FinanSaya.com – Euforia artificial intelligence masih menjadi tema besar di pasar global. Saham teknologi, chip, data center, cloud, dan perusahaan yang membawa narasi AI terus mendapat perhatian investor. Di tengah arus besar itu, pertanyaan kapan bubble AI pecah mulai muncul karena valuasi beberapa perusahaan sudah bergerak sangat tinggi.
Untuk diketahui, Bubble adalah kondisi ketika harga aset atau saham naik terlalu jauh karena ekspektasi berlebihan. Harga tidak lagi sepenuhnya ditopang pendapatan, laba, atau prospek bisnis yang nyata.
Menjawab pertanyaan tersebut, tim FinanSaya memanfaatkan ChatGPT untuk memberikan prediksi kapan bubble AI pecah. Berikut jawabannya:
Bubble AI Belum Terlihat Pecah Sekarang
Berdasarkan sejumlah indikator, bubble AI belum terlihat akan pecah dalam waktu dekat.
Alasannya, belanja infrastruktur AI masih terus berjalan besar. Goldman Sachs Research memperkirakan belanja modal tahunan untuk pembangunan AI bisa mencapai US$765 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi US$1,6 triliun pada 2031 dalam skenario dasar.
Angka ini menunjukkan pembangunan data center, pembelian chip, jaringan, dan infrastruktur komputasi AI masih berada dalam fase ekspansi besar.
Karena itu, jawaban atas pertanyaan kapan bubble AI pecah belum mengarah ke saat ini. Pasar masih melihat permintaan nyata, terutama dari perusahaan teknologi besar.
Kapan Bubble AI Pecah Beda dengan Dot-Com
Gelombang AI berbeda dari bubble dot-com akhir 1990-an.
Saat itu, banyak perusahaan internet belum punya arus kas kuat. Dalam siklus AI sekarang, ekspansi banyak digerakkan perusahaan raksasa seperti Microsoft, Alphabet, Meta, Amazon, dan Nvidia.
Nvidia masih mencatat kinerja keuangan kuat. Perusahaan melaporkan pendapatan kuartal pertama tahun fiskal 2027 sebesar US$81,6 miliar, naik 85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ini menunjukkan permintaan chip AI masih tinggi. Namun, pertanyaan kapan bubble AI pecah tetap relevan karena harga saham tidak hanya bergerak berdasarkan kondisi hari ini, tetapi juga ekspektasi laba masa depan.
Masalah Utama Ada di Belanja Jumbo
Risiko terbesar AI bukan pada apakah teknologinya berguna.
Risiko utamanya adalah apakah pendapatan dan laba AI bisa tumbuh cukup cepat untuk membenarkan belanja modal yang sangat besar.
Gartner memperkirakan belanja AI global mencapai US$2,59 triliun pada 2026, naik 47 persen secara tahunan. Namun, Gartner juga mencatat belanja itu masih didominasi vendor teknologi dan hyperscaler.
Sementara itu, perusahaan pengguna akhir belum sepenuhnya menunjukkan kekuatan belanja yang sama.
Di sinilah pertanyaan kapan bubble AI pecah menjadi lebih serius. Jika belanja besar terlalu lama hanya berputar di antara perusahaan teknologi besar, pasar dapat mulai meragukan daya tahan valuasi AI.
Dampak Finansial AI Belum Merata
McKinsey dalam laporan The State of AI 2025 menunjukkan adanya jarak antara penggunaan AI dan dampak finansial di perusahaan.
Banyak responden melaporkan manfaat AI pada level use case, seperti efisiensi biaya dan kenaikan pendapatan. Namun, hanya 39 persen responden yang melaporkan dampak AI terhadap EBIT atau laba operasional di tingkat perusahaan secara keseluruhan.
Artinya, AI memang mulai memberi manfaat. Namun, belum semua perusahaan mampu mengubah penggunaan AI menjadi keuntungan finansial besar dan terukur.
Jika investor menuntut hasil lebih cepat, pertanyaan kapan bubble AI pecah bisa berubah dari sekadar kekhawatiran menjadi tekanan nyata di pasar.
Baca Juga: Michael Burry Sebut Saham AI Mulai Berbahaya
Tekanan Belanja Terlihat di Big Tech
Belanja modal perusahaan besar menunjukkan skala taruhan AI.
Alphabet menyebut belanja modal kuartal pertama 2026 mencapai US$35,7 miliar, dengan mayoritas digunakan untuk infrastruktur teknis guna mendukung peluang AI.
Meta memperkirakan belanja modal 2026, termasuk pembayaran pokok sewa pembiayaan, berada pada kisaran US$125 miliar hingga US$145 miliar. Kenaikan itu terutama terkait harga komponen dan kebutuhan tambahan data center.
Microsoft juga menyatakan biaya operasional meningkat karena investasi berkelanjutan pada kapasitas komputasi riset dan pengembangan, talenta AI, serta data.
Dengan angka sebesar itu, pasar akan terus bertanya kapan bubble AI pecah jika pengembalian dari belanja AI tidak terlihat cukup jelas.
2026 Bisa Jadi Fase Seleksi Awal
Periode 2026 bisa menjadi fase seleksi awal.
Investor kemungkinan mulai membedakan perusahaan yang benar-benar menghasilkan pendapatan dari AI dengan perusahaan yang hanya memakai narasi AI. Saham AI lapis kedua, startup AI dengan valuasi terlalu tinggi, dan perusahaan yang sekadar menempelkan label AI bisa terkena tekanan lebih dulu.
Dalam fase ini, kapan bubble AI pecah tidak harus berarti seluruh sektor AI runtuh sekaligus. Koreksi bisa dimulai dari perusahaan yang pendapatannya belum jelas, margin tertekan, atau model bisnisnya belum terbukti.
Perusahaan besar dengan kas kuat mungkin lebih tahan. Namun, valuasi tinggi tetap membuat mereka tidak sepenuhnya bebas risiko.
2027 Bisa Jadi Titik Rawan Lebih Besar
Tahun 2027 dapat menjadi titik rawan yang lebih besar.
Bubble AI berpotensi pecah jika pertumbuhan pendapatan AI melambat, belanja modal hyperscaler dipangkas, margin perusahaan teknologi tertekan, atau investor mulai meragukan tingkat pengembalian investasi AI.
Jika kondisi itu terjadi, jawaban atas kapan bubble AI pecah bisa mengarah ke periode 2026-2027, bukan karena teknologi AI gagal, tetapi karena harga saham sudah terlalu mahal dibanding hasil bisnisnya.
Pasar biasanya tidak menunggu semua data buruk muncul. Ekspektasi saja cukup untuk memicu koreksi jika investor merasa valuasi sudah tidak masuk akal.
AI Bisa Tetap Besar Setelah Koreksi
Pecahnya bubble AI tidak berarti AI akan gagal.
Internet tetap berkembang setelah bubble dot-com pecah. Namun, banyak saham internet saat itu jatuh tajam karena valuasinya terlalu tinggi dan model bisnisnya belum kuat.
Hal serupa bisa terjadi pada AI. Teknologinya tetap revolusioner, tetapi tidak semua perusahaan yang membawa label AI layak dihargai sangat mahal.
Karena itu, pertanyaan kapan bubble AI pecah sebaiknya tidak dibaca sebagai pertanyaan apakah AI berguna atau tidak. Yang lebih tepat: kapan pasar mulai menuntut bukti laba yang sepadan dengan valuasi dan belanja modal. (Sol)




