperti ini mungkin tiga bulan sekali. Jadi ada tempat untuk menampilkan barang-barang UMKM, dilihat masyarakat, dan dipasarkan. Ketika kita memfasilitasi, pergerakan ekonomi itu akan berjalan sendiri,” tuturnya.
Menurut Eri, peran pemerintah berada pada pembukaan akses, penyediaan fasilitas, dan penciptaan ruang pertemuan antara pelaku usaha dengan pasar.
“Kalau pemerintah sudah memfasilitasi, UMKM yang akan bergerak sendiri. Karena itu kita harus sering mengadakan kegiatan yang sifatnya memfasilitasi,” ujar dia.
Gagasan pameran rutin ini menjadi lanjutan dari fungsi Surabaya Great Expo 2026 sebagai kanal pemasaran sekaligus ruang penguatan usaha.
Baca Juga: Kursi Taman Surabaya Dicuri, Kerugian Ditaksir Rp60 Juta
Anak RAP Ikut Masuk Produk Kreatif
Selain UMKM, Surabaya Great Expo 2026 juga menampilkan kolaborasi produk kreatif yang melibatkan anak-anak disabilitas dari Rumah Anak Prestasi.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah desain batik ditampilkan melalui kerja sama desainer dengan anak-anak RAP. Eri menilai keterlibatan itu menunjukkan pengembangan UMKM dapat berjalan bersama pengembangan talenta anak muda.
“Saya tadi semangat sekali karena anak-anak kita, anak-anak berprestasi, bisa menjadi bagian dari desainer dan memberikan contoh. Ini yang harus terus kita dorong,” ungkapnya.
Kehadiran karya anak RAP memberi warna berbeda dalam pameran. Produk kreatif tidak hanya diposisikan sebagai komoditas dagang, tetapi juga sebagai ruang partisipasi bagi kelompok yang selama ini membutuhkan akses lebih besar untuk menampilkan kemampuan.
SGE Jadi Ruang Jejaring Bisnis
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan Kota Surabaya Mia Santi Dewi mengatakan SGE menjadi ruang strategis untuk mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli.
Menurut Mia, dampak pameran diharapkan berlanjut setelah kegiatan selesai. Pelaku usaha dapat membangun jejaring, memperluas pasar, dan membuka peluang pengembangan bisnis.
“SGE menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, pembeli, dan masyarakat untuk membangun jejaring bisnis yang produktif. Kami berharap dampaknya tidak berhenti pada transaksi selama pameran, tetapi berlanjut pada pertumbuhan usaha yang berkelanjutan,” kata Mia.
Dengan konsep tersebut, SGE tidak hanya berfungsi sebagai etalase produk lokal. Kegiatan ini juga diarahkan untuk memperkuat legalitas usaha, memperluas jaringan pemasaran, dan membuka peluang bisnis baru bagi UMKM Surabaya.
Pada Surabaya Great Expo 2026, Pemkot Surabaya menyiapkan 142 stan, menargetkan transaksi Rp7 miliar, dan membidik sekitar 47.650 pengunjung selama pameran berlangsung di Exhibition Hall Grand City pada 5-9 Agustus 2026. (Sol)




