Kelas Menengah Makin Hilang, Benarkah Ada Konspirasi?

|

10 Views
Kelas Menengah Makin Hilang, Benarkah Ada Konspirasi?

FinanSaya.com – Belakangan ini, muncul narasi yang bikin banyak orang berhenti sejenak, yakni benarkah ada konspirasi kelas menengah makin hilang?

Narasi ini tidak muncul dari ruang kosong.

Banyak orang merasa hidup makin berat. Gaji naik pelan, harga rumah makin jauh, biaya sekolah dan kesehatan naik, cicilan menumpuk, sementara tabungan sulit sekali bertambah.

Masalahnya, menyebut semua ini sebagai konspirasi besar belum ada bukti kuat.

Namun jika yang dimaksud adalah kelas menengah terjepit dan daya tahannya makin lemah, gejalanya nyata.

Kelas Menengah Indonesia Makin Menyusut

Data Mandiri Institute yang diolah dari BPS menunjukkan jumlah kelas menengah Indonesia turun dari 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025. Artinya, ada penurunan sekitar 1,1 juta orang atau 2,5 persen dalam setahun. Pada periode yang sama, kelompok calon kelas menengah justru naik dari 137,5 juta menjadi 142 juta orang.

Kondisi kelas menengah makin hilang ini memberi sinyal penting.

Banyak orang berada di posisi tanggung. Mereka tidak lagi miskin, tetapi belum cukup kuat untuk benar-benar aman secara ekonomi.

Dari luar, mereka tampak baik-baik saja.

Punya pekerjaan. Punya motor atau mobil. Punya ponsel. Bayar internet. Sesekali makan di luar.

Namun di balik itu, banyak yang hidup dari gaji ke gaji.

Bukan Dihapus, Tapi Terkikis

Istilah “kelas menengah makin hilang” memang terdengar dramatis.

Namun yang lebih masuk akal adalah kelas menengah sedang terkikis pelan-pelan.

OECD dalam laporan Under Pressure: The Squeezed Middle Class mencatat bahwa pendapatan kelas menengah di banyak negara tumbuh lambat, sementara biaya utama gaya hidup kelas menengah seperti perumahan naik jauh lebih cepat. OECD juga menyebut harga rumah tumbuh tiga kali lebih cepat dibanding pendapatan median rumah tangga dalam dua dekade terakhir.

Di sinilah tekanannya terasa.

Orang masih bekerja. Tetapi hasil kerjanya tidak lagi cukup kuat untuk mengejar biaya hidup.

Gaji naik 5 persen, tetapi sewa rumah naik lebih cepat. Harga makan naik. Cicilan naik. Biaya pendidikan naik. Biaya kesehatan naik.

Akhirnya, hidup terasa seperti berlari di treadmill. Bergerak terus, tetapi tidak benar-benar maju.

Kelas Menengah Terlalu Kaya untuk Dibantu

Kelas menengah juga menghadapi paradoks.

Mereka sering tidak masuk kategori miskin, sehingga tidak selalu menjadi prioritas bantuan sosial. Namun, kelas menengah makin hilang, karena mereka juga belum cukup kaya untuk punya perlindungan finansial kuat.

Mereka membayar pajak.

Mereka membayar cicilan rumah atau kendaraan. Mereka menanggung biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, internet, asuransi, dan kebutuhan keluarga.

Namun ketika ada guncangan kecil, posisi kelas menengah makin hilang.

PHK. Anak sakit. Orang tua butuh biaya. Cicilan naik. Kontrak kerja tidak diperpanjang. Harga sewa naik.

Satu kejadian bisa membuat tabungan habis.

Inilah yang membuat banyak orang merasa sistem tidak berpihak.

IMF Soroti Kelas Menengah Makin Hilang

IMF atau Dana Moneter Internasional juga menyoroti posisi kelas menengah Indonesia.

Dalam kajian tentang dinamika pendapatan Indonesia, IMF menyebut kelas menengah penting sebagai motor pertumbuhan menuju visi Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045. Namun kelompok ini masih sempit, kurang dari 20 persen populasi, dan rentan karena daya beli melemah serta dinamika pasar kerja yang kurang menguntungkan.

Masalahnya bukan hanya konsumsi.

Kelas menengah adalah penopang ekonomi. Mereka membeli rumah, kendaraan, pendidikan, produk keuangan, asuransi, teknologi, dan kebutuhan rumah tangga.

Jika kelompok ini melemah, dampaknya bisa melebar.

Konsumsi rumah tangga tertahan. Tabungan menipis. Investasi pribadi turun. Kepemilikan rumah makin sulit. Mobilitas sosial melambat.

Baca Juga: Kenapa Teman Bisa Pengaruhi Kondisi Keuangan?

Pekerjaan Formal Tidak Seaman Dulu

Dulu, pekerjaan formal sering dianggap tangga naik kelas.

Masuk perusahaan, punya gaji tetap, naik jabatan, beli rumah, menyekolahkan anak, lalu pensiun dengan tenang.

Namun pola itu makin sulit.

Banyak pekerjaan kini berbasis kontrak, proyek, freelance, outsourcing, atau ekonomi gig. Pendapatan bisa ada, tetapi jaminan sosial dan kepastian karier tidak selalu kuat.

Bank Dunia mencatat Indonesia masih menghadapi tantangan besar untuk menciptakan pekerjaan produktif dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar bisa mencapai ambisi menjadi negara berpendapatan tinggi pada 2045. Laporan Bank Dunia tentang pekerjaan kelas menengah di Indonesia juga menyoroti banyak pekerja yang masih berada di posisi rentan dan belum masuk pekerjaan kelas menengah yang stabil.

Di sinilah kelas menengah makin hilang.

Kelas menengah makin hilang, lantaran di era ini kerja keras saja tidak selalu cukup jika struktur pekerjaan tidak memberi keamanan.

Kenapa Teori Konspirasi Terasa Masuk Akal?

Karena banyak orang merasakannya langsung.

Mereka bekerja, tetapi tetap sulit menabung. Mereka punya gaji, tetapi tetap takut akhir bulan. Mereka terlihat mampu, tetapi tidak punya dana darurat cukup.

Rumah makin mahal. Pendidikan makin mahal. Kesehatan makin mahal.

Sementara itu, utang konsumtif semakin mudah diakses. Paylater, kartu kredit, cicilan cepat, pinjaman online, semuanya hadir sebagai “solusi” ketika pendapatan tidak cukup mengejar gaya hidup dan kebutuhan.

Di sisi lain, solusi itu sering berubah menjadi beban baru.

Di titik ini, orang mudah merasa sistem memang dirancang untuk membuat kelas menengah tetap lemah.

Masalahnya Struktural, Bukan Sekadar Rahasia Gelap

Namun, menyebut semua ini sebagai konspirasi bisa menyesatkan.

Masalah kelas menengah makin hilang lebih tepat dibaca sebagai gabungan banyak faktor.

Pertumbuhan upah terbatas. Pekerjaan formal tidak cukup banyak. Harga aset naik. Biaya hidup meningkat. Akses pendidikan dan kesehatan tidak selalu murah. Produktivitas ekonomi belum cukup kuat menciptakan pekerjaan bernilai tambah tinggi.

Jadi, bukan berarti ada satu kelompok rahasia yang menekan tombol untuk menghapus kelas menengah.

Yang terjadi lebih rumit.

Sistem ekonomi membuat biaya hidup naik lebih cepat daripada kemampuan banyak orang untuk memperkuat diri.

Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Nasihat Hemat

Kelas menengah memang perlu mengatur uang lebih baik.

Namun masalah ini tidak bisa dijawab hanya dengan “kurangi kopi” atau “jangan nongkrong”.

Akar masalahnya lebih dalam.

Dibutuhkan pekerjaan formal bergaji layak, pendidikan yang sesuai kebutuhan industri, perumahan lebih terjangkau, perlindungan pekerja rentan, biaya kesehatan yang terkendali, dan sistem pajak yang lebih adil.

Tanpa itu, kelas menengah akan terus hidup dalam tekanan.

Bukan miskin, tetapi tidak aman. Bukan kaya, tetapi terus dituntut membayar banyak hal.

Jadi, istilah “kelas menengah makin hilang” mungkin terlalu jauh.

Namun keresahan di balik istilah itu sangat nyata, yakni kelas menengah sedang kehilangan rasa aman, dan prosesnya terjadi pelan-pelan. (Sol)

Artikel Menarik Lainnya