Mental Accounting Bisa Bikin Uang Lebih Terkontrol

|

2 Views
Mental Accounting Bisa Bikin Uang Lebih Terkontrol

FinanSaya.com – Dalam mengelola uang, banyak orang merasa sudah mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi tetap bingung kenapa saldo cepat habis. Salah satu penyebabnya bukan hanya jumlah uang yang dimiliki, melainkan cara kita “mengelompokkan” uang di dalam pikiran. Di sinilah konsep mental accounting menjadi penting.

Secara sederhana, konsep mental accounting adalah kebiasaan seseorang membagi uang ke dalam kategori tertentu secara mental. Misalnya, uang gaji dianggap untuk kebutuhan bulanan, bonus dianggap sebagai uang bebas pakai, dan cashback dianggap sebagai uang tambahan yang boleh dihabiskan. Padahal, secara nilai, semua uang tetap sama.

Konsep ini dipopulerkan oleh ekonom perilaku Richard H. Thaler. Dalam artikel akademiknya, Mental Accounting Matters, Thaler menjelaskan bahwa orang sering membuat “akun-akun mental” untuk mengatur, mengevaluasi, dan mengambil keputusan atas uang mereka. Artinya, keputusan finansial tidak selalu murni rasional, tetapi dipengaruhi oleh cara otak memberi label pada uang.

Apa Itu Mental Accounting?

Mental accounting adalah cara seseorang memperlakukan uang secara berbeda berdasarkan sumber, tujuan, atau tempat penyimpanannya. Contohnya, Rp500.000 dari gaji terasa berbeda dengan Rp500.000 dari hadiah, meskipun nominalnya sama.

Dalam konteks rekening bank, perilaku ini bisa terlihat ketika seseorang memiliki beberapa rekening untuk tujuan berbeda. Satu rekening dipakai untuk menerima gaji, satu untuk belanja harian, satu untuk dana darurat, dan satu lagi untuk tabungan liburan. Pembagian seperti ini bisa membantu, asalkan dilakukan dengan sadar dan terukur.

Namun, masalah muncul ketika label mental tersebut membuat seseorang mengambil keputusan yang kurang sehat. Misalnya, seseorang merasa boleh boros memakai uang bonus karena menganggapnya “uang rezeki tambahan”, sementara ia masih memiliki utang konsumtif yang bunganya tinggi.

Contoh Mental Accounting dalam Kelola Rekening Bank

Dalam mental accounting, bayangkan seseorang menerima gaji Rp7 juta per bulan. Ia membagi uangnya ke beberapa rekening: Rp4 juta untuk kebutuhan hidup, Rp1 juta untuk cicilan, Rp1 juta untuk tabungan, dan Rp1 juta untuk hiburan. Pembagian ini bisa menjadi strategi yang baik karena uang tidak tercampur dalam satu saldo besar.

Masalahnya, ketika rekening hiburan sudah habis, ia tetap memakai kartu kredit atau mengambil uang dari rekening tabungan. Dalam situasi ini, pembagian rekening hanya menjadi ilusi kontrol. Secara psikologis ia merasa sudah disiplin, tetapi secara nyata arus kas tetap bocor.

Contoh lain mental accounting adalah dana darurat. Banyak orang merasa aman karena memiliki tabungan Rp10 juta, tetapi dana itu sering dipakai untuk belanja promo, tiket konser, atau gadget baru. Ini menunjukkan bahwa label “dana darurat” belum cukup kuat dalam perilaku sehari-hari.

Perilaku seperti ini sejalan dengan temuan Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam Prospect Theory: An Analysis of Decision under Risk. Mereka menjelaskan bahwa manusia sering mengambil keputusan ekonomi secara tidak sepenuhnya rasional, terutama ketika menghadapi risiko, kerugian, dan keuntungan. Karena itu, seseorang bisa sangat hemat untuk belanja kebutuhan pokok, tetapi mudah menghabiskan uang dari bonus, hadiah, atau cashback.

Manfaat Mental Accounting untuk Mengatur Uang

Jika digunakan dengan tepat, mental accounting bisa menjadi alat bantu yang praktis. Pertama, konsep ini membantu membuat uang lebih terarah. Saat uang dipisahkan berdasarkan tujuan, seseorang lebih mudah mengetahui mana uang untuk kebutuhan, mana untuk tabungan, dan mana untuk hiburan.

Kedua, pembagian rekening bisa mengurangi godaan belanja. Saldo yang terlihat kecil di rekening harian dapat membuat seseorang lebih berhati-hati. Ini berbeda dengan menyimpan semua uang di satu rekening besar, karena saldo besar sering memberi kesan seolah-olah uang masih banyak.

Ketiga, strategi ini membantu membangun kebiasaan finansial. Misalnya, setiap menerima gaji, seseorang langsung memindahkan sebagian uang ke rekening dana darurat atau investasi. Dengan begitu, menabung tidak lagi menunggu sisa uang di akhir bulan.

Prinsip ini sejalan dengan edukasi perencanaan keuangan dari Otoritas Jasa Keuangan melalui kanal resmi Sikapi Uangmu OJK, yang menekankan pentingnya memahami kebutuhan, membuat prioritas, dan mengelola keuangan secara terencana. Dalam praktiknya, rekening yang dipisahkan berdasarkan fungsi bisa membantu seseorang lebih disiplin, selama tetap dievaluasi secara rutin.

Baca Juga: Pajak sebagai Cermin Keuangan, Bukan Sekadar Kewajiban

Risiko Jika Mental Accounting Dipakai Berlebihan

Walaupun berguna, mental accounting juga bisa menyesatkan. Risiko pertama adalah merasa uang tertentu boleh dihabiskan tanpa berpikir panjang. Contohnya, uang THR, bonus, hadiah, atau cashback dianggap sebagai uang ekstra, padahal uang tersebut bisa dipakai untuk melunasi utang, menambah dana darurat, atau mengejar tujuan keuangan lain.

Risiko kedua adalah mengabaikan gambaran besar keuangan. Seseorang bisa merasa aman karena memiliki tabungan, tetapi di sisi lain masih menanggung utang berbunga tinggi. Secara total kekayaan bersih, kondisinya mungkin tidak sehat.

Risiko ketiga adalah terlalu banyak rekening tanpa tujuan jelas. Memiliki banyak rekening bisa membantu, tetapi juga bisa membingungkan jika tidak dikelola. Biaya administrasi, saldo minimum, dan sulitnya memantau arus kas bisa menjadi masalah baru.

Karena itu, yang penting bukan sekadar memisahkan uang, tetapi memahami fungsi setiap rekening dan mengevaluasi apakah pembagian tersebut benar-benar membantu. Rekening boleh berbeda-beda, tetapi kondisi keuangan tetap harus dilihat sebagai satu kesatuan.

Manfaatkan Mental Accounting dengan Bijak

Agar mental accounting bermanfaat, mulai dari tujuan yang jelas. Jangan membuat rekening hanya karena ikut tren. Tentukan dulu fungsi utamanya, misalnya rekening operasional, dana darurat, tabungan tujuan, dan investasi.

Setelah itu, buat aturan sederhana. Contohnya, rekening dana darurat hanya boleh dipakai untuk kehilangan penghasilan, biaya kesehatan mendesak, atau perbaikan penting yang tidak bisa ditunda. Rekening hiburan boleh dipakai untuk gaya hidup, tetapi tidak boleh mengambil dari rekening tabungan.

Langkah berikutnya adalah memakai sistem otomatis. Setelah gaji masuk, segera transfer dana ke pos yang sudah ditentukan. Cara ini membantu mengurangi keputusan impulsif karena uang sudah diarahkan sejak awal.

Evaluasi juga perlu dilakukan setiap bulan. Cek apakah saldo rekening sesuai tujuan, apakah ada pengeluaran yang bocor, dan apakah pembagian uang masih relevan dengan kondisi hidup saat ini. Ketika pendapatan, cicilan, atau tanggungan berubah, pembagian rekening juga perlu disesuaikan.

Bank Indonesia melalui halaman resmi edukasi BI juga menyediakan berbagai materi literasi keuangan dan sistem pembayaran. Ini penting karena pengelolaan rekening bank tidak hanya soal menabung, tetapi juga memahami cara menggunakan layanan keuangan secara aman dan sesuai kebutuhan.

Yang tidak kalah penting, lihat kondisi keuangan secara keseluruhan. Jangan hanya bangga punya tabungan, tetapi lupa menghitung utang, cicilan, dan kewajiban rutin. Rekening boleh dipisah, tetapi perhitungan keuangan tetap harus menyatu. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya