FinanSaya.com – CEO OpenAI Sam Altman memperkirakan dunia bisa memasuki fase awal superintelligence atau kecerdasan super dalam beberapa tahun ke depan. Pernyataan itu ia sampaikan dalam sesi keynote India AI Impact Summit 2026 di New Delhi, India.
Berdasarkan laman resmi India AI Impact Summit 2026, Altman tercatat sebagai salah satu key attendees dengan jabatan CEO OpenAI. Acara tersebut digelar di Bharat Mandapam, Pragati Maidan, New Delhi, pada Februari 2026.
Dalam pidatonya, Sam Altman menilai perkembangan artificial intelligence atau AI bergerak sangat cepat. Ia membandingkan kemampuan AI yang sebelumnya masih kesulitan menyelesaikan matematika tingkat sekolah menengah, kini berkembang menjadi sistem yang mampu mengerjakan matematika tingkat riset.
Altman juga menyebut AI atau kecerdasa buatan mulai mampu menghasilkan temuan baru dalam fisika teoretis. Perubahan kemampuan itu menjadi dasar prediksinya bahwa lompatan menuju superintelligence tidak lagi berada terlalu jauh.
Prediksi Sam Altman soal Superintelligence
Menurut transkrip sesi Digital Watch Observatory, Sam Altman menyampaikan bahwa lintasan perkembangan AI saat ini dapat membawa manusia ke versi awal superintelligence dalam waktu beberapa tahun.
“Pada lintasan saat ini, kami percaya mungkin hanya tinggal beberapa tahun lagi menuju versi awal superintelligence yang sesungguhnya,” kata Sam Altman, dikutip dari Digital Watch Observatory.
Altman mengakui pernyataan tersebut merupakan prediksi besar dan masih bisa keliru. Namun, ia menilai kemungkinan itu tetap perlu dipertimbangkan secara serius karena perkembangan AI menunjukkan percepatan kemampuan yang signifikan.
Selain itu, ia juga memperkirakan pada akhir 2028, kapasitas intelektual yang berada di dalam data center bisa melampaui kapasitas intelektual di luar data center. Pernyataan tersebut menggambarkan AI sebagai infrastruktur kecerdasan berskala besar, bukan sekadar alat bantu digital.
AI Disebut Bisa Lampaui CEO Manusia
Dalam pidato yang sama, Sam Altman mengatakan superintelligence pada tahap tertentu dapat menjalankan pekerjaan sebagai CEO perusahaan besar lebih baik daripada eksekutif manusia. Ia bahkan menyebut kemampuan itu dapat melampaui dirinya sendiri sebagai CEO OpenAI.
Pernyataan tersebut memperluas pembahasan dampak AI dari pekerjaan administratif ke wilayah strategis. Jika sistem AI mencapai kemampuan seperti itu, dampaknya dapat menyentuh pengambilan keputusan perusahaan, manajemen organisasi, dan arah bisnis.
Sam Altman juga menyebut kecerdasan super berpotensi melakukan riset lebih baik daripada ilmuwan terbaik. Artinya, kemampuan AI tidak hanya diarahkan pada otomasi kerja rutin, tetapi juga pada pekerjaan pengetahuan tingkat tinggi.
Baca Juga: Mampukah Kecerdasan Buatan Gantikan Akuntan?
Dalam konteks pekerjaan, Altman memperingatkan bahwa banyak profesi saat ini akan terdampak karena AI semakin mampu menjalankan berbagai fungsi yang menggerakkan ekonomi. Ia mengatakan akan semakin sulit bagi manusia untuk “mengalahkan GPU” dalam banyak hal.
Meski begitu, ia tetap menilai manusia memiliki keunggulan dalam aspek sosial, kreativitas, dan kebutuhan untuk berguna bagi sesama. Bagian ini menjadi penekanan bahwa kemajuan AI tidak otomatis menghapus seluruh peran manusia.
OpenAI Dorong Demokratisasi AI
Selain membahas peluang, Sam Altman menekankan pentingnya demokratisasi AI. Ia menilai teknologi tersebut tidak boleh terkonsentrasi hanya pada satu perusahaan atau satu negara.
Menurut Altman, pemusatan kekuatan AI dapat membawa risiko besar bagi masa depan manusia. Karena itu, akses, manfaat, dan tata kelola teknologi AI perlu dibagi secara luas.
Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip OpenAI yang menyatakan bahwa artificial general intelligence atau AGI harus memberi manfaat bagi seluruh umat manusia. OpenAI mendefinisikan AGI sebagai sistem AI yang secara umum lebih pintar daripada manusia.
OpenAI juga menyatakan AGI berpotensi meningkatkan kelimpahan, mempercepat ekonomi global, dan membantu penemuan pengetahuan ilmiah baru. Namun, teknologi tersebut juga membawa risiko serius, termasuk penyalahgunaan, kecelakaan besar, dan gangguan sosial.
Koordinasi Global Dinilai Mendesak
Sam Altman turut mendorong adanya mekanisme koordinasi internasional untuk mengelola risiko AI. Ia menyebut dunia mungkin membutuhkan lembaga seperti International Atomic Energy Agency atau IAEA untuk koordinasi global di bidang AI.
Usulan itu dikaitkan dengan kebutuhan merespons perubahan teknologi secara cepat. Dalam pandangan Sam Altman, tata kelola AI harus mampu mengikuti laju perkembangan sistem yang dapat berubah dalam waktu singkat.
Bagi dunia bisnis, prediksi tersebut memberi sinyal bahwa AI tidak lagi hanya diposisikan sebagai alat produktivitas. Teknologi ini berpotensi masuk ke struktur kerja, riset, kepemimpinan, dan tata kelola ekonomi.
Dalam pidatonya di India AI Impact Summit 2026, Sam Altman menempatkan superintelligence sebagai kemungkinan yang perlu disiapkan sejak sekarang, terutama jika lintasan perkembangan AI saat ini terus berlanjut. (Sol)




