Opini oleh Solomon Tama
FinanSaya.com – Penjilat lagi kejar cuan biasanya tidak langsung terlihat dari awal. Mereka bisa tampak ramah, perhatian, mudah memuji, dan seolah sangat mendukung.
Masalahnya, semua itu sering dilakukan bukan karena ketulusan, melainkan karena ada keuntungan yang sedang dikejar, seperti uang, proyek, akses, jabatan, koneksi, atau peluang bisnis.
Dalam kehidupan profesional, kemampuan membangun relasi memang penting. Tidak semua orang yang sopan kepada atasan, klien, investor, atau orang berpengaruh otomatis penjilat. Bedanya ada pada motif, konsistensi, dan cara orang tersebut memperlakukan pihak yang tidak punya manfaat langsung baginya.
Karena itu, membahas penjilat lagi kejar cuan bukan berarti mengajak kita curiga pada semua orang. Tujuannya adalah memahami pola perilaku yang manipulatif agar kita tidak mudah dimanfaatkan, ditunggangi, atau dijadikan pijakan untuk ambisi orang lain.
Apa Maksud Penjilat Lagi Kejar Cuan?
Simpelnya, penjilat lagi kejar cuan itu biasanya orang yang memakai pujian, kedekatan palsu, sikap terlalu manis, atau dukungan berlebihan untuk mendapatkan keuntungan finansial maupun akses ekonomi.
Dalam psikologi organisasi, perilaku seperti ini dekat dengan istilah ingratiation. The Decision Lab mendefinisikan ingratiation sebagai teknik persuasi ketika seseorang sengaja berusaha terlihat lebih disukai atau menarik bagi orang lain, sering kali untuk mendapatkan bantuan, persetujuan, atau keuntungan tertentu.
Dalam konteks kerja dan bisnis, bentuknya bisa macam-macam. Ada yang menjilat atasan agar cepat promosi. Ada yang mendekati pemilik modal agar dapat investasi. Ada yang pura-pura mendukung teman agar bisa ikut proyek. Ada juga yang memakai pujian dan loyalitas palsu untuk mendapatkan posisi strategis.
Masalahnya bukan pada ambisi mencari uang. Mengejar cuan secara sehat itu wajar. Yang bermasalah adalah ketika penjilat lagi kejar cuan, mereka umumnya mengorbankan etika, memanipulasi hubungan, atau merugikan orang lain demi keuntungan pribadi.
Kenapa Orang Bisa Menjilat Demi Cuan?
Orang bisa menjilat karena mereka melihat hubungan sosial sebagai jalan pintas menuju keuntungan. Alih-alih membangun kompetensi, reputasi, dan hasil kerja nyata, mereka memilih memoles citra di depan orang yang dianggap punya kuasa.
Riset tentang impression management dalam organisasi menunjukkan bahwa orang sering memakai taktik seperti ingratiation dan self-promotion untuk membentuk kesan tertentu dan mencapai tujuan profesional.
Dalam konteks wawancara kerja, penelitian Proost dan rekan-rekannya juga membahas bagaimana ingratiation dan self-promotion dapat memengaruhi penilaian pewawancara terhadap kandidat.
Dengan kata lain, perilaku mencari muka bukan hal baru. Ia bisa muncul di kantor, komunitas bisnis, organisasi, dunia politik, bahkan lingkaran pertemanan. Yang perlu diperhatikan adalah kapan strategi sosial berubah menjadi manipulasi.
7 Ciri Penjilat Lagi Kejar Cuan
Berikut beberapa ciri penjilat lagi kejar cuan yang bisa diperhatikan. Jangan menilai dari satu tanda saja. Lihat polanya secara berulang.
1. Pujian Berlebihan dan Tidak Proporsional
Ciri pertama adalah pujian yang terlalu sering, terlalu manis, dan terasa tidak proporsional.
Memberi apresiasi itu sehat. Namun, penjilat biasanya memuji bukan karena kualitas nyata, melainkan karena ingin membuat target merasa nyaman. Pujian bisa diarahkan ke atasan, klien besar, investor, atau orang yang punya akses ke uang dan peluang.
Misalnya, ide biasa saja disebut “visioner”. Keputusan yang belum tentu benar langsung dipuji “paling jenius”. Orang yang baru dikenal sudah diperlakukan seperti mentor besar. Jika pujian selalu naik level saat ada peluang cuan, itu perlu dicermati.
2. Sikapnya Berubah Sesuai Siapa yang Bikin Untung
Penjilat lagi kejar cuan sering punya standar sikap yang tidak konsisten. Di depan orang penting, ia sangat sopan, hangat, dan penuh perhatian. Namun, kepada orang yang dianggap tidak punya kuasa, sikapnya bisa dingin, meremehkan, atau bahkan kasar.
Pola ini dikenal secara populer sebagai “kiss up, kick down”: manis ke atas, buruk ke bawah. Walau istilah ini populer, secara perilaku ia menggambarkan ketidaktulusan relasi. Orang seperti ini bukan benar-benar punya karakter baik, tetapi pandai menyesuaikan sikap berdasarkan manfaat.
Cara paling mudah melihatnya adalah memperhatikan bagaimana ia memperlakukan staf junior, pelayan, admin, rekan kecil, atau orang yang tidak bisa memberi keuntungan langsung.
3. Dekat dengan Orang Berkuasa, Jauh dari Orang Biasa
Ciri berikutnya adalah sangat selektif dalam membangun kedekatan. Ia hanya terlihat aktif ketika ada orang berpengaruh, pemilik modal, atasan, atau calon klien besar.
Dalam rapat biasa, ia pasif. Namun, begitu ada bos atau investor, ia mendadak paling vokal. Di grup kecil, ia jarang membantu. Tetapi saat ada orang penting, ia ingin terlihat paling berjasa.
Penjilat lagi kejar cuan biasanya tidak sekadar networking. Networking sehat dibangun lewat nilai, kepercayaan, dan saling membantu. Menjilat dibangun lewat pencitraan yang diarahkan ke pihak yang dianggap bisa memberi keuntungan.
Baca Juga: Ketika Uang Menjadi Tuhan bagi Seseorang
4. Doyan Klaim Kerja Orang Lain
Ciri yang paling merugikan adalah mengambil kredit dari hasil kerja orang lain.
Orang seperti ini bisa terlihat sibuk saat presentasi, tetapi tidak banyak berkontribusi saat proses. Ia pandai muncul di akhir, menyusun narasi, lalu membuat seolah-olah keberhasilan tim terjadi karena dirinya.
Dalam dunia kerja, ini berbahaya karena bisa merusak moral tim. Orang yang benar-benar bekerja keras menjadi tidak terlihat, sementara penjilat mendapat panggung karena lebih dekat dengan pengambil keputusan.
Jika seseorang sering mengambil sorotan ketika hasilnya bagus, tetapi menghilang saat ada masalah, itu tanda kuat bahwa ia lebih mengejar keuntungan pribadi daripada tanggung jawab.
5. Selalu Setuju di Depan, Tapi Bermain di Belakang
Penjilat lagi kejar cuan sering tidak punya keberanian menyampaikan pendapat jujur di depan orang yang ingin ia dekati. Ia cenderung selalu setuju, mengangguk, dan membenarkan apa pun keputusan targetnya.
Namun, di belakang, ia bisa menyebarkan komentar berbeda, menyalahkan orang lain, atau membangun posisi aman untuk dirinya sendiri.
Taktik ini membuatnya tampak loyal di depan pihak berkuasa, tetapi tetap punya jalan keluar jika situasi berubah. Sikap seperti ini merusak kepercayaan karena orang tidak pernah tahu mana pendapatnya yang asli.
6. Relasi Dibangun Secara Transaksional
Orang yang sedang menjilat demi cuan biasanya hanya hadir saat butuh sesuatu.
Ketika ada peluang proyek, ia mendekat. Ketika ada dana, ia ramah. Ketika ada akses ke orang penting, ia tiba-tiba aktif. Namun, ketika tidak ada manfaat, ia menghilang.
Relasi transaksional seperti ini berbeda dengan hubungan profesional yang sehat. Dalam hubungan profesional, orang tetap menjaga etika, komunikasi, dan rasa hormat meski sedang tidak ada keuntungan langsung.
Jika seseorang hanya baik saat ada potensi uang, komisi, proyek, atau promosi, bisa jadi ia bukan membangun hubungan, melainkan sedang menghitung peluang.
7. Cepat Meninggalkan Orang yang Tidak Lagi Menguntungkan
Ciri terakhir adalah loyalitas yang mudah berubah.
Saat seseorang masih punya jabatan, akses, atau uang, ia didekati. Namun begitu orang tersebut kehilangan posisi, proyek, atau pengaruh, ia langsung ditinggalkan.
Pola ini sering terlihat dalam lingkungan bisnis dan karier. Orang yang dulu dipuji setinggi langit mendadak diabaikan ketika tidak lagi punya kuasa. Sebaliknya, ia segera mendekati orang baru yang dianggap lebih menjanjikan.
Di sinilah motif penjilat lagi kejar cuan menjadi jelas. Yang dikejar bukan hubungan, nilai, atau kerja sama sehat, melainkan manfaat pribadi.
Cara Menyikapi Penjilat Lagi Kejar Cuan
Pertama, jangan langsung menuduh. Menilai orang sebagai penjilat adalah hal serius. Lihat pola perilakunya, bukan satu kejadian.
Kedua, batasi akses. Jangan terlalu cepat memberi informasi penting, rekomendasi, uang, atau kepercayaan kepada orang yang belum terbukti konsisten.
Ketiga, dokumentasikan pekerjaan. Jika berada dalam tim, pastikan kontribusi, keputusan, dan pembagian tugas tertulis dengan jelas. Ini membantu mencegah orang lain mengklaim hasil kerja sepihak.
Keempat, tetap profesional. Jangan ikut bermain manipulatif. Jika seseorang menjilat demi cuan, respons terbaik adalah menjaga batas, fokus pada bukti kerja, dan tidak mudah terpancing. (Sol)




