FinanSaya.com – Robert Kiyosaki kembali menyalakan alarm krisis.
Penulis buku keuangan populer Rich Dad Poor Dad itu memperingatkan potensi crash ekonomi 2026. Menurutnya, tahun 2026 bisa menjadi awal dari kejatuhan ekonomi besar berikutnya.
Namun, Kiyosaki tidak melihat kondisi itu sebagai kabar buruk bagi semua orang.
Masalahnya, menurut dia, hanya orang yang tidak mampu membaca perubahan ekonomi yang akan terpukul paling keras.
“Sementara investor yang siap justru bisa melihat krisis sebagai peluang untuk membangun kekayaan,” ungkap Robert Kiyosaki.
Crash Ekonomi 2026 Jadi Peringatan Baru
Dalam unggahan di platform X pada 10 Mei, Kiyosaki menyebut investor terbaik harus mampu “melihat masa depan”.
Pernyataan itu sejalan dengan filosofi Rich Dad yang selama ini sering ia tekankan. Investor tidak hanya bereaksi ketika krisis datang, tetapi bersiap sebelum perubahan besar terjadi.
Di sinilah pesan Robert Kiyosaki menjadi tajam.
“Banyak orang baru sadar ketika harga aset sudah jatuh, pekerjaan terganggu, atau daya beli melemah. Padahal, tanda-tanda perubahan ekonomi sering terlihat lebih awal bagi mereka yang memperhatikan,” ujarnya.
Perak Jadi Investasi Favorit Kiyosaki
Kiyosaki juga kembali menyoroti perak atau silver.
Ia menyebut perak sebagai salah satu keputusan investasi terbaik dalam hidupnya. Kiyosaki mengaku mulai membeli perak sejak usia 18 tahun pada 1965.
Saat itu, harga perak berada di sekitar US$1,29.
Baca Juga: Punya Gaji Rp3 Juta, Sebaiknya Beli Emas atau Perak?
Kini, nilainya disebut berada di kisaran US$80,50, meski masih di bawah rekor tertinggi sebelumnya yang mendekati US$117.
Kenaikan itu berarti harga perak telah melonjak lebih dari 6.140 persen sejak pertengahan 1960-an.
Contohnya sederhana.
Jika seseorang membeli perak senilai US$10 pada 1965, nilainya kini bisa menjadi sekitar US$624. Jika membeli US$1.000, nilainya bisa berkembang menjadi lebih dari US$62.000.
Angka ini membuat perak kembali dilihat sebagai aset yang menarik di tengah kekhawatiran krisis.
Emas dan Bitcoin Masih Jadi Pilihan
Namun, Robert Kiyosaki tidak hanya bicara soal perak.
Selama bertahun-tahun, ia konsisten mendorong investor untuk mempertimbangkan aset lindung nilai. Mulai dari emas, perak, Bitcoin, hingga Ethereum.
“Aset seperti ini bisa menjadi pelindung ketika sistem keuangan tradisional berada dalam tekanan,” kata Kiyosaki.
Namun, bukan berarti aset tersebut bebas risiko.
Bitcoin dan Ethereum tetap bisa bergerak sangat volatil. Emas dan perak juga bisa naik turun mengikuti sentimen pasar, suku bunga, dan permintaan global.
Kondisi ini membuat investor tetap perlu menghitung risiko, bukan sekadar mengikuti prediksi tokoh terkenal. (Sol)




