Pasar Saham Masih Kuat tapi Risiko 2027 Naik

|

6 Views
Pasar Saham Masih Kuat tapi Risiko 2027 Naik

FinanSaya.com – Pasar saham masih dinilai memiliki ruang untuk mempertahankan momentum positif dalam jangka pendek. Namun, risiko koreksi yang lebih dalam diperkirakan meningkat pada 2027 ketika pertumbuhan ekonomi mulai melambat dan inflasi terus menurun.

Pandangan tersebut disampaikan Chief Investment Officer Oxbow Advisors Chance Finucane dalam wawancara bersama David Lin yang dipublikasikan pada 16 Juli.

Finucane menilai kondisi pasar saham saat ini masih mendukung aset berisiko. Namun, latar ekonomi tahun depan dapat menjadi lebih menantang bagi investor, terutama jika data pertumbuhan mulai terlihat lebih lemah dibandingkan basis yang kuat pada tahun ini.

Menurutnya, investor pada 2027 akan membandingkan data ekonomi baru dengan pertumbuhan dan inflasi yang relatif kuat pada paruh pertama tahun ini. Perbandingan itu dapat membuat laju pertumbuhan tahunan terlihat melemah dan menekan valuasi saham.

Pasar Saham Bisa Tertekan pada 2027

Finucane memperkirakan tekanan yang lebih serius terhadap pasar saham kemungkinan tidak muncul langsung dalam waktu dekat. Risiko lebih besar justru dapat datang pada 2027.

Pemicu utamanya adalah kombinasi pertumbuhan ekonomi yang kehilangan momentum dan inflasi yang bergerak lebih rendah. Kondisi seperti ini tidak selalu positif bagi aset berisiko.

Inflasi yang turun memang dapat mengurangi tekanan terhadap suku bunga. Namun, apabila penurunan inflasi terjadi karena ekonomi melemah, laba perusahaan juga berisiko ikut tertekan.

Dalam situasi tersebut, investor dapat menjadi lebih selektif untuk pasar saham. Saham dengan valuasi tinggi berpotensi mengalami penyesuaian harga lebih besar jika kinerja bisnis tidak mampu memenuhi ekspektasi.

Finucane tidak menyatakan pasar pasti jatuh. Namun, ia melihat perlambatan ekonomi dapat menjadi alasan investor mengevaluasi kembali harga saham setelah periode kenaikan yang kuat.

Saham AI Masih Punya Ruang Naik

Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah pasar saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau AI. Dalam beberapa tahun terakhir, saham AI menjadi salah satu pendorong kenaikan pasar saham.

Antusiasme terhadap pusat data, chip, otomatisasi, dan teknologi AI telah mengangkat valuasi sejumlah perusahaan. Finucane menilai saham AI masih bisa melanjutkan penguatan hingga akhir tahun.

Minat investor yang tinggi dan sentimen optimistis masih dapat menjaga aliran modal ke sektor tersebut. Antusiasme, bahkan unsur keserakahan pasar terhadap tema AI, disebut masih dapat mendorong harga lebih tinggi dalam jangka pendek.

Namun, peluang naik itu tidak bebas risiko. Finucane juga membuka kemungkinan koreksi yang sudah terjadi pada beberapa saham AI dapat berlanjut lebih dalam sebelum pasar kembali menguat.

Dengan kata lain, reli AI masih mungkin berlanjut, tetapi pergerakannya diperkirakan tidak akan mulus.

Valuasi Tinggi Jadi Risiko Utama

Masalah terbesar saham AI bukan hanya kondisi bisnis perusahaan, tetapi ekspektasi yang sudah sangat tinggi. Ketika investor membayar valuasi mahal, perusahaan harus terus mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba yang kuat.

Sedikit perlambatan dapat memicu aksi jual besar. Risiko ini meningkat jika kondisi ekonomi 2027 membuat belanja korporasi melemah atau permintaan terhadap produk teknologi tidak sekuat perkiraan.

Perusahaan yang sebelumnya mendapat premi valuasi tinggi karena narasi AI bisa lebih rentan terhadap koreksi. Pasar dapat menilai ulang harga saham apabila pertumbuhan aktual tidak sejalan dengan ekspektasi.

Kondisi ini membuat pasar saham AI tetap menarik bagi sebagian investor, tetapi juga membawa volatilitas tinggi. Sektor yang naik paling cepat biasanya juga paling sensitif ketika sentimen berubah.

Baca Juga: Ex Date Dividen Sering Bikin Harga Saham Jatuh?

Inflasi Turun Tidak Selalu Baik

Finucane menjelaskan bahwa penurunan inflasi perlu dibaca bersama arah pertumbuhan ekonomi. Bagi pasar saham, inflasi rendah bukan otomatis kabar baik.

Jika inflasi turun karena rantai pasok membaik dan ekonomi tetap kuat, kondisi itu dapat mendukung pasar. Namun, jika inflasi turun karena permintaan melemah, perusahaan dapat menghadapi tekanan pada penjualan dan laba.

Dalam skenario kedua, investor mungkin mengurangi eksposur terhadap pasar saham berisiko tinggi. Dana dapat beralih ke aset yang dianggap lebih aman atau instrumen pendapatan tetap.

Koreksi yang awalnya muncul pada saham AI juga dapat melebar ke indeks pasar yang lebih luas. Risiko itu menjadi lebih besar apabila perlambatan ekonomi terjadi lebih cepat dari perkiraan.

Oxbow Pilih Obligasi Jangka Pendek

Di tengah ketidakpastian tersebut, Oxbow Advisors lebih menyukai instrumen pendapatan tetap berjangka pendek dibandingkan obligasi jangka panjang.

Perusahaan berfokus pada surat utang pemerintah AS, obligasi korporasi berperingkat investasi, dan obligasi daerah dengan jatuh tempo sekitar tiga tahun atau kurang.

Strategi ini memberi fleksibilitas kepada investor. Ketika obligasi jatuh tempo, dana dapat ditempatkan kembali ke instrumen baru sesuai kondisi suku bunga terbaru.

Oxbow Advisors juga meningkatkan eksposur terhadap Treasury AS bertenor dua tahun setelah imbal hasilnya naik di atas 4 persen. Langkah itu dilakukan untuk mengunci imbal hasil bagi klien.

Sebaliknya, obligasi jangka panjang dinilai kurang menarik. Harga obligasi berdurasi panjang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga, sehingga risikonya lebih besar ketika imbal hasil kembali naik.

Volatilitas Masih Membayangi

Finucane memperkirakan volatilitas tetap mewarnai pasar saham hingga akhir tahun. Saham AI masih bisa naik karena antusiasme investor, tetapi koreksi tajam dapat muncul ketika valuasi, laporan keuangan, atau data ekonomi tidak memenuhi harapan pasar.

Bagi investor, pandangan ini menjadi pengingat bahwa sektor populer tetap perlu dibaca bersama risiko valuasi dan siklus ekonomi. Diversifikasi dan pengelolaan risiko menjadi semakin penting ketika kondisi makro mulai berubah.

Dalam pandangan Oxbow Advisors, pasar saham masih dapat mempertahankan momentum positif dalam waktu dekat, sementara risiko koreksi yang lebih besar diperkirakan meningkat pada 2027 ketika pertumbuhan ekonomi dan inflasi sama-sama melemah. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya