FinanSaya.com – Presiden Prabowo Subianto memberikan peringatan keras soal kondisi struktur ekonomi Indonesia yang dinilai masih penuh inefisiensi.
Sorotan utama datang dari tingginya angka Incremental Capital Output Ratio atau ICOR Indonesia yang kini berada di level 6,5.
Angka tersebut menunjukkan Indonesia membutuhkan modal sekitar Rp6,5 untuk menghasilkan tambahan output ekonomi senilai Rp1.
Indonesia Tertinggal dari Negara Tetangga
Dilansir dari Money, tingkat efisiensi modal Indonesia saat ini masih kalah dibanding negara ASEAN lain seperti Vietnam dan Thailand.
Kedua negara tersebut memiliki angka ICOR di kisaran 4 hingga 5 sehingga pertumbuhan ekonomi mereka dinilai lebih efisien.
Kondisi ini dianggap menjadi salah satu alasan mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tertahan di sekitar 5 persen meski investasi terus dipacu masuk.
Biaya Logistik dan Birokrasi Jadi Beban
Pemerintah menilai masalah utama bukan hanya jumlah investasi, tetapi bagaimana modal tersebut dikelola.
Saat ini biaya logistik Indonesia disebut mencapai sekitar 24 persen dari Produk Domestik Bruto atau PDB.
Angka tersebut membuat biaya distribusi barang dan aktivitas usaha menjadi jauh lebih mahal dibanding banyak negara lain.
Selain itu, birokrasi yang rumit dan regulasi yang sering tidak sinkron antara pusat dan daerah juga dinilai memperbesar kebocoran ekonomi.
Prabowo Sebut Ada Beban Masa Lalu
Prabowo mengatakan angka ICOR 6,5 menjadi cermin bahwa pengelolaan negara masih dipenuhi berbagai beban lama.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya mengandalkan besarnya investasi yang masuk.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan modal benar-benar produktif dan tidak habis karena biaya tidak efisien.
Investor Masih Hadapi Banyak Hambatan
Hambatan investasi disebut masih sering muncul akibat panjangnya rantai birokrasi dan keberadaan pihak perantara dalam berbagai prosedur resmi.
Masalah lain juga datang dari rendahnya produktivitas sumber daya manusia serta dwelling time di pelabuhan yang membuat distribusi barang berjalan lambat.
Akibatnya, banyak modal yang tertahan tanpa langsung menghasilkan nilai tambah ekonomi. (Sol)




