Porsi Pelaku Usaha Investasi Turun ke 18,86 Persen

|

3 Views
Porsi Pelaku Usaha Investasi Turun ke 18,86 Persen

FinanSaya.com – Porsi pelaku usaha di Indonesia yang melakukan investasi menurun pada semester I 2026. Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha atau SKDU Bank Indonesia menunjukkan hanya 18,86 persen responden yang menyatakan melakukan investasi pada periode tersebut.

Angka itu lebih rendah dibandingkan semester II 2025 yang mencapai 24,83 persen. Penurunan ini menunjukkan investasi belum dilakukan secara luas oleh dunia usaha, meskipun sebagian indikator nilai investasi masih menunjukkan kondisi relatif kuat.

Capaian semester I 2026 juga menjadi yang terendah dalam rangkaian data investasi semesteran SKDU sejak 2022. Pada semester I 2022, responden yang berinvestasi tercatat 20,96 persen.

Setelah itu, porsinya naik menjadi 23,61 persen pada semester I 2023 dan 25,01 persen pada semester I 2024. Pada semester I 2025, angkanya turun menjadi 22,25 persen sebelum kembali melemah ke 18,86 persen pada semester I 2026.

Porsi Pelaku Usaha Berinvestasi Menurun

Penurunan porsi pelaku usaha yang melakukan investasi tidak otomatis berarti seluruh indikator investasi melemah. Dalam SKDU BI, Saldo Bersih atau SB nilai investasi pada semester I 2026 masih tercatat 51,16 persen.

Angka porsi pelaku usaha tersebut memang turun dibandingkan semester II 2025 yang sebesar 65,29 persen. Namun, posisinya masih lebih tinggi dibandingkan semester I 2025 yang sebesar 48,90 persen.

Data ini menunjukkan adanya perbedaan antara jumlah perusahaan yang berinvestasi dan nilai investasi yang dilakukan. Jumlah responden yang melakukan investasi menyusut, tetapi perusahaan yang tetap berinvestasi masih mencatatkan nilai investasi relatif kuat.

Meski demikian, SB tidak sama dengan nilai investasi dalam rupiah. Indikator tersebut merupakan hasil perbandingan jawaban responden, sehingga tidak dapat langsung digunakan untuk menyimpulkan besarnya investasi nominal atau tingkat konsentrasi investasi pada kelompok perusahaan tertentu.

Mesin Jadi Investasi Terbesar

Berdasarkan bentuknya, investasi pelaku usaha pada semester I 2026 paling banyak diarahkan untuk pengadaan mesin. Porsinya mencapai 28,66 persen.

Investasi bangunan atau pabrik berada di urutan berikutnya dengan porsi 22,44 persen. Setelah itu, investasi kategori lainnya mencapai 21,79 persen.

Pelaku usaha juga mengalokasikan investasi untuk alat angkut atau transportasi dengan porsi 16,86 persen. Sementara pembelian tanah tercatat sebesar 10,25 persen.

Dari sisi tujuan, sebagian besar perusahaan menyatakan investasi yang dilakukan merupakan investasi baru. Porsinya mencapai 49,73 persen.

Adapun investasi yang bersifat penggantian mencapai 25,04 persen. Sementara kombinasi investasi baru dan penggantian tercatat 25,22 persen.

Realisasi Triwulan II Masih Naik Tipis

Secara triwulanan, realisasi investasi pada triwulan II 2026 masih menunjukkan peningkatan tipis. Saldo Bersih Tertimbang atau SBT investasi tercatat 5,46 persen.

Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2026 yang sebesar 5,39 persen. Kenaikan ini menunjukkan investasi masih bergerak, meskipun peningkatannya tidak besar.

Pertumbuhan investasi terutama berasal dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Selain itu, investasi juga ditopang oleh industri pengolahan serta perdagangan besar dan eceran.

Baca Juga: Defisit Perdagangan Bisa Jadi Sinyal Investasi, Kenapa?

Bentuk investasi yang dilakukan antara lain pembelian kendaraan, mesin, dan alat berat. Beberapa pelaku usaha juga melakukan pembangunan atau perbaikan pabrik, gudang, dan bangunan.

Dengan pola tersebut, penurunan porsi pelaku usaha yang berinvestasi lebih menggambarkan partisipasi yang menyempit, bukan berhentinya seluruh aktivitas investasi.

Rencana Semester II Tetap Terbatas

Untuk semester II 2026, persentase responden yang berencana melakukan investasi diperkirakan sebesar 18,79 persen. Angka ini relatif stabil, tetapi sedikit lebih rendah dibandingkan realisasi semester I 2026 sebesar 18,86 persen.

Prakiraan porsi pelaku usaha tersebut menunjukkan minat ekspansi investasi belum banyak berubah. Dunia usaha masih berinvestasi, tetapi belum terlihat dorongan yang cukup kuat untuk memperluas partisipasi perusahaan.

Sejumlah hambatan masih membayangi rencana investasi. Suku bunga menjadi salah satu faktor utama dengan porsi 16,16 persen.

Hambatan berikutnya adalah perizinan sebesar 16,07 persen. Infrastruktur juga disebut menjadi kendala dengan porsi 8,30 persen.

Faktor lainnya memiliki porsi paling besar, yakni 33,01 persen. Bank Indonesia menjelaskan kategori tersebut antara lain mencakup kondisi ekonomi dan geopolitik.

Investasi Belum Meluas

Data SKDU memperlihatkan pemulihan kegiatan usaha belum sepenuhnya mendorong lebih banyak perusahaan melakukan ekspansi investasi. Partisipasi responden yang berinvestasi justru turun ke posisi terendah sejak 2022.

Pada saat yang sama, nilai investasi masih relatif kuat bagi perusahaan yang tetap berinvestasi. Perbedaan ini membuat gambaran investasi dunia usaha tidak bisa dibaca hanya dari satu indikator.

Pada semester I 2026, porsi pelaku usaha yang melakukan investasi tercatat 18,86 persen, SB nilai investasi 51,16 persen, dan rencana investasi semester II 2026 diprakirakan 18,79 persen. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya