Revenge Trading Bikin Trader Rugi US$720 Ribu

|

4 Views
Revenge Trading Bikin Trader Rugi US$720 Ribu

FinanSaya.com – Salah satu trader yang cukup populer bernama Tanzel Ahmed mengaku kehilangan sekitar US$720 ribu akibat revenge trading. Hal ini terjadi setelah serangkaian transaksi impulsif menghapus seluruh keuntungan yang telah ia bangun dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Dalam unggahan di media sosial, Tanzel menyebut dirinya sebelumnya berfokus pada perdagangan emas atau gold. Namun, pada malam saat kerugian terjadi, ia mencoba masuk ke pasar Bitcoin dan langsung kehilangan sekitar US$330 ribu.

Kerugian itu tidak membuatnya berhenti. Tanzel kemudian kembali membuka transaksi di pasar emas untuk mengejar kerugian sebelumnya, atau revenge trading. Keputusan tersebut justru menambah kerugian sekitar US$350 ribu sebelum pagi tiba.

“Saya benar-benar tidak bisa menjelaskan apa yang saya lakukan malam itu. Saya menghancurkan semuanya,” tulis Tanzel.

Revenge Trading Hapus Profit Besar

Kasus Tanzel menjadi sorotan karena nilai kerugian yang sangat besar dalam waktu singkat karena revenge trading. Ia mengaku kondisi psikologisnya saat itu bahkan lebih buruk daripada seorang trader pemula.

Tanzel menyebut dua pekan terakhir setelah kejadian tersebut menjadi masa yang berat. Ia mengaku mengalami depresi akibat kehilangan seluruh hasil trading yang sebelumnya sempat tumbuh sangat cepat.

Menurut pengakuannya, modal awal yang ia gunakan berasal dari US$11 ribu yang dimasukkan ke akun pribadi pada April 2026. Sebelum itu, ia juga telah memperoleh sekitar US$80 ribu dari payout beberapa prop firm hingga Maret 2026.

Melalui strategi compounding dengan risiko tinggi, saldo akun Tanzel sempat melonjak hingga sekitar US$720 ribu dalam waktu kurang dari tiga bulan. Namun, seluruh keuntungan itu lenyap dalam satu malam revenge trading.

Sempat Capai Target US$50 Ribu per Hari

Sebelum kerugian akibat revenge trading besar terjadi, Tanzel mengaku sempat mencapai target pribadinya pada Juni 2026. Target tersebut adalah menghasilkan US$50 ribu per hari selama 10 hari berturut-turut.

Pencapaian itu membuat Tanzel mulai menyusun rencana pembelian aset pribadi. Ia mengatakan sempat berencana mengimpor BMW M4 dan membeli rumah mewah hanya dua hari setelah berada di puncak performanya.

Baca Juga: Swing Trading: Penjelasan Sederhana untuk Pemula

Namun, rencana tersebut berubah setelah transaksi di Bitcoin dan emas berakhir dengan kerugian besar. Tanzel menggambarkan kejadian itu sebagai titik ketika semua yang sudah ia bangun mendadak hilang.

Ia juga mengaku tidak memiliki sosok yang membimbingnya dalam mengelola kekayaan yang datang secara cepat. Menurutnya, orang-orang di sekitar lebih banyak memperingatkan soal pajak atau menyimpan uang di bank.

Tanzel mengatakan tidak ada arahan yang cukup mengenai manajemen risiko, pengelolaan aset, atau cara menjaga keuntungan yang diperoleh dari trading berisiko tinggi.

Kembali ke Titik Nol

Setelah kehilangan dana tersebut, Tanzel mengaku kembali ke titik nol. Ia bahkan menyebut sempat memakai kartu kredit untuk membeli evaluasi prop firm baru.

Meski begitu, ia mengatakan telah menerima kenyataan bahwa keuntungan besar itu hilang karena revenge trading. Pengalaman dan pelajaran dari kejadian tersebut disebut menjadi hal yang masih tersisa.

“Saya berhasil menghasilkan uang sebanyak itu, lalu kehilangannya. Sekarang saya kembali ke nol. Satu-satunya yang tersisa adalah pengalaman dan pelajarannya,” tulisnya.

Dalam praktik trading, revenge trading merujuk pada kondisi ketika trader mencoba segera menutup kerugian dengan membuka posisi baru secara emosional. Keputusan seperti ini biasanya dilakukan tanpa mengikuti rencana trading dan manajemen risiko yang sudah ditetapkan.

Pada kasus Tanzel, kerugian awal di Bitcoin sekitar US$330 ribu diikuti transaksi lanjutan di emas yang menambah kerugian sekitar US$350 ribu. Kronologi itu membuat total kerugian yang ia akui berada di kisaran US$720 ribu.

Kisah Tanzel menunjukkan bagaimana revenge trading dapat mengubah akun yang sempat tumbuh dari US$11 ribu menjadi sekitar US$720 ribu, lalu kembali habis setelah satu malam transaksi impulsif. (Sol)

Disclaimer: Artikel ini hanya bertujuan sebagai informasi dan edukasi, bukan merupakan ajakan, rekomendasi, maupun saran investasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Lakukan riset mandiri dan pertimbangkan kondisi keuangan pribadi.

Artikel Menarik Lainnya